[Kanal Media Unpad] Guru Besar Fakultas Kedokteran Prof. Dr. Susi Susanah., dr., Sp.A(K), M.Kes., mengatakan bahwa anemia menjadi salah satu masalah kesehatan yang berpengaruh pada kualitas hidup sehingga memerlukan penanganan komprehensif.
Prof. Susi menjelaskan bahwa di Indonesia, prevalensi anemia pada anak, wanita usia subur, dan ibu hamil masih tinggi. Anemia sendiri merupakan suatu gejala, dengan penyebab utamanya di antaranya adalah defisiensi besi, infeksi, pendarahan uterus, dan talasemia/hemoglobinopati.
“Pada anak, wanita usia subur, dan ibu hamil prevalensinya masih tinggi,” kata Prof. Susi dalam diskusi Satu Jam Berbincang Ilmu yang disiarkan secara daring pada Sabtu (13/1/2024).
Menurutnya, diperlukan pendekatan dan strategi khusus yang ditangani secara komprehensif. Kolaborasi diperlukan antar sektor dalam lingkup lokal, nasional, hingga internasional.
Kolaborasi juga diperlukan dengan melibatkan sektor kesehatan dan non kesehatan, termasuk memperbaiki sistem pangan untuk memberikan pelayanan yang lebih baik, edukasi, serta mengatasi faktor risiko etiologi.
“Kolaborasi riset dan inovasi pada setiap langkah diagnostik metode pemeriksaan, dan tata laksana medis dan nonmedis merupakan salah satu langkah penting dalam akselerasi penurunan anemia pada berbagai kondisi,” kata Guru Besar di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK Unpad ini.
Terkait talasemia sebagai salah satu penyakit dengan gejala anemia, Prof. Susi mengatakan bahwa saat ini prevalensinya masih tinggi di Indonesia. Saat ini belum tersedia terapi kuratif untuk talasemia. Upaya skrining pun belum dibiayai oleh asuransi kesehatan.
Dijelaskan Prof. Susi, talasemia merupakan penyakit katrastofik dengan biaya tertinggi kelima berdasarkan data BPJS Kesehatan. Pernikahan sesama karier atau pembawa sifat meningkatkan kemungkinan lahirnya talasemia mayor.
Prof. Susi pun menekankan pentingnya skrining sebagai upaya pencegahan dan penekanan biaya intervensi.
“Dari sisi health ekonomi disebutkan bahwa biaya pelayanan medis itu 728 bahkan sampai 1.000 kali lipat dari biaya skrining karena skrining itu hanya cukup sekali,” kata Prof. Susi.
Dikatakan Prof. Susi, jika tidak ada intervensi, diperkirakan akan ada 2.500-3.000 bayi lahir per tahunnya dengan talasemia mayor. Skrining melalui pemeriksaan darah menjadi salah satu upaya untuk pengendaliannya.
“Skrining itu mencari di antara yang tampak normal karena pembawa sifat itu normal. Dari orang-orang yang normal itu mana yang pembawa sifat,” kata Prof. Susi.
Pengendalian talasemia pun perlu kerja sama berbagai pihak. Seperti yang sudah dilakukan di Jawa Barat yaitu melalui kolaborasi Yayasan Talasemia Indonesia dan Perhimpunan Orang tua Penyandang Talasemia bekerja sama dengan para relawan dengan LSM, Rumah Sakit Hasan Sadikin dan Fakultas Kedokteran Unpad, Pusat Studi Genetika Medis FK Unpad, serta pemerintah pada berbagai tingkat.
“Kita sepakat untuk pengendalian ini perlu kerja sama berbagai pihak,” kata Prof. Susi. (arm)*
