[Kanal Media Unpad] Universitas Padjadjaran turut mengambil bagian dalam kerja sama antara India dan Indonesia di sektor pengobatan herbal melalui forum Round Table on India-Indonesia Cooperation on Ayush and Jamu. Kegiatan yang dilaksanakan di New Delhi India ini menyoroti pentingnya pengelolaan sumber daya hayati yang berkelanjutan dan integrasi ilmu modern dengan pengobatan tradisional.
Prof. Dr. Eng. I Made Joni, M.Sc., Ketua India-Indonesia Bioresources Consortium (IIBC) sekaligus Ketua Finder Unpad, mengungkapkan bahwa perlu adanya jembatan antara praktik pengobatan tradisional dan pendekatan ilmiah modern. Meskipun begitu, diperlokan regilasi yang membedakan antara pengobatan tradisional dan modern.
“Di Indonesia, terdapat perbedaan antara pengobatan tradisional dan modern. Ketika pengobatan tradisional mengklaim dapat menyembuhkan suatu penyakit, pengobatan tersebut harus melewati proses persetujuan modern seperti uji klinis. Hal ini membuat sulit untuk menentukan batas yang jelas antara kedua sistem tersebut,” jelas Prof. Made.
Jamu dan Ayurveda: Warisan dengan Potensi Global
Dalam forum tersebut, Prof. Dr. Ni Luh Watiniasih, Kepala Departemen Konservasi Keanekaragaman Hayati IIBC, menyoroti keterkaitan erat antara Jamu dan Ayurveda. Prof. Watiniasih menegaskan bahwa penelitian mendalam diperlukan untuk mengoptimalkan manfaat tanaman obat dari kedua negara.
“Di Bali, kita memiliki Usada Bali yang mirip dengan Ayurveda. Namun, sistem ini belum terdokumentasi secara modern dan masih bergantung pada manuskrip lontar,” ujarnya.
Nanoteknologi dan Ilmu Material: Masa Depan Pengobatan Herbal
Salah satu inovasi utama yang dibahas dalam forum ini adalah peran nanoteknologi dalam meningkatkan efektivitas obat herbal. Prof. Dr. Eng. Camellia P, M.Si., Ketua IIBC, menjelaskan bagaimana teknologi ini dapat meningkatkan stabilitas dan bioavailabilitas senyawa aktif dalam Jamu dan Ayurveda.
“Dengan nanoteknologi dan sistem penghantaran lanjutan seperti liposom dan nanopartikel, kita dapat meningkatkan efektivitas obat herbal,” jelasnya.
Regulasi dan Masa Depan Industri Obat Herbal
dr. Lia Faridah, Ph.D., ahli dari Finder Universitas Padjadjaran, menyoroti pentingnya reformasi regulasi agar obat herbal dapat diakui sebagai bagian dari sistem kesehatan formal.
“Saat ini, Jamu belum diakui sebagai obat karena belum melewati uji klinis yang ketat. Namun, ada kemajuan, seperti produk berbasis kurkumin dan ekstrak jambu biji untuk demam berdarah yang telah lolos uji klinis,” jelasnya.
Forum ini menegaskan pentingnya sinergi antara Indonesia dan India dalam riset, inovasi, serta regulasi obat herbal agar dapat bersaing di pasar global. Dengan dukungan kebijakan, teknologi, dan riset berkelanjutan, Jamu dan Ayurveda berpotensi menjadi solusi kesehatan modern yang lebih luas diterima.
Dengan dukungan riset, inovasi teknologi seperti nanoteknologi, serta regulasi yang lebih adaptif, pengobatan tradisional seperti Jamu dan Ayurveda dapat semakin diakui dalam sistem kesehatan modern. Unpad sebagai salah satu institusi akademik terkemuka di Indonesia terus berperan aktif dalam penelitian dan pengembangan obat herbal. Ke depannya, kerja sama lintas negara ini diharapkan dapat membuka peluang lebih luas bagi pemanfaatan obat herbal secara global, menjadikan warisan leluhur sebagai solusi kesehatan yang lebih terintegrasi dan berbasis bukti ilmiah.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai India-Indonesia Bioresources Consortium (IIBC) dan inisiatif Finder Universitas Padjadjaran, kunjungi finder.ac.id.*






