[Kanal Media Unpad] Penting bagi seseorang untuk memahami algoritma atau alur yang praktis dan rasional dalam mengelola demam akut di layanan primer. Pengelolaan ini merupakan hal penting karena ada potensi sakit berat dan fatal, bahkan ada potensi menimbulkan wabah. Diagnosis yang tepat akan memberikan pengelolaan yang tepat untuk mengobatinya.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Prof. Bachti Alisjahbana, dr., SpPD-KPTI, Ph.D., dalam diskusi “Satu Jam Berbincang Ilmu” yang diselenggarakan Dewan Profesor Unpad secara daring pada Sabtu, 12 Oktober 2024. Diskusi tersebut dimoderatori oleh Guru Besar FK Unpad, Prof. Dr. Meita Dhamayanti, dr., Sp.A(K), M.Kes.
“Algoritma (dalam pengelolaan demam akut) diperlukan untuk mendeteksi dini penyakit yang potensial berat dan fatal, melakukan pengelolaan dan rujukan yang tepat, mencegah pemberian antibiotika yang berlebihan, serta memanfaatkan alat diagonistik tambahan yang khusus secara efisien dan terarah,” ujar Prof. Bachti.
Di negara tropis, termasuknya Indonesia, demam akut sering kali disebabkan oleh bakteri, virus, atau parasit. Kondisi ini dapat bervariasi dari ringan hingga berat, dan berpotensi mengancam jiwa. Terdapat beberapa penyakit yang termasuk demam akut, yaitu demam dengue, demam tifoid, infeksi bakteri umum, malaria, Covis-19, flu, dan common cold.
“Diagnosis dan pengelolaan yang tepat penting untuk dilakukan karena potensi sakit berat dan fatal, potensi wabah, serta pemberian terapi yang tepat sesuai penyakitnya,” papar Prof. Bahcti.
Sebagai pemeriksaan awal, menanyakan keluhan utama serta riwayat penyakit kepada pasien perlu untuk dilakukan. Langkah selanjutnya adalah melakukan pemeriksaan dan pengelolaan, seperti hitung darah rutin (hemoglobin, leucocyte, trombosit, dan jenis darah putih) dan tanda radang (C-Reactive Protein atau CRP).
Lebih lanjut, pemeriksaan khusus kemudian dilakukan berdasarkan durasi demam yang dialami pasien. Jika demam berlangsung kurang dari 5 hari, pemeriksaan antigen untuk malaria, demam berdarah, atau COVID-19 dengan PCR akan dilakukan. Sementara itu, jika demam berlangsung lebih dari 5 hari, pemeriksaan kultur dan tes IGM untuk leptospirosis serta tifus menjadi penting sebelum memberikan antibiotik.
“Kami berusaha untuk menciptakan algoritma yang dapat digunakan oleh semua sistem kesehatan, tanpa memerlukan teknologi canggih. Meskipun prosesnya bisa dilakukan secara manual dengan bilik hitung, kami memastikan bahwa hasilnya tetap cepat dan efektif,” ujar Prof. Bahcti.*


