Universitas Padjadjaran Gelar Pagelaran “Gending Karesmén Si Kabayan”

Salah satu adegan di Pagelaran Balé Rumawat Padjadjaran ke-108 bertajuk “Gending Karesmén Si Kabayan” di Grha Sanusi Hardjadinata, Kampus Unpad Dipati Ukur Bandung, Jumat 12 September 2025. (Foto oleh: Jalasenastri Saprala)*

[Kanal Media Unpad] Universitas Padjadjaran melalui Pusat Budaya Sunda Unpad dan Panitia Dies ke-68 Unpad, menghadirkan Pagelaran Balé Rumawat Padjadjaran bertajuk “Gending Karesmén Si Kabayan” di Grha Sanusi Hardjadinata, Kampus Unpad Dipati Ukur, Bandung, Jumat 12 September 2025. Pagelaran Balé Rumawat Padjadjaran ke-108 ini merupakan salah satu rangkaian acara Dies Natalis ke-68 Universitas Padjadjaran.

Mengangkat kisah tokoh legendaris Sunda, Si Kabayan, pementasan ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menyampaikan pesan moral dan refleksi bagi sivitas akademika serta masyarakat. Pagelaran ini menghadirkan humor khas Sunda, sekaligus menyiratkan kritik sosial tentang kejujuran, tanggungjawab, dan kreativitas yang seharusnya dijalankan dengan cara yang benar.

Kepala Pusat Budaya Sunda Unpad sekaligus produser pagelaran, Prof. Ganjar Kurnia menekankan bahwa tokoh Si Kabayan tidak hanya sekadar lucu atau jenaka, melainkan menyimpan kritik sosial yang relevan dengan kehidupan modern. Dalam pendidikan, hal ini menjadi sekaligus menjadi pengingat bagi sivitas akademika Unpad untuk senantiasa mempertahankan integritas akademik.

“Kabayan memang kreatif, tetapi sering menggunakan cara yang tidak benar. Pesan pentingnya adalah kita harus kreatif dengan cara yang benar, bukan dengan kebohongan atau tindakan yang tidak etis. Ini juga menjadi pengingat bagi sivitas akademika, jangan sampai karena kepepet lalu melakukan plagiarisme atau hal-hal yang merugikan integritas akademik,” jelasnya.

Salah satu penonton, Wawan Nurwansyah dari Majalengka, mengaku terkesan dengan kreativitas yang ditampilkan. Wawan menyampaikan bahwa tidak hanya disuguhkan cerita yang menarik, tetapi kolaborasi antara seluruh elemen yang ditampilkan juga sangat mengesankan.

“Saya bukan ahli seni, tapi senang seni. Kolaborasi antara narasi, musik, dan genre-genre yang dihadirkan sangat menarik. Ada hentakan, ada musik sedihnya, semuanya membuat pertunjukan ini begitu mengesankan,” ujarnya.

Sementara itu, Mahasiswa Sastra Sunda Unpad Febi Abdul Baits menyampaikan bahwa pagelaran ini juga menjadi bentuk rasa cinta pada almamater. “Karena ini bagian dari perayaan Dies Natalis, saya merasa bangga bisa menonton. Para pemain tampil sangat profesional dan membawakan cerita dengan baik. Saya bangga dan sangat menikmati pertunjukan ini,” ungkapnya.* (Reporter: Jericho Masyiakh Metiary)

Share this: