[Kanal Media Unpad] Pesatnya perkembangan teknologi di bidang kosmetik turut mendorong munculnya berbagai inovasi bahan kosmetik baru. Tantangannya adalah bagaimana inovasi tersebut dapat mewujudkan kosmetik yang aman dan berkualitas, serta terawasi oleh regulator.
Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik BPOM, Mohamad Kashuri, S.Si, M.Farm., mengatakan hal tersebut dalam seri seminar dan webinar bertajuk “Dibalik Glamour Kosmetik: Sinergi Inovasi dan Kolaborasi Menjawab Tren, Tantangan, dan Etika Industri” yang diselenggarakan oleh Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran bersama dengan Labcos (Cosmetic Laboratory) di Bale Sawala, Gedung Rektorat Universitas Padjadjaran Jatinangor pada Kamis, 24 April 2025.
Di sisi lain, ujar M. Kashuri, literasi konsumen tentang kosmetik perlu ditingkatkan agar tidak mudah tergoda bujuk rayu iklan. Konsumen yang cerdas bisa diupayakan melalui berbagai cara, antara lain dengan gencar melakukan edukasi seperti seminar kepada masyarakat. Seri seminar dan webinar ini bertujuan menggali lebih dalam tentang dinamika industri kosmetik, termasuk inovasi terbaru, tantangan yang dihadapi, serta pentingnya kolaborasi dan etika dalam perkembangan industri yang terus berkembang pesat.
“Ketika konsumen mencari kosmetik, sering kali mereka tergoda dengan diskon atau klaim produk. Tanpa pengetahuan yang cukup, mereka langsung membeli tanpa pertimbangan lebih lanjut. Untuk itu, literasi konsumen perlu ditingkatkan, salah satunya dengan edukasi melalui seminar seperti ini untuk menciptakan konsumen yang cerdas” ujar M. Kashuri, yang membawakan materi berjudul “Peran Strategis Regulator dalam Mewujudkan Kosmetik yang Aman, Bermutu, dan Bermanfaat”.
Lebih lanjut M. Kashuri mengatakan, ada tiga pilar pengawasan obat dan makanan, yaitu pengawasan oleh pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat. Oleh karena itu, sivitas akademika sebagai bagian dari masyarakat diharapkan dapat berkontribusi aktif dalam pengawasan obat dan makanan melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Sementara Direktur Riset, Hilirisasi dan PKM Unpad, Prof. dr. Nur Atik, M.Kes., Ph.D., dalam sambutannya mengatakan bahwa bagi perguruan tinggi, hal yang perlu dipersiapkan saat ini adalah kemampuan untuk melakukan riset yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat. Riset yang tepat sasaran akan menghasilkan produk yang bermanfaat dan relevan dengan kebutuhan publik.
“Namun demikian, kita sangat memahami bahwa riset tidak dapat dilakukan secara individu. Oleh karena itu, kolaborasi menjadi hal yang sangat penting. Dalam hal ini, institusi kami, Unpad, selalu mendorong para peneliti, baik dari kalangan dosen maupun mahasiswa, untuk terus membangun kerja sama dalam setiap kegiatan riset,” ujar Nur Atik.
Sementara Wakil Dekan Fakultas Farmasi Unpad, Prof. apt. Mutakin, M.Si,, Ph.D., menginformasikan bahwa saat ini terdapat beberapa perkembangan penting di Fakultas Farmasi Unpad, yaitu pembukaan Program Studi Sarjana Rekayasa Kosmetik yang akan mulai menerima mahasiswa baru pada tahun depan, serta pengembangan Laboratorium Uji Keamanan, Mutu, dan Klaim Kosmetik yang diharapkan dapat mendukung kebutuhan uji pre-market dan post-market bagi produk kosmetik, sekaligus menjadi pusat layanan riset kolaboratif antara akademisi dan industri.
“Kami percaya bahwa kolaborasi antara akademisi, industri, dan regulator akan menjadi kunci untuk mendorong kemajuan industri kosmetik yang aman, inovatif, dan berdaya saing,” kata Prof. Mutakin.
Pada kesempatan ini, juga dilakukan peluncuran Jurnal Kosmetik Farmasi Universitas Padjadjaran yang diharapkan menjadi wadah ilmiah bagi para peneliti, dosen, dan praktisi untuk mempublikasikan hasil riset di bidang kosmetika. Selain itu, juga peluncuran bahan baku kosmetik Sacca EG, hasil pengembangan riset berbasis potensi lokal. Sacca EG merupakan minyak yang kaya akan omega 3, 6, dan 9, serta mengandung vitamin A, D, dan E, sehingga sangat potensial untuk dikembangkan dalam sediaan kosmetik modern.
Turut hadir dalam kegiatan ini, Wakil Rektor Bidang Riset, Kerja Sama dan Pemasaran Unpad Prof. apt. Rizky Abdulah, S.Si. dan Direktur Akademik Unpad Prof. Dr. Aliya Nur Hasanah, S.Si., apt., M.Si.
Kontribusi Akademisi
Salah satu pembicara yang merupakan Pakar Teknologi Farmasetika yang merupakan Wakil Ketua Himpunan Ilmuwan Kosmetika Indonesia sekaligus Guru Besar Fakultas Farmasi Unpad, Prof. Dr. rer. Nat apt. Anis Yohana Chaerunisaa, M.Si. memberikan materi berjudul “Kontribusi Akademisi dalam Inovasi dan Keamanan Kosmetik sebagai Pilar Utama Kosmetik Indonesia”. Menurut Prof. Anis Yohana, para akademisi memiliki peran strategis dalam menjaga dan mengawal ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang kosmetika. Dengan menjaga integritas ilmu pengetahuan, akademisi turut berkontribusi dalam menjamin kualitas dan keamanan produk yang beredar di masyarakat.
“Kami (akademisi) adalah bagian dari upaya tersebut, bukan untuk membangun bisnisnya, melainkan untuk memastikan bahwa produk kosmetika yang dihasilkan aman dan berkelanjutan,” papar Prof. Anis Yohana.
Lebih lanjut, kegiatan ini menghadirkan pemaparan dari pembicara kunci Dra. Nuning S. Barwa, Apt., MBA. selaku Tim Ahli Perkosmi. Selain itu, sejumlah pakar turut menyampaikan materi, di antaranya Prof. Dr. Apt. Sriwidodo, M.Si. (Pakar Formulasi Biofarmasetika, Labcos Fakultas Farmasi Unpad), dan Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, S.Si., M.Farm. (Pakar Skincare Biotik Labcos Fakultas Farmasi Unpad), dengan materi bertajuk “Dari Lab ke Etalase: Riset sebagai Pilar Utama Kosmetik Indonesia”.
Kegiatan ini juga dilengkapi dengan sesi panel diskusi yang menghadirkan berbagai narasumber dari lintas sektor, yakni Apt. Irwan, S.Si., M.K.M. (Direktur Pengawasan Kosmetik BPOM), dr. Novy Ojtaviana, Sp.DVE. (Dokter Spesialis Kulit dan Founder Dermalink), Maily, S.Si., M.Biomed. (Peneliti dan Pengembang Martha Tilaar Group), Ridwan Sanjaya, S.Si., M.B.A. (Kepala Deputi Divisi Riset dan Pengembangan Paragon Corp), Apt. Ledi Herlina, S.Farm., FACP. (Founder dan Direktur Operasional PT Mulia Kairos Industri), serta Apt. Sandry Eka Sautri Nst., S.Farm. (Apoteker dan Influencer).
Seri seminar dan webinar ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengetahuan dan pengalaman antar pemangku kepentingan industri kosmetik, tetapi juga memperkuat sinergi antara akademisi, regulator, dan pelaku industri. Unpad melalui Fakultas Farmasi dan Labcos menegaskan komitmennya untuk menjadi pionir dalam pengembangan riset kosmetika yang relevan dan berdampak nyata bagi masyarakat. Diharapkan, kolaborasi ini dapat terus berlanjut dalam menciptakan inovasi kosmetik yang aman, bermutu, dan berdaya saing global, sekaligus menjawab tantangan dan kebutuhan konsumen masa kini.*









