Kolaborasi Pembangunan Desa dan Kota Harus Dilakukan

Prof. Dr. Entang Adhy Muhtar, M.Si. (Foto: Dadan Triawan)*

[Kanal Media Unpad] Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran Prof. Dr. drs. Entang Adhy Muhtar, M.S., mengatakan bahwa akselerasi pembangunan perdesaan tidak bisa dipisahkan dari pengembangan wilayah dan konektivitas.

Konektivitas antar wilayah perdesaan dimaknai sebagai ketersediaan infrastruktur yang menghubungkan antar wilayah satu dengan lain dan meminimalisir adanya kesenjangan antar wilayah.

“Upaya yang dilakukan adalah kolaborasi di dalam penataan ruang intra dan antar perdesaan (desa-kota), juga pendayagunaan kapasitas institusi pemerintah kota dan desa, kerja sama lintas institusi  agar desa mampu menjadi lebih mandiri secara sosial ekonomi dan berkelanjutan,” kata Prof. Entang.

Hal tersebut disampaikan Prof. Entang dalam Orasi Ilmiah Berkenaan dengan Penerimaan Jabatan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Administrasi Pembangunan Perdesaan pada FISIP Unpad di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Bandung, Selasa (23/1/2024).

Pada kesempatan tersebut, Prof. Entang membacakan orasi ilmiah berjudul “Pembangunan Perdesaan dan Konektivitas Antar Wilayah (Desa-Kota)”.

Dalam konsep konektivitas, Prof. Entang menjelaskan bahwa pendikotomian dalam perencanaan pembangunan desa dan pembangunan kota harus dihindari. Sebaiknya, dilakukan kolaborasi di antara keduanya.

Kolaborasi ini juga berlaku di dalam penataan ruang intra dan antar perdesaan. Dengan demikian, hubungan fungsional keruangan intra dan antar perdesaan (desa-kota) yang sifatnya berjenjang bisa digantikan dengan yang sifatnya jejaring kemitraan.

Dikatakan Prof. Entang, interaksi antar wilayah akan menghasilkan spesialisasi, pertumbuhan ekonomi, efisiensi, dan berujung pada pengembangan wilayah.

“Terciptanya koneksitas atau keterhubungan antar wilayah (desa-kota) diperlukan untuk membuka ruang-ruang baru untuk menyatukan suatu zona/wilayah tertentu. Ketimpangan pembangunan antar wilayah mestinya tidak akan lagi tercipta karena pembangunan tidak berfokus di wilayah tertentu dan tanpa diskriminasi pada daerah yang dianggap terbelakang,” kata Prof. Entang.

Prof. Entang pun menyarankan adanya komitmen dan kolaborasi dari berbagai pihak untuk membangun desa dan koneksivitas antar wilayah.

“Rekomendasi yang perlu dipertimbangkan dalam kaitan pembangunan perdesaan dan koneksivitas antar wilayah (desa kota), maka kebutuhan komitmen, kolaborasi antar stakeholder dan ketersediaan data untuk menyerasikan berbagai kebijakan dalam pembangunan wilayah perdesaan dengan melihat mobilitas manusia, produksi, komoditas, modal, dan informasi menjadi sebuah keniscayaan,” kata Prof. Entang. (arm)*

Share this: