[Kanal Media Unpad] Indonesia memiliki beban kasus tuberkulosis terbesar kedua di dunia, dengan sekitar 1 juta kasus baru per tahun dengan 140 ribu kematian per tahun. Proses diagnosis kasus tuberkulosis sendiri dinilai memerlukan biaya sangat besar.
“Indonesia setidaknya membutuhkan biaya Rp 2,9 Triliun untuk melakukan diagnosis 1 juta kasus tuberkulosis,” ujar Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Prof. dr. Bachti Alisjahbana, Sp.PD-KPTI., PhD.
Hal tersebut disampaikan Prof. Bachti saat menyampaikan orasi ilmiah “Upaya meningkatkan Akses Diagnosis Tuberkulosis untuk Eliminasi TB di Indonesia” pada Upacara Pengukuhan dan Orasi Ilmiah Jabatan Guru Besar Bidang Ilmu Infeksi yang digelar di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Bandung, Rabu (24/7/2024).
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Bachti berfokus pada kondisi diagnosis tuberkulosis di Indonesia saat ini. Anggaran nasional untuk pengentasan tuberkulosis di Indonesia baru sekitar Rp 3 T. Selain untuk pencarian kasus aktif, anggaran tersebut juga harus mencakup biaya obat, sumber daya manusia dan proses operasional lainnya.
Angka Rp 2,9 T tersebut didasarkan dari penghitungan estimasi biaya penemuan kasus aktif berdasarkan hasil riset yang dilakukan Prof. Bachti dan tim. Pada 2016 – 2018, Prof. Bachti dan tim melakukan riset “Intensified Case Finding” terhadap kasus tuberkulosis di wilayah Bogor.
Riset survei dilakukan kepada 5.778 pengunjung puskesmas di wilayah Bogor. Seluruh responden dilakukan dengan beberapa tahap diagnosis TB, yaitu melalui wawancara, foto rontgen dada, serta uji sampel dahak dengan menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM).
Hasilnya, tim menemukan ada 917 pasien bergejala TB. Setelah dilakukan pemeriksaan TCM ditemukan 136 kasus terkonfirmasi tuberkulosis, atau sekira 3,5 persen dari total pasien bergejala.
“Angka ini kira-kira bisa lima kali lebih tinggi dari angka prevalensi di Indonesia,” ujarnya.
Sementara dari total pasien tidak bergejala, tim juga menemukan sekitar 54 kasus atau 1,1 persen yang terkontaminasi tuberkulosis.
Lebih lanjut Ketua Pusat Riset Perawatan dan Pengendalian Penyakit Infeksi Unpad tersebut menjelaskan, total biaya pemeriksaan TCM untuk 917 pasien bergejala adalah sebesar Rp 169 juta. Sementara total biaya pemeriksaan rontgen dan TCM untuk 4.865 pasien tidak bergejala memerlukan biaya Rp 443,5 juta. Bila digabungkan, total biaya yang diperlukan sebesar Rp 613,2 juta atau sekira Rp 2,9 juta untuk setiap kasus yang ditemukan.
Jika diimplementasikan secara nasional untuk 1 juta kasus TB yang dikejar, Indonesia setidaknya memerlukan biaya sebesar Rp 2,9 T. Biaya ini hanya untuk diagnosis. “Dari hitung-hitungan ini kita bisa melihat jelas bahwa kita belum mampu implementasikan pencarian kasus aktif secara jelas dan masif,” kata Prof. Bachti.*
