Universitas Padjadjaran Kukuhkan Delapan Guru Besar Baru Bidang Kesehatan

Delapan Guru Besar Unpad yang baru dikukuhkan usai mengucapkan Pakta Integritas pada Pengukuhan Jabatan Guru Besar Unpad di Graha Sanusi Hardjadinata, Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Jl. Dipati Ukur No. 35 Bandung, pada Senin, 8 September 2025. (Foto oleh: Dadan Triawan)*

[Kanal Media Unpad] Universitas Padjadjaran mengukuhkan delapan Guru Besar baru yang berasal dari Fakultas Kedokteran, Fakultas Keperawatan, Fakultas Farmasi, dan Fakultas Kedokteran Gigi. Kedelapan Guru Besar tersebut memberikan paparan ilmiah pada Pengukuhan Jabatan Guru Besar Unpad di Graha Sanusi Hardjadinata, Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Jl. Dipati Ukur No. 35 Bandung, pada Senin, 8 September 2025. Pengukuhan dibuka oleh Rektor Unpad Prof. Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, dan kata pengantar oleh Ketua Dewan Profesor Prof. Arief Anshory Yusuf.

Guru Besar yang dikukuhkan tersebut adalah Prof. Hartiah Haroen, S.Kp., M.Ng., M.Kes., Ph.D., Prof. Dr. Siti Yuyun Rahayu Fitri, S.Kp., M.Si., Prof. Dr. Gatot N.A. Winarno, dr., Sp.OG, Subsp.Onk., M.Kes., DMAS., Prof. Dr. Dzulfikar Djalil Lukmanul Hakim, dr., Sp.A, Subsp. ETIA(K), M.Kes., MMRS., Prof. Dr. Anggraini Alam, dr., Sp.A., Subsp. Inf. P.(T.K), Prof. Dr. Sri Susilawati, drg., M.Kes., Prof. Dr. Reiva Farah Dwiyana, dr., Sp.D.V.E., Subsp. D.A., M.Kes., dan Prof. Dr. Yoga Windhu Wardhana, S.Si., Apt., M.Si.

Guru Besar bidang Ilmu Keperawatan Paliatif, Prof. Hartiah Haroen, menyampaikan paparan ilmiah berjudul “Penguatan Pelayanan Perawatan Paliatif di Indonesia: Tinjauan Ilmiah dan Kerangka Kebijakan”. Dalam pemaparannya, Prof. Hartiah menekankan pentingnya perawatan paliatif sebagai layanan komprehensif untuk pasien dengan penyakit kronis dan mengancam jiwa, yang tidak hanya fokus pada pengendalian gejala, tetapi juga peningkatan kualitas hidup pasien dan keluarga. Prof. Hartiah juga menyoroti akses layanan paliatif di Indonesia yang masih terbatas serta ketimpangan distribusi obat esensial. Maka dari itu, diperlukan strategi nasional yang kuat, integrasi layanan hingga tingkat primer seperti puskesmas, dukungan pembiayaan melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), penguatan kapasitas tenaga kesehatan melalui pendidikan interprofesional, dan pengembangan penelitian berbasis bukti agar pelayanan paliatif benar-benar mampu mengurangi penderitaan dan memberikan perawatan holistik bagi masyarakat.

“Langkah-langkah tersebut tidak hanya mempersiapkan tenaga profesional masa depan, tetapi juga mendorong kolaborasi antar profesi, yang merupakan kunci untuk perawatan holistic dan berpusat pada pasien,” jelas Prof. Hartiah.

Sementara Guru Besar bidang Ilmu Keperawatan Anak, Prof. Siti Yuyun Rahayu Fitri, memberikan paparan ilmiah dengan judul “Analgesia Non Farmakologis Dalam Upaya Optimalisasi Kualitas Hidup Neonatus melalui Pendekatan Developmental Care”. Prof. Siti menjelaskan bahwa masa neonatus merupakan periode kritis yang sangat rentan terhadap stres dan nyeri akibat prosedur invasif berulang selama perawatan di rumah sakit. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi tersebut dapat berdampak jangka panjang pada perkembangan fisiologis, neurologis, kognitif, hingga emosional bayi. Prof. Siti menekankan pentingnya strategi analgesia nonfarmakologis yang aman serta pendekatan transcultural nursing yang menggali praktik pengelolaan nyeri berbasis kearifan lokal.

“Neonatus menyampaikan kebutuhannya melalui komunikasi menggunakan bahasa khusus berupa perubahan respons perilaku, respons fisiologis dan respons metabolik. Dengan memahami bahasa tersebut, kita dapat memberikan intervensi yang aman tidak sekadar menyelamatkan nyawa, tetapi juga memastikan kualitas hidup yang optimal,” ujar Prof. Siti.

Guru Besar bidang Ilmu Kedokteran Obstetri, Prof. Gatot N. A. Winarno, menyampaikan paparan ilmiah berjudul “Strategi Penurunan Morbiditas dan Mortalitas Kanker Ovarium di Indonesia”. Prof. Gatot mengatakan bahwa kanker ovarium merupakan salah satu kanker ginekologi paling mematikan dengan angka kematian tinggi, terutama karena sebagian besar kasus baru terdeteksi pada stadium lanjut, sehingga diperlukan strategi komprehensif berupa peningkatan deteksi dini, penguatan sistem kesehatan, serta kolaborasi multisektor agar angka morbiditas dan mortalitas dapat ditekan serta kualitas hidup pasien lebih terjamin.

“Di Indonesia, hanya 20% kasus terdeteksi dini, sehingga sangat penting deteksi berfokus pada kelompok risiko tinggi. Database Nasional dari Indonesian Cancer Registration (1.065 kasus) menunjukkan 66.95% stadium FIGO tidak tercatat, menghambat evaluasi program,” kata Prof. Gatot.

Guru Besar bidang Ilmu Kesehatan Anak, Prof. Dzulfikar D. L. Hakim, memerikan paparan ilmiah dengan judul “Optimalisasi Terapi yang Dinamis dengan Kualitas Prima di Ruang Rawat Intensif Anak untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Melalui Perawatan yang Terintegrasi”. Prof. Dzulfikar menegaskan bahwa perawatan intensif anak tidak hanya berfokus pada penatalaksanaan penyakit kritis, tetapi juga harus memperhatikan aspek nyeri, stres, nutrisi, mobilisasi dini, serta dukungan psikososial dan keterlibatan keluarga melalui penerapan ICU Liberation Bundles (ABCDEFGH-Bundles). Prof. Dzulfikar menyoroti fenomena Post Intensive Care Syndrome (PICS) yang berisiko menurunkan kualitas hidup anak maupun keluarga (PICS-F), sehingga diperlukan strategi komprehensif dengan standar pelayanan, kolaborasi multidisiplin, hingga penguatan sistem rujukan.

“Pengelolaan pasien di PICU harus bersifat komprehensif, selain tata laksana penyakit atau kondisi yang mendasarinya, juga didasarkan pada pendekatan multidisiplin, berorientasi pada mutu, serta memperhatikan kebutuhan medis dan emosional pasien maupun keluarganya,” ujar Prof. Dzulfikar.

Sedangkan Guru Besar bidang Ilmu Kesehatan Anak, Prof. Anggraini Alam, menjelaskan paparan ilmiah berjudul “Peranan Dokter Spesialis Anak Konsultan Infeksi dan Penyakit Tropis dalam Menghadapi Masalah Global”. Prof. Anggraini menyatakan bahwa penyakit infeksi tetap menjadi ancaman serius bagi kesehatan anak di seluruh dunia, terutama di negara tropis seperti Indonesia. Maka dari itu, Prof. Anggraini menekankan pentingnya peran Dokter Spesialis Anak Konsultan Infeksi dan Penyakit Tropis sebagai “detektif medis” yang tidak hanya memberikan layanan kuratif, tetapi juga aktif dalam surveilans, edukasi, pencegahan, serta program Pencegahan Resistensi Antimikrob (PPRA).

“Peran besar dokter Sp.A, Subsp.Inf.P.T dalam program infection control dan PPRA, menekan penyakit zoonosis melalui One Health, kegiatan surveilans, serta menjalankan advokasi untuk memastikan kesetaraan layanan kesehatan merupakan tantangan yang dihadapi bidang spesialisasi ini,” kata Prof. Anggraini.

Guru Besar bidang Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat, Prof. Sri Susilawati, menyampaikan paparan ilmiah berjudul “Transformasi Kesehatan Gigi Masyarakat di Indonesia melalui Pendekatan Upstream, Midstream dan Downstream”. Prof. Sri menjelaskan bahwa kesehatan gigi dan mulut merupakan hak dasar setiap individu sekaligus bagian penting dari kesehatan umum, namun data menunjukkan status kesehatan gigi masyarakat Indonesia masih memprihatinkan. Transformasi layanan, lanjutnya, harus dilakukan melalui pendekatan upstream (kebijakan, regulasi, fluoridasi, dan penguatan sistem kesehatan), midstream (pemberdayaan komunitas, edukasi kesehatan gigi, dan program Fit For School), serta downstream (peningkatan layanan kuratif, preventif, dan rehabilitatif di layanan primer). Keberhasilan perbaikan kesehatan gigi masyarakat ditentukan oleh komitmen pemerintah, kolaborasi lintas sektor, standar kompetensi tenaga medis, serta integrasi dengan program nasional dan global.

“Penanganan masalah kesehatan gigi masyarakat tidak hanya terfokus pada perawatan kuratif yang cenderung memakan biaya mahal namun diperlukan suatu transformasi dengan menggunakan pendekatan upstream, midstream dan downstream yang lebih komprehensif, berkelanjutan, dan berfokus pada pencegahan serta determinan kesehatan yang mendasar,” jelas Prof. Sri.

Guru Besar bidang Ilmu Dermatologi Venereologi dan Estetika, Prof. Reiva Farah Dwiyana, memberikan orasi ilmiah berjudul “Dermatologi Anak: Menyingkap Spektrum Luas Penyakit Kulit dari Neonatus hingga Dewasa Muda”. Prof. Reiva menjelaskan bahwa kesehatan kulit merupakan cerminan penting perjalanan hidup manusia sejak lahir hingga dewasa muda, di mana setiap fase memiliki tantangan tersendiri, mulai dari genodermatosis pada bayi, masalah dermatitis atopik dan vitiligo pada anak usia dini, hingga jerawat pada masa remaja. Prof. Reiva menekankan bahwa keterbatasan jumlah dokter subspesialis dermatologi anak di Indonesia serta minimnya layanan genetika dan tingginya kasus malnutrisi dan infeksi menjadi hambatan serius dalam peningkatan kualitas hidup anak.

“Kulit anak adalah garis terdepan pertahanan tubuh. Merawatnya bukan sekadar melindungi hari ini, tetapi juga menyiapkan generasi untuk masa depan yang lebih sehat dan kuat,” tegas Prof. Reiva.

Guru Besar bidang Ilmu Modifikasi Bahan Baku, Formulasi dan Teknologi Farmasi Sediaan Padat, Prof. Yoga Windhu Wardhana, menyampaikan paparan ilmiah berjudul “Polimorfisme dan Sifat Fisikokimia Kritis Bahan Baku Farmasi terhadap Kualitas Sediaan Padat Farmasi”. Prof. Yoga menjelaskan bahwa tablet dan kapsul sebagai sediaan farmasi paling banyak digunakan sangat dipengaruhi oleh fenomena polimorfisme, yaitu kemampuan bahan aktif membentuk struktur kristal berbeda meski memiliki komposisi kimia yang sama, yang dapat memengaruhi kelarutan, stabilitas, bioavailabilitas, hingga efektivitas obat. Menurutnya, penelitian polimorfisme sangat penting agar industri farmasi dapat memastikan mutu, keamanan, dan efektivitas sediaan padat farmasi, sekaligus mencegah kerugian kualitas dan klinis pada pasien.

“Pemahaman komprehensif terhadap berbagai faktor yang mempengaruhi kualitasnya (tablet dan kapsul) sangat penting. Industri farmasi dalam pengembangannya perlu menelaah lebih dalam terkait bahan awal yang akan dipakai dalam produknya,” papar Prof. Yoga.

Pengukuhan ini tidak hanya menandai pencapaian akademik tertinggi, tetapi juga menghadirkan gagasan-gagasan strategis yang relevan dengan tantangan kesehatan masyarakat Indonesia masa kini. Dengan lahirnya para Guru Besar baru ini, Unpad meneguhkan komitmennya untuk terus melahirkan inovasi, memperkuat kolaborasi lintas sektor, serta memperluas manfaat keilmuan bagi bangsa dan dunia.*

Buku Paparan Keilmuan:

1. Prof. Hartiah Haroen, S.Kp., M.Ng., M.Kes., Ph.D.
2. Prof. Dr. Siti Yuyun Rahayu Fitri, S.Kp., M.Si.
3. Prof. Dr. Gatot N.A. Winarno, dr., Sp.OG, Subsp.Onk., M.Kes., DMAS.
4. Prof. Dr. Dzulfikar Djalil Lukmanul Hakim, dr., Sp.A, Subsp. ETIA(K), M.Kes., MMRS.
5. Prof. Dr. Anggraini Alam, dr., Sp.A., Subsp. Inf. P.(T.K).
6. Prof. Dr. Sri Susilawati, drg., M.Kes.
7. Prof. Dr. Reiva Farah Dwiyana, dr., Sp.D.V.E., Subsp. D.A., M.Kes.
8. Prof. Dr. Yoga Windhu Wardhana, S.Si., Apt., M.Si.

(Foto oleh: Jalasenastri Saprala)

Share this: