[Kanal Media Unpad] Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Prof. Kusumiyati mengatakan bahwa sangat penting mengetahui kualitas pada komoditas hortikultura. Salah satunya untuk keamanan konsumen, karena produk dengan kualitas yang baik akan aman untuk dikonsumsi.
Sayangnya, pengukuran kualitas yang dilakukan pada umumnya bersifat destruktif atau merusak sampel yang digunakan, sehingga sampel tersebut selanjutnya tidak dapat dimanfaatkan lagi. Selain itu, pengujian yang dilakukan di laboratorium juga cenderung tidak ramah lingkungan karena menghasilkan limbah-limbah bahan kimia.
“Visible-near infrared spectroscopy ini adalah teknik untuk menilai kualitas buah secara non-destruktif. Cukup scanning saja, maka kita akan memperoleh hasil analisis yang cepat dan akurat, serta tidak perlu bahan kimia yang diperlukan untuk menguji kualitas tersebut,” kata Prof. Kusumiyati dalam diskusi Satu Jam Berbincang Ilmu (Sajabi) “Scanning Produk Holtikultura Non-Destruktif dengan NIR Spectrofotometer” yang diselenggarakan Dewan Profesor Unpad secara daring, Sabtu (11/5/2024).
Dalam pemaparannya Prof. Kusumiyati mengatakan, penggunaan NIR pada komoditas hortikultura dapat digunakan untuk mengetahui produk yang sudah layak untuk dipanen, pemantauan kematangan buah, serta mengukur kadar kemanisannya.
Selain itu, alat ini juga dapat digunakan untuk mengukur kadar gula, pigmen warna, menganalisis kandungan nutrisi pada tanaman, serta melihat campuran varietas pada produk yang sedang diujikan.
“Kita menguji mulai dari kandungan warna kulit, kemudian bagaimana kekerasan dari buah tomat. Pada mangga juga pernah menguji bagaimana kadar vitamin C-nya, pada cabai rawit juga bagaimana kandungan antioksidan, capsaisin, dihydrocapsaisin. Kemudian pada melon kita spesifikkan pada glukosa, fruktosa, maupun sukrosa,” ujar Prof. Kusumiyati.
Prof. Kusumiyati juga menyampaikan bahwa penelitiannya ini juga dilakukan untuk memantau kematangan pada buah sawo yang lebih sulit dipastikan kematangannya. NIR juga digunakan untuk menguji kadar air, total padatan terlarut, dan warna kulit buah pada jambu batu, serta kandungan nitrat pada tanaman bayam.
Hal menarik dari NIR Spectrofotometer tersebut adalah dengan menggunakan principal componen analysis alat ini bisa memilah atau mengklasifikasi produk yang memiliki warna berbeda dengan cepat, sehingga diharapkan komoditasnya tidak tercampur antara satu dengan yang lainnya.
Prof. Kusumiyati mengatakan, penggunaan NIR spectrofotometer sudah menunjukkan berbagai keberhasilan yang dicapai, seperti mendeteksi secara cepat dengan cara non-destruktif, hasil pengukuran yang dapat langsung dilihat di lapangan, serta dapat mengurangi biaya dan waktu pengujian analisis produk yang sedang dilakukan pengujian.
Namun, implementasi NIR spectrofotometer ini juga masih menemukan berbagai tantangan yang harus dipecahkan. Investasi peralatan ini cukup sulit dilakukan bagi petani berskala kecil karena harga yang terbilang tidak murah. Selain itu, pengetahuan petani konvensional untuk menggunakan data analisis juga tidak mudah dilakukan.
“NIR infrared spectrofotometer juga memiliki potensi yang dapat membantu mengembangkan manajemen produksi maupun pemasaran produk hortikultura, dikaitkan dengan potensi-potensi dari hasil penelitian NIR infrared spectrofotometer tersebut,” jelasnya. (arm)*
