[Kanal Media Unpad] Stunting masih menjadi masalah kesehatan di Desa Cipatik, Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat. Salah satu faktor penyebab stunting adalah kondisi kesehatan gigi dan mulut yang tidak sehat, yaitu mengalami karies gigi.
Hal tersebut mendorong mahasiswa KKNM Universitas Padjadjaran di Desa Cipatik memberikan penyuluhan bertema “Peningkatan Gizi dan Kesehatan Gigi dan Mulut sebagai Upaya Pencegahan Stunting” ini digelar di Aula Kantor Desa Cipatik, Jumat (28/7/2023) lalu.
Kegiatan penyuluhan tersebut dihadiri oleh 35 orang Kader Posyandu dan PKK perwakilan dari 10 RW di Desa Cipatik. Para Kader Posyandu dan PKK sangat antusias terhadap materi yang diberikan. Rupanya banyak permasalahan gigi yang dirasakan oleh masyarakat, kini dengan penyuluhan tersebut dapat menambah pengetahuan masyarakat tentang cara menjaga kesehatan gigi dan mulut.
Penyuluhan tersebut diisi penyampaian materi oleh Dosen Pembimbing Lapangan KKNM Unpad di Desa Cipatik drg. Felisha Febriane Balafif, M.Kes. Materi yang disampaikan mengenai cara menjaga kesehatan gigi dan mulut serta penyakit-penyakit yang sering terjadi di rongga mulut anak, salah satunya adalah karies gigi (gigi berlubang).
“Akibat dari karies gigi menyebabkan rasa sakit, hingga mengganggu fungsi pengunyahan dan berpengaruh terhadap status gizinya. Jika status gizi balita terganggu maka berisiko terhadap stunting,” Felisha.
Materi selanjutnya disampaikan Hafizh Lathifan, mahasiswa anggota kelompok KKNM Desa Cipatik mengenai gizi dan pola hidup sehat. Hafizh memaparkan terkait makanan bergizi dan bagaimana melakukan pola hidup bersih dan sehat, seperti cara mencuci tangan yang benar hingga memperhatikan kondisi rumah dan lingkungan yang bersih dan sehat.
Sebelum dan setelah penyampaian materi juga diberikan kuesioner bertujuan untuk mengetahui pemahaman materi yang diberikan. Beberapa peserta juga aktif bertanya saat sesi diskusi.
Acara tersebut diakhiri dengan penyerahan Poster tentang cara menjaga kesehatan gigi dan mulut dari Mahasiswa KKNM dan dosen pembimbing kepada 10 Posyandu yang ada di Desa Cipatik.
“Semoga dengan adanya penyuluhan tersebut dapat meningkatkan pengetahuan para kader Posyandu dan PKK tentang gizi dan kesehatan. Para kader posyandu merupakan bentuk pemberdayaan masyarakat agar dapat meningkatkan kesehatan masyarakat di Indonesia. Peranan kader sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan program posyandu yakni sebagai motivator kesehatan, penyuluhan kesehatan, dan pelayanan kesehatan,” ujar Felisha. (rilis)*
