[Kanal Media Unpad] Kawasan Sains dan Teknologi/Science Techno Park Universitas Padjadjaran (KST Unpad) menggelar acara “Workshop Valuasi Pengujian dan Perizinan Usaha” yang diselenggarakan di UTC Hotel, Bandung, Kamis (11/7/2024).
Kegiatan tersebut bertujuan untuk membekali inventor Unpad mengenai valuasi teknologi, pengujian, dan perizinan sebagai bagian penting dalam proses hilirisasi riset.
Ketua Tim Kebijakan dan Perijinan Berusaha dan Penanaman Modal Ditjen KPAII Kementerian Perindustrian Yohanes Wahyu Prasojo, SH., MH., mengatakan, pemerintah Indonesia terus berupaya membuka kesempatan investasi yang jauh lebih luas tanpa meninggalkan aspek perlindungan terhadap usaha mikro dan kecil dalam negeri yang direalisasikan melalui UU Cipta Kerja.
Dalam perumusan substansi pengaturan UU tersebut, presiden menyetujui perubahan perspektif kebijakan investasi dari daftar negatif investasi menjadi daftar prioritas investasi dan terbuka bersyarat untuk perlindungan UMKM.
Selanjutnya, pembicara dari Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan ITB Ahdiar Romadoni menyampaikan bahwa terdapat beberapa indikasi value suatu paten atau teknologi, yaitu dapat dialihkan ke pihak lain secara legal dengan manfaat ekonomi, bisa diidentifikasi, dapat dibedakan, capable of legal enforcement, serta durasi manfaat ekonomi dan derajat kebaruan dan inventiveness (competitive advantage).
Ahdiar menjelaskan ada dua pendekatan dalam melakukan valuasi suatu teknologi atau paten, yakni valuasi kualitatif dan kuantitatif. Valuasi kualitatif mengukur potensi berdasarkan nilai komersial yang tidak menghasilkan monetary value, tetapi memiliki potensi nilai komersialisasi.
“Sedangkan valuasi kuantitatif, mengandalkan data angka-angka, dengan tujuan untuk menghitung nilai teknologi/paten berupa nilai uang (monetary value), seperti cost, income and market approaches,” kata Ahdiar.
Dalam kegiatan ini tiga inventor Unpad juga berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam proses valuasi dan pengujian hasil riset untuk mendukung inovasi dan keberhasilan komersialisasi teknologi. Kegiatan ini juga dihadiri oleh para periset Unpad yang telah berhasil mematenkan penelitiannya, serta perwakilan dari berbagai fakultas di Unpad.
Guru Besar Fakultas Farmasi Unpad Prof. Sriwidodo yang menjadi narasumber dalam acara tersebut mengatakan, hilirisasi riset berhadapan dengan dunia sesungguhnya. Dunia usaha dan industri akan menghitung kelayakan bisnis lalu masyarakat mengharapkan produk yang aman, bermutu, dan berkhasiat bermanfaat.
Optimasi sejumlah variabel tersebut membutuhkan keseimbangan antara kebutuhan pasar, kekuatan ilmiah, dan pemasaran.
“Hilirisasi bukan akhir dari suatu penelitian, namun awal mengarungi dunia komersialisasi,” ujar Prof. Sriwidodo.
Prof. Sriwidodo menambahkan untuk mendorong hilirisasi riset Unpad maka peneliti disarankan memiliki hibah, baik internal maupun eksternal Unpad. Hal tersebut karena untuk masuk tahapan hilirisasi, dibutuhkan rekam jejak dan inovasi yang memiliki nilai jual bagi mitra. Khususnya, Unpad yang memperbanyak hibah hilirisasi dan inovasi melalui Direktorat Inovkor dan KST.
“Unpad perlu memiliki fasilitas teaching factory bahan baku farmasi serta captive market. Warga Unpad beserta jejaringnya harus segera dimanfaatkan agar hilirisasi inovasi mendapat awalan kuat untuk melompat di market yang lebih keras,” jelas Prof. Sriwidodo.
Manajer Pengembangan Inovasi Bisnis, Teknologi, dan Kepakaran Unpad STP Budi Harsanto mengatakan workshop tersebut penting untuk diselenggarakan karena mengetahui nilai dari invensi sangat penting bagi para inventor, terutama ketika berkomunikasi dengan mitra industri atau calon investor, serta pengujian dan perijinan.
Direktur Inovasi dan Korporasi Unpad Prof. Tomy Perdana yang menutup acara mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan workshop tersebut. Prof. Tomy berharap kegiatan ini dapat dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan informal bersama para inventor untuk selanjutnya lebih siap menuju hilirisasi inovasi. (arm)*
