Tim Ekspedisi Patriot Unpad Ungkap Tantangan Gizi dan Ketimpangan Sosial di Kawasan Transmigrasi Morowali

Sebagian TIm Ekspedisi Patriot Unpad bersama warga masyarakat di kawasan transmigrasi Morowali, Sulawesi Tengah. (Foto oleh: TIm Ekspedisi Patriot Unpad)*

[Kanal Media Unpad] Tim Ekspedisi Patriot Transmigrasi 2025 Universitas Padjadjaran melaksanakan kegiatan pendampingan kepada masyarakat di kawasan transmigrasi Bungku, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Kegiatan ini fokus pada kajian “Dampak Transformasi Sosial-Ekonomi Kawasan Transmigrasi dan Industri terhadap Upaya Percepatan Penurunan Stunting di Kabupaten Morowali: Sebuah Pendekatan Kualitatif.”

Ekspedisi yang dipimpin oleh Dr. Eka Purna Yudha, SP., M.Si., melibatkan berbagai pihak mulai dari ibu balita stunting dan non-stunting (usia 0–59 bulan), kader kesehatan desa, tenaga penyuluh gizi puskesmas, staf gizi Dinas Kesehatan dan Bappedalitbangda Morowali, hingga pemerintah desa setempat. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Unpad dalam mendukung program nasional percepatan penurunan stunting melalui riset kolaboratif dan pendekatan sosial di kawasan transmigrasi.

Hasil temuan lapangan, setidaknya hingga 5 November 2025, menunjukkan adanya perbedaan faktor penyebab stunting antara wilayah pertambangan dan non-pertambangan di Kabupaten Morowali. Di wilayah non-pertambangan, masalah utama bersumber dari rendahnya daya beli dan keterbatasan akses pangan bergizi. Banyak balita stunting hanya makan dua kali sehari dengan menu sederhana seperti nasi dan kecap tanpa lauk hewani. Sebagian anak juga mengandalkan makanan ringan rendah nutrisi sebagai camilan utama.

Sementara di wilayah pertambangan, kasus stunting lebih banyak dikaitkan dengan kondisi lingkungan yang tidak sehat akibat aktivitas industri, seperti polusi udara yang memicu meningkatnya infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Menurut Dr. Eka Purna Yudha, persoalan ini memperlihatkan bahwa penanggulangan stunting di kawasan industri tidak bisa disamaratakan.

“Faktor ekonomi dan lingkungan harus dilihat secara berbeda. Di kawasan tambang, masalahnya bukan hanya soal gizi, tetapi juga paparan lingkungan dan perubahan sosial yang cepat,” jelasnya.

Salah satu temuan menarik di Desa Lanona adalah paradoks pangan lokal.
Meski wilayah ini kaya hasil laut, harga ikan di tingkat masyarakat justru tinggi. Sebagian besar hasil tangkapan nelayan dijual ke perusahaan tambang untuk konsumsi pekerja industri.

Akibatnya, masyarakat transmigrasi harus membeli ikan dengan harga mahal atau menggantinya dengan lauk nabati seperti tahu dan tempe. Ahli gizi masyarakat Resa Ana Dina, SKM., M.Epid., yang turut mendampingi kegiatan, menilai kondisi ini sebagai bentuk ketimpangan distribusi pangan di tingkat lokal.

“Daerah dengan sumber protein tinggi justru kekurangan asupan gizi hewani karena pola distribusi yang tidak adil. Ini menjadi tantangan serius bagi program percepatan penurunan stunting,” ujar Resa.

Tim juga mencatat bahwa fasilitas kesehatan di kawasan transmigrasi masih terbatas.
Beberapa puskesmas, termasuk Puskesmas Fanuasingko, belum memiliki peralatan antropometri lengkap untuk pemantauan tumbuh kembang anak. Selain itu, penggunaan dana desa untuk program stunting belum sepenuhnya tepat sasaran. Di Desa Lanona, misalnya, dana tersebut dialihkan untuk pembangunan penahan abrasi pantai, bukan untuk pengadaan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita.

“Perlu ada penguatan koordinasi lintas sektor agar kebijakan di tingkat desa lebih sinkron dengan program nasional,” tegas Dr. Eka Purna Yudha.

Mendorong Kebijakan Berbasis Bukti
Kegiatan ekspedisi juga menyoroti perubahan sosial dalam keluarga transmigran.
Banyak orang tua bekerja di kebun atau tambang, sehingga anak-anak diasuh oleh kakek-nenek mereka. Pola asuh ini berdampak pada kurangnya perhatian terhadap pola makan dan gizi anak sehari-hari. Menurut Resa Ana Dina, dinamika sosial seperti ini turut memengaruhi efektivitas program penurunan stunting.

“Perubahan struktur keluarga di kawasan industri perlu direspons dengan pendekatan edukatif dan intervensi berbasis komunitas,” jelasnya.

Melalui kegiatan ini, Tim Ekspedisi Patriot Transmigrasi berupaya memberikan rekomendasi kebijakan berbasis data lapangan kepada pemerintah daerah dan lembaga terkait, khususnya dalam penyusunan strategi penanggulangan stunting di wilayah transmigrasi dan sekitar kawasan industri.

“Kami ingin membawa suara dari desa ke meja kebijakan. Bahwa percepatan penurunan stunting tidak hanya tentang pemenuhan gizi, tapi juga tentang akses ekonomi, lingkungan, dan keadilan sosial,” tutup Dr. Eka Purna Yudha.

Ekspedisi ini menjadi wujud nyata kontribusi Universitas Padjadjaran dalam mendorong pembangunan berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat di kawasan transmigrasi Indonesia. (Rilis oleh: Tim Ekspedisi Patriot Unpad)

Share this: