





[Kanal Media Unpad] Peringatan Hari Lupus Sedunia mengajak seluruh lapisan masyarakat, tenaga kesehatan, dan pembuat kebijakan untuk bersama-sama meningkatkan kesadaran mengenai lupus, memperbaiki deteksi dini, serta memastikan akses yang adil terhadap pengobatan dan layanan pendukung.
Demikian dikatakan Dr. Laniyati Hamijoyo, dr., Sp.PD-KR., M.Kes., saat menjadi narasumber dalam Podcast YouTube “Ngoseh Speda” atau Ngobrol Sehat Bareng Spesialis Penyakit Dalam yang dipandu moderator Rien Afrianti, dr., Sp.PD., Sp.JP (K), FIHA., dan diselenggarakan oleh KSM / Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Unpad-RS Hasan Sadikin. Dr. Laniyati adalah dosen FK Unpad yang menjadi satu-satunya orang Indonesia di Executive Committee pada Asia Pacific League of Associations for Rheumatology (APLAR).
“Semoga kita jadi sama-sama peduli terhadap penyakit ini sehingga dikenal dengan lebih baik. Jika kite mengenal dengan baik maka penyakit ini bisa diobati lebih dini. Pengobatan yang lebih dini maka outcome yang diharapkan bisa lebih baik sehingga penyandang Lupus dapat hidup normal,” ujar Dr. Laniyati.
Tanggal 10 Mei diperingati sebagai Hari Lupus Sedunia. Dan sepanjang bulan Mei juga menjadi Bulan Sadar Lupus. Peringatan tersebut merupakan momen tepat untuk membangun kesadaran masyarakat tentang lupus.
Lupus, ujar Dr. Laniyati, adalah penyakit autoimun dimana tubuh membentuk antibodi berlebihan dan menyerang berbagai organ tubuh. Dengan manifestasi yang sangat beragam dan bisa berbeda antara satu orang dengan yang lainnnya, maka diagnosanya bisa tidak sama sehingga lupus dikenal juga dengan istilah “penyakit seribu wajah”.
“Namun lupus dapat dikendalikan sehingga tidak perlu khawatir. Lupus juga bukan penyakit menular dan turunan. Namun orang-orang yang dalam keluarganya memiliki keluarga dengan penyakit autoimun, punya risiko lebih besar mengalami penyakit lupus,” jelasnya.
Dr. Laniyati juga menengaskan, lupus bisa disembuhkan. Jika gejalanya ringan, seperti di kulit atau sendi, biasanya dapat kembali normal seperti biasa. Jika yang terkena adalah organ vital seperti jantung dan ginjal, kadang penyembuhannya membutuhkan lebih banyak upaya.
“Apakah bisa Kembali sempurna? Tergantung. Jika dideteksi lebih awal, diobati dengan baik dan lebih dini, bisa kembali normal. Walaupun kadang membutuhkan obat untuk jangka panjang. Jadi jika belum mengalami kerusakan permanen, lupus bisa Kembali normal lagi,” ujar Dr. Laniyati.
Untuk menyimak secara detail pemaparan Dr. Laniyati, silakan tonton Podcast “Ngoseh Speda” di tautan ini. Podcast ini membahas berbagai topik kesehatan langsung bersama para dokter spesialis penyakit dalam berpengalaman. Podcast ini mengupas tuntas isu-isu medis seperti diabetes, hipertensi, kolesterol, gangguan pencernaan, infeksi, autoimun, dan banyak lagi dengan bahasa yang mudah dimengerti dan tetap berbasis ilmiah.*
