[Kanal Media Unpad] Dalam rangka memperkuat kolaborasi global untuk pertanian perkotaan berbasis warisan budaya yang tahan iklim, Center for Environment and Sustainability Science (CESS) Universitas Padjadjaran mengunjungi markas besar Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) di Roma, Italia, pada 25-26 November 2024. Kunjungan ini merupakan bagian dari Integrated Study on Urban Agriculture Heritage (INSUAH), sebuah inisiatif internasional yang bertujuan mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal ke dalam praktik pertanian perkotaan yang berkelanjutan untuk menghadapi tantangan perubahan iklim.
Pada kesempatan ini, Kepala CESS Unpad, Dr. Gemilang Lara Utama, S.Pt., M.I.L., bersama peneliti senior Prof. Oekan S. Abdoellah, Ph.D., mempresentasikan hasil penelitian mereka mengenai peran warisan budaya dalam menciptakan sistem pertanian perkotaan yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan lingkungan global berdasarkan studi kasus di Kota Bandung. Selain itu, juga menyajikan berbagai temuan terkait bagaimana warisan budaya tercermin dalam setiap tipologi pertanian perkotaan yang diatur dalam FAO Urban and Peri-urban Agriculture Sourcebook.
Tim INSUAH yang terdiri dari pakar internasional seperti Prof. Frank Lohrberg dan Katharina Christenn, M.A. dari Aachen University (Jerman), Akiko Iida, Ph.D. dari University of Tokyo (Jepang), Luciana Itikawa, Ph.D. dari Sao Paolo University (Brazil), serta Prof. Jorge Pena Diaz dari Technical University of Havana (Cuba), mengadakan diskusi dengan Food and Agriculture Organization (FAO).
Pada hari pertama, Tim INSUAH diterima oleh Divisi Produksi dan Perlindungan Tanaman FAO yang dipimpin oleh Dr. Guido Santini, yang juga menghadirkan beberapa inisiatif global seperti World Agriculture Watch dan Green Cities Initiatives. Sedangkan pada hari kedua, pembahasan lebih mendalam dilakukan bersama Departemen Perubahan Iklim FAO, yang diwakili oleh Koordinator Program Globally Important Agricultural Heritage Systems (GIAHS), Clelia Maria Puzzo.
Dalam diskusi ini, Tim INSUAH berfokus pada peran kearifan lokal dan nilai-nilai budaya dalam membangun ketahanan pangan di kawasan perkotaan. Salah satu sorotan utama adalah praktik pertanian berbasis warisan budaya di Kota Bandung, Indonesia. Filosofi “Ngindung Ka Waktu, Mibapa Ka Jaman” menjadi contoh inspiratif bagaimana konservasi yang dinamis dapat mengintegrasikan tradisi dengan inovasi. Pendekatan ini menempatkan warisan budaya sebagai fondasi untuk pengembangan pertanian perkotaan melalui kebijakan adaptif dan kolaboratif, yang mempermudah masyarakat lokal menerima inovasi sembari melestarikan tradisi mereka.
Selain itu, diskusi juga membahas mengenai revitalisasi praktik pertanian perkotaan yang dapat diimplementasikan melalui sistem agroforestri di lingkungan perkotaan. Sistem ini menekankan pentingnya keanekaragaman jenis tanaman dalam ruang pekarangan yang terbatas. Dengan memanfaatkan berbagai pepohonan dan tanaman, pendekatan ini meningkatkan ketahanan petani melalui diversifikasi pendapatan, manfaat ekosistem, dan fungsi sosio-kultural.
Pendekatan-pendekatan tersebut sejalan dengan inisiatif FAO untuk memperkuat ketahanan pangan melalui pendekatan inklusif yang menghubungkan interaksi antara kawasan perdesaan dan perkotaan, serta program penghijauan perkotaan. Dalam konteks global, pendekatan INSUAH diharapkan menjadi model adaptif untuk mengatasi tekanan akibat urbanisasi dan perubahan iklim, sekaligus mendorong pembangunan pertanian perkotaan yang berkelanjutan.
Kunjungan yang dilakukan oleh CESS Unpad menjadi bukti nyata dari komitmen Universitas Padjadjaran dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan berbasis kearifan lokal yang dapat memberikan dampak positif secara global. Melalui kolaborasi dengan FAO dan mitra internasional, Unpad terus berperan aktif dalam menciptakan solusi inovatif untuk ketahanan pangan perkotaan yang adaptif terhadap perubahan iklim, sekaligus mempromosikan nilai-nilai budaya Indonesia dalam tingkat internasional. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat relevansi akademik Unpad, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan secara berkelanjutan.* (Rilis CESS Unpad)



