Orasi Ilmiah Guru Besar dari FPIK, Fakultas Peternakan dan FISIP

Orasi Ilmiah berkenaan dengan Penerimaan Jabatan Guru Besar yang diselenggarakan di Graha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Jl. Dipati Ukur 35 Bandung pada Rabu 19 Februari 2025.(Foto oleh: Dadan Triawan/Grafis oleh: Krisna Eka Pratama)*

[Kanal Media Unpad] Sebanyak lima Guru Besar Universitas Padjadjaran menyampaikan orasi ilmiah berkenaan dengan Penerimaan Jabatan Guru Besar yang diselenggarakan di Graha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Jl. Dipati Ukur 35 Bandung pada Rabu, 19 Februari 2025.

Lima Guru Besar tersebut adalah Prof. Dr. Dra. Titin Herawati, M.Si., dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Prof. Dr. Ir. Iman Hernaman, M.Si., IPU., dan Prof. Dr. Ir. Rahmat Hidayat, S.Pt., M.Si., IPM., dari Fakultas Peternakan, serta Prof. Dr. Bambang Hermanto., dan Prof. Dr. Dr. Rahman Mulyawan., Drs., M.Si., dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Orasi ilmiah dapat disaksikan kembali di tautan YouTube ini: sesi pertama dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan serta Fakultas Peternakan dan sesi kedua Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Prof. Dr. Dra. Titin Herawati, M.Si.

Guru Besar Bidang Ilmu Pencemaran dan Ekotoksikologi Pesisir Prof. Titin Herawati menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul “Pencemaran Mikroplastik di Laut Flores”. Prof. Titin menyampaikan bahwa laut Flores sebagai penyumbang produksi ikan terbesar ke-2 di Indonesia tidak hanya memiliki potensi yang besar, tetapi juga menghadapi tantangan global terkait pencemaran laut yang terakumulasi dan menimbulkan ancaman terhadap kehidupan laut dan kesehatan manusia.

“Distribusi dan penyamaran mikroplastik di laut Flores sangat dipengaruhi oleh karakter oseanografi yang kompleks, seperti pergerakan dan besar arus, sirkulasi dan turbulensi yang dipengaruhi oleh arah dan besar angin sesuai dengan musimnya, sehingga mikroplastik yang tersebar terdistribusi secara luas,” ujar Prof. Titin.

Prof. Titin menjelaskan bahwa air permukaan dan sedimen dasar laut yang ada di laut Flores saat ini telah tercemar oleh mikroplastik yang bervariasi berdasarkan kelimpahan, bentuk, ukuran, dan warnanya. Oleh karena itu, lautan Indonesia yang terhubung antara Samudera Pasifik dan Samudera Indonesia membutuhkan pengamatan bersama yang dilakukan di tingkat regional melalui asesmen lingkungan, pengembangan kebijakan guna mitigasi, monitoring, serta evaluasi berkelanjutan mengenai kondisi pencemaran laut Flores dan perairan sekitarnya.

Prof. Dr. Ir. Iman Hernaman, M.Si., IPU.

Guru Besar Bidang Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan/Teknologi Pakan Ruminansia Prof. Iman Hernaman menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul “Deteksi Pemalsuan Dedak Padi dengan Smarthphone”.

Prof. Iman mengatakan bahwa tingginya kebutuhan dedak padi sebagai bahan pakan ternak yang tidak sesuai dengan ketersediaannya di pasar menjadi penyebab masifnya pemalsuan dedak padi. Dalam industri pakan, pakan yang terkontaminasi dapat dianggap tidak aman dan tidak sehat bagi ternak. Pada kasus ini, sekam padi paling banyak ditemukan karena jumlah yang sangat banyak, mempunyai tingkat kemiripan yang tinggi dengan dedak padi, dan secara umum tidak memiliki harga.

“Kasus yang ditemukan di lapangan menunjukkan penggunaan dedak padi yang dicampur dengan sekam padi pada sapi perah menyebabkan produksi susu, kesehatan, dan sistem reproduksinya terganggu. Hal ini akan mengganggu tingkat kepercayaan peternak terhadap produsen pakan dan produsen pakan juga dirugikan karena kualitas dedak padi tidak sesuai dengan harga yang dibayarkan,” kata Prof. Iman.

Lebih lanjut, untuk menanggulangi hal tersebut Prof. Iman menyampaikan bahwa campuran dedak padi dan sekam padi yang ditambah dengan larutan Phloroglucinol-HCL menghasilkan perubahan nilai piksel dari citra warna (RGB) yang signifikan. Perubahan warna merah yang terbaca oleh aplikasi pada smartphone dapat memprediksi jumlah sekam padi pada dedak padi. Hal tersebut merupakan solusi yang inovatif, cepat, tepat, dan hemat biaya untuk meningkatkan kualitas pakan dan melindungi kesehatan hewan dalam praktik peternakan.

Prof. Dr. Ir. Rahmat Hidayat, S.Pt., M.Si., IPM.

Guru Besar Bidang Ilmu Nutrisi Pertumbuhan Ternak Ruminansia Prof. Rahmat Hidayat menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul “Peran Suplemen dan Aditif Pakan dalam Meningkatkan Produktivitas Ternak Ruminansia yang Berwawasan Lingkungan”. Dalam pemaparannya, Prof. Rahmat mengatakan bahwa saat ini Indonesia mengalami defisit ternak ruminansia, sehingga memaksa untuk melakukan import pada komoditas tersebut.

“Perlu adanya upaya yang sistematis guna meningkatkan produktivitas ternak ruminansia, baik dari segi kebijakan maupun teknis peternakan. Namun, peningkatan produktivitas ternak tanpa memberikan pengaruh negatif terhadap lingkungan merupakan tantangan serius dalam menghasilkan produk ternak,” ungkap Prof. Rahmat

Prof. Rahmat mengatakan saat ini masih terdapat kekurangan dalam penggunaan suplemen dan aditif pakan karena masih meninggalkan masalah seperti kualitas produk dan efek negatif terhadap lingkungan serta kesehatan konsumen. Salah satu upaya untuk mengurangi dampak negatif  dari cekaman panas dan produksi methana enterik adalah melalui pemberian senyawa fitokimia sebagai pakan aditif.

Lebih lanjut, Prof. Amin menjelaskan bahwa Gambir dari Traju yang dikombinasikan dengan rumput laut dari daerah Jawa dengan jenis Gelindium dapat meningkatkan kecernaan, sintesis protein mikroba yang tinggi, serta dapat menurunkan produksi gas metan, sehingga berpotensi menjadi pakan ternak yang ramah lingkungan dan ekonomis.

Prof. Dr. Bambang Hermanto.

Guru Besar Bidang Ilmu Administrasi Bisnis Pariwisata menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul “Eduagrotourism Kawasan Kampus Pangandaran untuk Meniti Unggul dan Manfaat Unpad di Pangandaran”. Prof. Bambang menjelaskan bahwa kehadiran Unpad di Pangandaran berhasil menggali berbagai potensi yang ada di lingkungan sekitar Unpad Kampus Pangandaran. Salah satu potensi yang ditemukan adalah berhasil mengidentifikasi jenis dan jumlah tanaman buah yang tumbuh subur di lahan kampus, diantaranya adalah pohon kelapa, pohon durian, pohon sawo kecik, dan pohon rambutan.

“Di lahan masyarakat yang berbatasan langsung dengan kampus juga ditemukan jenis pohon serupa, bahkan ada beberapa warga yang telah berkebun alpukat dan durian dengan jumlah yang cukup banyak dan berhasil dengan baik,” ujar Prof. Bambang.

Prof. Bambang menambahkan bahwa beberapa upayan lainnya juga telah dilakukan, seperti menanam lebih dari 5000 pohon alpukat dan durian bantuan dari PT Vale, serta mempelajari cara mengolah pupuk organik dan memproduksi ecoenzim pupuk ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah peternakan sekitar dan limbah sayur serta buah dari Pasar Pangandaran.

Melalui Eduagrotourism diharapkan Unpad dapat menjadi contoh nyata pentingnya gerakan pemeliharaan lingkungan, sekaligus menggali sumber ekonomi berkelanjutan yang bernilai tambah melalui integrasi multiaspek antara pendidikan, pelestarian lingkungan, olahraga, dan pariwisata. Eduagrotourism kawasan kampus yang berhasil bukan saja memberikan peluang pendapatan, tetapi menjadi salah satu wujud dari Unpad Unggul dan Berdampak yang dapat dirasakan oleh masyarakat.

Prof. Dr. Dr. Rahman Mulyawan., Drs., M.Si.

Guru Besar Bidang Ilmu Sistem Pemerintahan Indonesia menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul “Civic Governance Era Otonomi Daerah (Strategi Menuju Good & Smart Governance”. Prof. Rahman memaparkan bahwa penyelenggaraan otonomi daerah secara bertahap mulai mengembangkan model pemerintahan yang berbasis masyarakat dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas integrasi nasional, sekaligus melibatkan warga negara secara aktif dalam berbagai bentuk penyelenggaraan kegiatan pemerintahan atau yang disebut dengan civic governance.

“Potret partisipasi masyarakat dalam memperkuat civic governance dapat dilihat dari konsep partisipasi dalam pembangunan di Indonesia pada tahun 1966, yaitu dukungan rakyat dengan ukuran kemauan masyarakat untuk ikut menanggung biaya pembangunan baik berupa uang maupun tenaga dengan tujuan untuk menyukseskan pembangunan. Kebijakan ini mendapat dukungan dari berbagai lembaga internasional yang terlibat pada bantuan pendanaan maupun bantuan teknis pembangunan di Indonesia,” jelas Prof. Rahman.

Tata pemerintahan yang sentralistik mendorong diterapkannya mekanisme perencanaan yang bersifat top-down, yang ditunjukkan dengan adanya inisiatif perencanaan berasal dari pemegang kekuasaan tanpa melibatkan masyarakat. Kebijakan partisipasi ini lebih tepat disebut dengan kebijakan mobilisasi masyarakat, karena keterlibatan masyarakat dalam suatu kegiatan tidak dilandasi oleh adanya kesadaran akan tujuan.

Pelibatan masyarakat dalam perencanaan kebijakan pembangunan penting dilakukan karena pelibatan masyarakat dalam membuat kebijakan merupakan faktor utama dalam good governance yang memberikan manfaat besar terhadap kepentingan publik, yaitu meningkatkan kualitas kebijakan yang dibuat dan sebagai sumber bahan masukan terhadap pemerintah sebelum memutuskan kebijakan.*

Share this: