[Kanal Media Unpad] Kontrol kualitas dan kontrol biaya menjadi hal penting agar standarisasi layanan dan fasilitas kesehatan di Indonesia berjalan dengan baik. Untuk itu antara lain dibutuhkan obat-obatan dengan harga yang lebih terjangkau untuk mendukung cakupan layanan yang lebih luas. Para peneliti diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam menemukan obat-obatan dengan harga terjangkau, terutama untuk penyakit kanker.
Hal tersebut disampaikan Direktur Utama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, Prof. dr. Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D., AAK., yang hadir sebagai keynote speakers dalam acara The 6th Internasional Seminar on Pharmaceutical Sciences and Technology (ISPT) and 15th ISCC Annual Meeting 2024 bertema “Pharmaceutical Science Innovaton on Cancer Healtcare Technology” yang digelar di Bale Sawala, Gedung Rektorat Universitas Padjadjaran, Jatinangor, pada 30-31 Oktober 2024.
“Harapan kami, ada banyak tersedia obat-obat yang cost effective sehingga BPJS Kesehatan bisa memberikan pelayanan yang lebih baik lagi. BPJS Kesehatan terus berupaya untuk melakukan transformasi kualitas, yaitu dengan memberikan pelayanan kesehatan yang lebih mudah, lebih cepat, dan yang paling penting adalah pelayanan kesehatan tanpa diskriminasi,” ujar Prof. Ghufron.
Dekan Fakultas Farmasi Unpad, Prof. Dr. apt. Ajeng Diantini, M.Si., mengatakan, obat-obatan berkualitas baik dengan harga terjangkau memang diperlukan untuk mendukung layanan BPJS Kesehatan agar bisa memberikan fasilitas pengobatan yang lebih luas lagi.
“Penyakit itu macam-macam, dari yang biayanya ringan sampai yang pengobatan mahal seperti kanker. Tidak semua obat bisa di cover, hanya yang cost effective saja dalam arti memiliki efektivitas yang baik, efek samping rendah dan harga terjangkau. Itu yang diupayakan oleh semua yang terlibat dalam penyediaan obat baik indsutri farmasi dan para peneliti,” ujar Prof. Ajeng Diantini.
Sementara ketua panitia seminar ini yang juga Guru Besar Fakultas Farmasi Unpad Prof. apt. Muchtaridi, Ph.D., mengatakan, topik ISPST ke-6 kali ini mengangkat isu inovasi ilmu farmasi dalam teknologi pelayanan kesehatan kanker termasuk penemuan dan pengembangan obat serta alat diagnosa kanker.
“Universitas Padjadjaran sangat peduli terhadap penyakit kanker, salah satu bukti nyata kepeduliannya, Universitas Padjadjaran berinisiatif mendirikan rumah sakit kanker dan akan segera hadir di Bandung,” ujar Prof. Muchtaridi.
Prof. Muchtaridi memaparkan, ISPST ke-6 dan ISCC ke-15 ini melibatkan 19 Pembicara termasuk 9 pembicara utama, dan 18 pembicara undangan dari 7 negara, Jepang, Korea Selatan, Australia, Malaysia, Thailand, Yordania, dan juga Indonesia.
Aplikasi Mobile JKN
Prof. Ghufron menambahkan, dalam 10 tahun terakhir melalui transformasi kualitas yang dilakukan oleh BPJS Kesehatan berhasil membawa Indonesia menjadi salah satu negara yang mencapai cakupan kesehatan universal tercepat di dunia hingga mendapatkan penghargaan Universal Health Coverage Award dari International Social Security Association (ISSA).
Untuk mencapai hal tersebut tentu banyak hal yang perlu diperhatikan, salah satunya adalah mempersiapkan catastrophic financing bagi beberapa penyakit dengan pembiayaan yang sangat besar, salah satunya adalah kanker. Oleh karena itu, sangat diperlukan intervensi dalam produksi obat untuk kanker serta mengelola catastrophic illnesses dengan mengoptimalkan kompetensi penyedia layanan kesehatan, standarisasi layanan kesehatan, dan melakukan promosi kesehatan sebagai upaya pencegahan.
“Semua dapat mengakses pemeriksaan riwayat kesehatan hanya dengan menjawab 47 pertanyaan di aplikasi Mobile JKN yang dikembangkan oleh BPJS. Jika pasien berisiko terkena kanker, secara otomatis pasien disarankan memeriksa IVA di fasilitas kesehatan primer. Jika positif, mereka akan diberikan perawatan dengan prosedur yang benar untuk merawat pasien kanker,” jelas Prof. Ghufron.
Inovasi lainnya dari aplikasi Mobile JKN adalah fitur “BUGAR” yang berfungsi untuk mencatat dan merekam vitalitas tubuh, seperti detak jantung, tekanan darah, pengeluaran energi, jumlah langkah, waktu tidur, dan sebagainya. Intervensi lainnya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan adalah fitur yang menghubungkan dokter di berbagai tempat dapat mengetahui kondisi kesehatan pasien.
Pada kesempatan ini, Prof. Ghufron menyampaikan harapannya agar standarisasi layanan dan fasilitas kesehatan di Indonesia dilakukan dengan mempertimbangkan kontrol kualitas dan kontrol biaya. Tidak hanya itu, memetakan area prioritas untuk mengembangkan fasilitas layanan kanker dan sumber daya manusia juga perlu dilakukan.
“Memetakan area prioritas untuk mengembangkan fasilitas layanan kanker dan sumber daya manusia, terutama pembangunan kapasitas untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia dalam perawatan kanker, obat-obatan, dan apotek sangat penting, serta distribusi yang merata untuk layanan di seluruh negeri. Kemudian, memperkuat layanan kesehatan primer sebagai pemantau pasien sehingga perawatan dapat mengurangi perburukan penyakit,” jelasnya.
Kegiatan seminar ini dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi Prof. Dr. Ir. Hendarmawan, M.Sc. Tampil sebagai pembicara dalam seminar ini antara lain Direktur Riset dan dan Pengabdian pada Masyarakat Unpad Prof. Rizky Abdulah, S.Si., Apt., PhD., dosen Fakultas Farmasi apt. Holis Abdul Holik, M.Si., Ph.D., dan apt. Arif Budiman, M.Si., Ph.D., Chiba Cancer Center Research Institute Prof. Yoshitaka Hippo, College of Pharmacy Chung-Ang University Prof. Kyung Taek Oh, Ph.D., serta College of Bioengineering Chongqing University Prof. Vivi Kasim, Ph.D.*








