[Kanal Media Unpad] Tim KKN Universitas Padjadjaran Kelompok 41 dengan dosen pembimbing Dr. Renny Febrida, drg., M.Kes., berkolaborasi dengan Departemen Ilmu dan Teknologi Material Kedokteran Gigi (ITMKG) FKG Unpad dan UPTD Puskesmas Rusunawa menggelar Serial Bakti Sosial bertajuk “Petikemas” atau “Pemeriksaan Terintegrasi Masyarakat” di Selasar Masjid Al-Jabbar Rusunawa Cingised, Bandung, Selasa (6/2/2024).
Kegiatan Bakti Sosial ini terdiri dari pemeriksaan gigi dan mulut, skrining penyakit tidak menular, serta pemeriksaan tensi darah dan gula darah. Dalam kesempatan yang sama juga diadakan “Penyuluhan Gizi Lengkap” dengan narasumber dr. Amelia Harsanti, Sp.A.,M.Kes.
Tidak ketinggalan, terdapat pula lomba makanan sehat dan gizi seimbang yang diikuti masyarakat sekitar.
Menurut Ketua KKN Kelompok 41 Muhammad Kevin, kegiatan bakti sosial ini diintegrasikan dengan KKN karena memiliki tujuan yang sama.
“Kenapa KKN ini diintegrasikan karena tujuannya sama-sama untuk pengabdian kepada masyarakat untuk memberikan apa yang kita ketahui, pengalaman yang kita punya untuk kemudian diimplementasikan yang kita dinaungi oleh puskesmas rusunawa,” katanya.
Kevin juga berharap penyuluhan ini dapat memberikan manfaat kepada masyarakat. “Harapannya dari acara ini yang paling utama adalah tali silaturahmi, kemudian untuk penyuluhan yang diberikan bisa bermanfaat dan bisa dibagikan juga untuk teman-teman yang belum bisa hadir pada hari ini,” ungkapnya.
Sementara itu Renny mengaharapkan para mahasiswa yang melakukan KKN dibawah bimbingannya memberikan banyak kebaikan bagi masyarakat rusunawa.
“Semoga semua yang dilakukan oleh 23 mahasiswa yang mengikuti KKN disini membawa banyak kebaikan buat masyarakat di Puskesmas Rusunawa Cingised, bisa membangun karakter anak-anak 23 orang ini menjadi manusia dewasa yang mandiri, yang kuat, yang tangguh, yang lebih bijaksana,” harapnya.
PHBS untuk Pencegahan Stunting
Penyuluhan kesehatan dalam kegiatan ini membahas mengenai stunting dan perilaku hidup bersih dan sehat. Narasumber penyuluhan kesehatan anak, dr. Amelia Harsanti, Sp.A.,M.Kes mengatakan bagaimana cara kita berperilaku hidup bersih sehat membantu tumbuh kembang anak dan bisa mencegah stunting.
Berdasarkan survei status gizi Indonesia tahun 2022, posisi angka stunting di Indonesia ini ada penurunan dari 24,4% menjadi 21,6%. Meski demikian, harapan pemerintah Indonesia pada 2024 ini turun di angka 14%. Untuk itu perlu upaya bersama untuk menurunkan angka stunting ke 14%. Sementara itu, posisi Jawa Barat menurut survey tersebut angkanya berada di bawah angka nasional, yaitu ada pada 20,2%.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa stunting bisa dicegah melalui intervensi yang dilakukan pada masa sebelum kehamilan, dengan remaja putri mulai diberikan edukasi.
Selanjutnya edukasi dapat diberikan pada masa hamil dan menyusui. Penting juga pemberian ASI eksklusif pada usia anak 0-6 bulan, serta pemberian nutrisi yang baik mulai masa MPASI dari 6 bulan sampai 2 tahun pertama kehidupan.
Menurutnya, dengan menerapkan PHBS, akan tercipta masyarakat yang sadar kesehatan serta memiliki bekal pengetahuan untuk menjalani hidup bersih dan sehat. Dengan demikian, angka kejadian stunting diharapkan akan turun. (rilis)*
