[Kanal Media Unpad] Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran bersama Fakulti Sains Sosial dan Kemanusiaan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) Malaysia memperingati 40 tahun kerja sama akademik kedua institusi melalui penyelenggaraan Simposium Kebudayaan Indonesia-Malaysia (SKIM) ke-19 yang digelar di Bale Sawala Unpad Jatinangor pada Selasa 8 Oktober 2025.
SKIM XIX 2025 yang mengusung tema “Navigating Challenges in the Global South: Socio Cultural, Political, and Humanities Perspectives” ini menjadi ajang pertukaran hasil riset sekaligus mencerminkan semangat persatuan regional dan komitmen untuk tumbuh bersama antara kedua negara.
“Indonesia dan Malaysia terus memainkan peran penting dalam membangun masa depan yang berpusat pada manusia dan berakar pada kebudayaan, khususnya dalam dinamika kawasan Global South (negara-negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin),” ujar Dekan FISIP Unpad, Prof. Dr. Mohammad Benny Alexandri, dalam sambutannya.
Prof Benny, yang juga merupakan narasumber dalam kegiatan ini, memaparkan bahwa Malaysia masih menjadi pasar utama pariwisata Kota Bandung dengan kontribusi sekitar 73 persen dari total wisatawan mancanegara. Prof. Benny juga menekankan pentingnya penguatan promosi digital, konektivitas penerbangan, serta pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) berbasis kebutuhan manusia untuk mendukung keberlanjutan pariwisata daerah.
“Bandung perlu memanfaatkan potensi media sosial serta memperkuat kerja sama dengan pelaku pariwisata Malaysia. Sementara itu, AI dapat membantu memprediksi tren perjalanan, meningkatkan pengalaman wisata melalui teknologi VR/AR, hingga memastikan keandalan layanan halal dan berkeadilan bagi semua pihak,” jelas Prof. Benny.
Kegiatan juga menghadirkan sesi pemaparan hasil riset dan berbagai diskusi tematik yang membahas isu pembangunan sosial, hubungan internasional, pariwisata, serta penerapan teknologi berbasis manusia (human-centered AI). Narasumber lain dalam kegiatan ini, Dekan Fakulti Sains Sosial dan Kemanusiaan UKM Malaysia, Prof. Madya Dr. Kadaruddin Aiyub, menekankan pentingnya kedaulatan sumber daya alam bagi negara-negara Asia Tenggara serta menyoroti keberhasilan Indonesia dalam kebijakan hilirisasi nikel sejak 2019.
“Negara-negara selatan, termasuk kita di ASEAN, memiliki sumber alam yang melimpah, namun sering kali dihadapkan pada tekanan regulasi global yang menghambat pembangunan. Selain itu, ekspor nikel di Indonesia melonjak dari 3 miliar dolar menjadi 33 miliar dolar dalam empat tahun. Ini menjadi salah satu contoh sukses resource-led industrialization di kawasan ASEAN,” ujar Prof. Kadaruddin.
Melalui simposium ini, Unpad dan UKM Malaysia menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kolaborasi akademik lintas negara dalam menghadapi berbagai tantangan global. Kerja sama yang telah terjalin selama empat dekade ini diharapkan dapat memperluas ruang riset dan inovasi berbasis budaya, sekaligus mempererat hubungan persaudaraan antara Indonesia dan Malaysia sebagai bagian dari upaya membangun masa depan Global South yang inklusif dan berkelanjutan. (Reporter: Jericho Masyiakh Metiary)*






