Ini Paparan Singkat Bidang Ilmu Delapan Guru Besar Baru Unpad

Delapan Guru Besar baru Universitas Padjadjaran memaparkan secara singkat bidang ilmu masing-masing saat menerima SK Mendikbukristek di Executive Lounge Gedung Rektorat Unpad Jatinangor, Senin 4 November 2024 (Foto oleh: Dadan Triawan)*

[Kanal Media Unpad] Rektor Universitas Padjadjaran, Prof. Arief S. Kartasasmita, menyerahkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia tentang Kenaikan Jabatan Akademik/Fungsional Dosen kepada delapan Guru Besar baru Unpad. Penyerahan SK dilakukan di Ruang Executive Lounge, Gedung Rektorat Unpad, Jatinangor, Senin 4 November 2024 kemarin.

Pada kesempatan itu, kedelapan Guru Besar tersebut menyampaikan paparan singkat mengenai bidang keilmuan yang mereka geluti di hadapan pimpinan universitas dan fakultas. Berikut ringkasannya:

Prof. Yanny Trisyani Wahyuningsih, S.Kp., M.N., Ph.D. dari Fakultas Keperawatan (Bidang Ilmu Keperawatan Gawat Darurat)

Penelitian Prof. Yanny Trisyani berfokus pada layanan Keperawatan Gawat Darurat yang ditujukan untuk individu, keluarga, dan masyarakat dengan kondisi kesehatan akut atau kritis. Prof. Yanny menekankan pentingnya peran keperawatan ini sebagai garda terdepan dalam situasi mendesak. Selain itu, Prof. Yanny berharap agar Fkep Unpad dapat terus mendukung pengembangan pendidikan khusus di bidang ini untuk memenuhi kebutuhan tenaga keperawatan yang terampil.

Prof. Yanny juga aktif dalam riset kesiapsiagaan bencana, terutama di daerah seperti Ciamis. Program pengabdian masyarakat yang dimulai pada tahun 2021 bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam merespons kondisi darurat, sehingga dapat menciptakan masyarakat yang lebih tanggap dan siap menghadapi situasi kritis.

Prof. Dr. Drs. Bambang Hermanto, M.Si. dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Bidang Ilmu Administrasi Bisnis Pariwisata)

Prof. Bambang menegaskan bahwa administrasi bisnis sebagai disiplin ilmu terus beradaptasi dengan kebutuhan industri, terutama sektor pariwisata yang kini menjadi pilar utama pertumbuhan. Awalnya, fokus kajian administrasi bisnis terletak pada produksi, sumber daya manusia, keuangan, dan pemasaran, namun seiring berjalannya waktu, perhatian bergeser ke sektor jasa, dengan bisnis pariwisata sebagai salah satu fokus utama.

Prof. Bambang menambahkan bahwa penyiapan sumber daya manusia pada awalnya terbatas pada pelatihan pegawai pemerintah, namun kini telah berkembang menjadi pendidikan tinggi yang lebih formal di bidang perhotelan dan pariwisata. Prof. Bambang mengatakan bahwa pengembangan kajian bisnis pariwisata di lingkungan akademik akan memberikan manfaat luas bagi masyarakat, terutama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sejalan dengan visi universitas untuk menjadi kontributor utama dalam kemajuan industri pariwisata di Indonesia.

Prof. Dr. Dra. Titin Herawati, M.Si.  dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (Bidang Ilmu Pencemaran dan Ekotoksikologi Pesisir)

Prof. Titin dan tim telah melakukan penelitian mendalam mengenai mikroplastik di laut dalam, dengan fokus pada sebaran mikroplastik dan dampaknya terhadap ekosistem laut serta lingkungan manusia. Metode yang digunakan mencakup pengukuran ukuran dan warna mikroplastik dengan mikroskop cahaya, serta identifikasi jenis polimer menggunakan spektrofotometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perairan Laut Flores telah tercemar mikroplastik, baik di permukaan maupun di kedalaman 800 meter.

Penelitian ini juga mengungkap pola pergerakan mikroplastik di Laut Flores yang sangat dipengaruhi oleh arus lintas Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Prof. Titin menekankan pentingnya kolaborasi regional untuk mitigasi sampah laut di perairan Indonesia, yang terkena dampak arus dari Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, guna melindungi ekosistem laut dan mendorong kebijakan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Prof. Dra. Laili Rahayuwati, M.Kes., M.Sc., Dr.PH. dari Fakultas Keperawatan (Bidang Ilmu Perilaku dan Promosi Kesehatan dalam Keperawatan Komunitas)

Prof. Laili menyampaikan mengenai pentingnya pendekatan preventif dan promotif dalam pelayanan kesehatan, yang berfokus pada menjaga kesehatan masyarakat sejak dini, mulai dari masa kanak-kanak hingga lanjut usia. Pendekatan ini melibatkan tindakan preventif untuk mencegah penyakit dan tindakan promotif untuk meningkatkan kualitas kesehatan secara proaktif, di mana tenaga kesehatan sebaiknya mendatangi masyarakat ketika mereka sehat, bukan hanya saat sakit.

Lebih lanjut, Prof. Laili menjelaskan bahwa banyak masyarakat baru mengakses layanan kesehatan saat sudah mengalami masalah kesehatan. Menurut studi dari negara maju, investasi pada tindakan preventif dan promotif lebih besar dan lebih efektif dalam meningkatkan harapan hidup serta kualitas hidup dibandingkan dengan biaya pengobatan. Prof. Laili menyoroti tantangan yang dihadapi, seperti akses layanan yang tidak merata dan misinformasi kesehatan, serta pentingnya komitmen dari pemangku kepentingan untuk mencapai tujuan kesehatan yang lebih baik dan meningkatkan kesejahteraan negara.

Prof. Dr. Ir. H. Iman Hernaman, M.Si. dari Fakultas Peternakan (Bidang Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan/Teknologi Pangan Ruminansia)

Prof. Iman membahas pentingnya teknologi pengelolaan pakan ternak dalam menghadapi tantangan pertumbuhan populasi dan kebutuhan pangan yang meningkat. Pengelolaan akan ternak memerlukan pendekatan yang inovatif, terutama dalam memanfaatkan limbah pertanian dan proses pengolahan pakan. Dalam hal ini, penggunaan mikroba dan proses fermentasi menjadi fokus utama, di mana mikroba dapat mengubah limbah pertanian menjadi pakan berkualitas tinggi yang dapat meningkatkan produktivitas ternak.

Prof. Iman juga telah mengembangkan teknologi yang mampu menguji kualitas pakan dalam waktu singkat, hanya 10 menit, untuk membantu peternak membuat keputusan cepat. Selain itu, Prof. Iman menyoroti upaya untuk mengubah limbah kelapa sawit menjadi arang aktif sebagai solusi untuk masalah lingkungan, yang dapat digunakan dalam pengolahan pangan. Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, beliau berharap dapat terus mengembangkan inovasi dalam pengelolaan pakan ternak untuk meningkatkan kesejahteraan peternak dan keberlanjutan industri pertanian.

Prof. Dr. drg. Dudi Aripin, Sp.KG(K). dari Fakultas Kedokteran Gigi (Bidang Ilmu Kariologi dan Ilmu Dasar Konservasi Gigi)

Prof. Dudi menyampaikan bahwa karies, penyakit multifaktorial yang menyerang struktur gigi seperti enamel, dentin, dan semen, masih menjadi masalah kesehatan yang besar di Indonesia. Untuk mewujudkan Indonesia bebas karies di tahun 2030, sesuai dengan target Kementerian Kesehatan RI, Prof. Dudi telah dan akan melakukan dua penelitian. Pertama, penelitian dasar terkait faktor risiko karies di Indonesia, yang mencakup kajian genetik, biomarker imunologis (seperti SCD-14 dan R6), analisis mikrobiota oral, serta faktor lingkungan dan sosial. Kedua, pengembangan material restorasi gigi antikaries berbasis komposit yang mengandung bahan-bahan antibakteri. Bahan ini diharapkan dapat mencegah terjadinya karies sekunder setelah gigi berlubang direstorasi.

Prof. Dudi dan tim juga telah mengembangkan beberapa inovasi, termasuk produk obat kumur antibakteri berbasis ekstrak jeruk nipis yang saat ini sedang dalam proses paten. Selain itu, aplikasi berbasis Android dan aplikasi augmented reality (AR) telah dikembangkan sebagai untuk promotif dan preventif dari kesehatan gigi, khususnya bagi anak-anak dan ibu hamil. Inisiatif ini diharapkan dapat mendukung pencapaian target Indonesia bebas karies pada tahun 2030.

Prof. Mutakin, M.Si., Apt., Ph.D. dari Fakultas Farmasi (Bidang Ilmu Analisis Farmasi dan Makanan)

Prof. Mutakin menjelaskan bahwa penelitian yang dilakukan berfokus pada melainkan pada terapi non-farmakologis dengan menganalisis bahan makanan spesifik dari daerah tropis yang dapat digunakan untuk intervensi non-farmakologis. Contohnya, Prof. Mutakin meneliti buah-buahan tropis yang kaya natrium dan kalium, di mana kalium yang lebih tinggi dapat dimanfaatkan untuk hipertensi.

Selain itu, Prof. Mutakin juga meneliti makanan yang mengandung selenium untuk menurunkan biomarker yang dapat menunjukkan risiko penyakit, khususnya pada individu yang belum mengalami gejala. Analisis kalium dalam makanan tropis menjadi fokus penelitiannya, yang membedakannya dari peneliti di daerah subtropis.

Prof. Dr. drg. Agus Susanto, M.Kes., Sp.Perio.(K). dari Fakultas Kedokteran Gigi (Bidang Ilmu Rekonstruksi dan Regeneratif Periodontal)

Prof. Agus menjelaskan bahwa prevalensi penyakit periodontal di dunia, termasuk Indonesia, masih cukup tinggi. Berdasarkan survei tahun 2018, penyakit ini menempati urutan kedua setelah karies. Penyakit periodontal dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan di sekitarnya, baik jaringan lunak maupun keras, sehingga diperlukan terapi regeneratif yang dapat membantu tubuh membentuk jaringan baru yang sesuai dengan jaringan asli.

Dalam penelitian yang dilakukan sejak tahun 2019 hingga 2021, Prof. Agus mengembangkan suatu bahan baru yang digunakan untuk terapi regeneratif, yaitu bagian membran yang sering digunakan dengan penggunaan bone graft (cangkok tulang). Prof. Agus memaparkan bahwa bahan ini telah melalui pengujian secara in vitro dan in vivo serta berbagai pengembangan untuk mendapatkan produk yang siap direalisasikan dan dikomersialkan. Saat ini, penelitian masih berlangsung dengan fokus pada penelitian in vivo, dan diharapkan agar ke depannya, bahan baru ini dapat dikomersialkan untuk kepentingan medis.*

Share this: