Kekayaan Intelektual Bagian Penting Pertumbuhan Ekonomi Daerah dan Nasional

Workshop dan Business Matching yang digelar Science Techno Park (STP) Unpad di Bandung, Selasa (8/10/2024). (Foto Dokumentasi STP Unpad)*

[Kanal Media Unpad] Pengembangan potensi kekayaan intelektual merupakan bagian penting dari pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional. Potensi kekayaan intelektual mencakup hasil inovasi dan kreativitas manusia dalam mengolah sumber daya alam maupun budaya menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Selain itu, juga termasuk perlindungan terhadap merek, paten, desain industri, hak cipta, dan indikasi geografis.

“Perlindungan ini tidak hanya memperkuat posisi produk lokal di pasar, tetapi juga memastikan keberlanjutan dan pelestarian budaya serta alam daerah,” kata Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan HAM, Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Barat Andrieansjah saat Workshop Validasi Pasar, Kekayaan Intelektual dan Business Matching yang digelar Universitas Padjadjaran melalui Science Techno Park (STP) di Bandung, Selasa (8/10/2024).

Kegiatan dibuka Direktur Inovasi dan Korporasi Unpad Prof. Tomy Perdana dan Direktur Unpad STP Prof. Edy Sunardi dan dihadiri para inovator, akademisi, dan mitra industri. Kegiatan tersebut bertujuan untuk memperkuat kolaborasi antara dunia usaha dan inovasi akademis. Adapun kegiatan business matching dipandu Dr. Helitha Novianty.

Dalam paparannya, Andrieansjah mengatakan pentingnya membangun ekosistem kekayaan intelektual yang kuat dan berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia, khususnya di Jawa Barat. Apalagi Jabar memiliki potensi besar kekayaan intelektual yang besar, termasuk dari inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi.

“Jabar salah satu yang maju karena kampusnya, seperti Unpad dengan Sains Technopark bagus sekali karena sudah menjalankan ekosistem kekayaan intelektual,” ujarnya.

Wakil Ketua Umum Bidang Teknologi Industri Energi Pendidikan dan Vokasi Kadin Jabar, Hadi S. Cokrodimejo, mengatakan hilirisasi riset dan penguatan vokasi sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan pada impor serta mendukung pertumbuhan industri dalam negeri perlu terus didorong. Menurutnya, nilai impor Indonesia mencapai Rp1.000 triliun hingga Rp1.200 triliun, dapat ditekan jika lebih dari separuh kebutuhan tersebut bisa diproduksi secara lokal.

Untuk mencapai tujuan tersebut, lanjutnya, ada lima hal penting yang perlu diperbaiki, yakni regulasi penggunaan produk lokal, katalog riset perguruan tinggi, penyamaan persepsi antara industri dan akademisi, pembangunan trust, serta dukungan bagi UMKM.

Berdasarkan pengalamannya, Dosen Departemen Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran yang juga inventor, Noir Primadona Purba, mengatakan, untuk mengomersialisasikan inovasi yang dihasilkan, dosen membutuhkan dukungan dari mitra industri. Alasannya dosen memiliki keterbatasan dalam mengakses pasar. 

“Secara umum dosen bukan ahli penjualan sehingga untuk validasi pasar memerlukan mitra industri yang lebih mengerti pasar,” katanya.

Inovasi yang dihasilkan Noir adalah alat yang bernama RHEA” (Drifter GPS Oceanography Coverage Area) yang dapat digunakan untuk mengukur parameter kualitas air laut otomatis. Alat yang dihasilkan telah dikirimkan ke negara Fiji, di kawasan Pasifik. Selain itu, rencananya akan dikirim ke Papua Nugini dan Kepulauan Solomon.

Dipaparkan, alat tersebut mampu turun hingga kedalaman 200 meter secara otomatis dan mengirimkan data langsung melalui satelit. Data yang diperoleh berperan penting dalam menyediakan data lingkungan laut secara real-time, terutama untuk memantau perubahan iklim dan kenaikan suhu air laut yang berpengaruh pada kondisi cuaca global.

Manajer Pengembangan Inovasi Bisnis, Teknologi dan Kepakaran Unpad STP Budi Harsanto mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari inkubasi dan hilirisasi Unpad STP untuk membekali inventor Unpad dengan pengetahuan tentang validasi pasar dan kekayaan intelektual. Kegiatan tersebut sekaligus memfasilitasi inventor untuk dapat bermitra dengan industri. * (Rilis STP Unpad)

Share this: