Psikologi Dorong Generasi Muda Lakukan Perilaku Berkelanjutan

Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan lr. Sigit Reliantoro, M.Sc., menyampaikan paparan kunci dalam Psikologi Berkelanjutan di Bale Sawala, Gedung Rektorat Unpad, Jatinangor, Selasa (9/7/2024). (Foto: Dadan Triawan)*

[Kanal Media Unpad] Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan lr. Sigit Reliantoro, M.Sc. mengatakan bahwa ilmu psikologi berperan dalam mendorong perilaku berkelanjutan di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda.

Hal tersebut disampaikan Sigit  yang hadir mewakili Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Prof. Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc. dalam Kuliah Umum “A Human-Nature (Dis)Connection in the Anthropocene Epoch” di Bale Sawala, Gedung Rektorat Unpad, Jatinangor, Selasa (9/7/2024).

Kuliah umum tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara Summer Course psikologi berkelanjutan yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran dengan Studio of Continuing Education on Psychology Unpad.

Sigit mengatakan, terdapat empat faktor psikologis utama yang mempengaruhi perilaku pro-lingkungan, yaitu sikap positif terhadap lingkungan, pemahaman mengenai isu ekologi dan dampaknya, peningkatan kesadaran lingkungan melalui pendidikan, serta peningkatan kepercayaan diri lingkungan dalam kemampuan untuk membuat perbedaan.

Menurut Sigit, perilaku tersebut dapat dicapai melalui kewarganegaraan ekologis. “Hal ini menekankan keterlibatan aktif warga dalam mencapai keberlanjutan, dengan menyoroti pentingnya upaya kolektif dalam mengatasi tantangan lingkungan kita,” jelas Ir. Sigit.

Hambatan dalam keberlanjutan juga dapat muncul melalui NCET (Negative Climate Change Emotions and Thoughts) yang berasal dari ketakutan yang dipicu oleh informasi lingkungan negatif. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan adanya narasi optimistis dalam wacana publik dan mendorong keterlibatan proaktif dalam optimisme iklim.

“Hal tersebut membantu memahami tantangan yang ada secara realistis, serta menyoroti solusi efektif dan dukungan sosial untuk mencegah kerusakan lingkungan lebih lanjut,” ujarnya.

Selama beberapa dekade terakhir, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah berkomitmen untuk meningkatkan pengetahuan generasi muda di Indonesia tentang masalah keberlanjutan, seperti melalui Green Leadership Indonesia (GLI), Sekolah Adiwiyata, dan Program PROPER.

Selanjutnya, kuliah umum dilanjutkan dengan pemaparan oleh Profesor Ilmu Psikologi dan Lingkungan The College Wooster Susan Clayton, Ph.D. dengan judul “The Psychological Consequences of Global Climate Change”. Setelah itu, pemaparan oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Hilmar Farid, B.A., M.A., Ph.D., berjudul “Developing Social Cultural Ecological Worldview for Sustainable Behavior: The Anthropocene and Ecological Principles”.

Di awal acara, Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi Prof. Dr. Ir. Hendarmawan, M.Sc. mengatakan bahwa pemerintah, akademisi, hingga masyarakat telah menunjukkan kepeduliannya terhadap perubahan iklim. Perubahan iklim menciptakan adanya kesulitan dan tantangan yang juga dihadapi oleh seluruh dunia.

“Oleh karena itu, semua lembaga terus melakukan program ketahanan iklim dengan banyak penelitian dan proyek inovasi terkait dengan teknologi, IT, dan semua lembaga terus melakukan program ketahanan iklim,” ujarnya.

Prof. Hendarmawan menyebutkan bahwa permasalahan ini harus diselesaikan melalui berbagai pendekatan disiplin ilmu, salah satunya psikologi. “Saya yakin bahwa melalui fitur utama psikologi dan praktik kolektif akan memberikan hasil yang lebih baik bagi kita,” katanya. (art)*

Share this: