[Kanal Media Unpad] Dalam sejarah dakwah Nabi Muhammad SAW, terdapat banyak peristiwa yang menunjukkan tantangan besar dalam menyebarkan ajaran Islam di tengah masyarakat Mekah yang kental dengan budaya jahiliyah. Proses dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad tidak lepas dari pro-kontra, terutama dari kalangan mereka yang memiliki kepentingan pribadi. Sebagian besar penolakan terhadap ajaran Nabi bukan karena ketidakpercayaan terhadap kebenaran yang dibawa, melainkan karena ancaman terhadap kepentingan mereka yang sudah mengakar dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
“Nabi Muhammad SAW, 15 abad yang lalu, telah berusaha dan berhasil membangun sebuah umat yang tidak didasarkan pada agama, etnis, atau suku, tetapi berdasarkan kesamaan visi dan misi,” jelas Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, M.A., Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul ‘Ulama periode 2010-2021 dalam Kuliah Umum Tahapan Persiapan Bersama (TPB) Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Padjadjaran yang diselenggarakan di Masjid Raya Unpad Jatinangor, Jumat, 29 November 2024.
Kegiatan kuliah umum tersebut diikuti oleh ribuan mahasiswa semester pertama dari berbagai jurusan di Universitas Padjadjaran. Acara ini diselenggarakan sebagai bagian dari pembelajaran mata kuliah TPB PAI, yang bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai perjuangan dakwah Nabi Muhammad SAW, serta nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam.
Dalam paparannya, Prof. Said menjelaskan sikap Nabi Muhammad SAW terhadap non-muslim serta cara beliau mengelola keberagaman di Madinah setelah hijrah. Nabi Muhammad tidak pernah memaksa orang untuk masuk Islam, melainkan lebih memilih untuk membangun masyarakat yang inklusif dan adil, di mana setiap individu, baik muslim maupun non-muslim, diperlakukan sama di mata hukum. Sikap adil ini tercermin dalam berbagai keputusan Nabi, termasuk perlindungannya terhadap hak-hak non-muslim di Madinah.
“Tidak boleh ada permusuhan karena dia memiliki agama yang berbeda dengan kita. Mari kita bangun kembali persaudaraan, saling menyapa dengan silaturahmi, dan kembali mengedepankan kasih sayang satu sama lain,” ajak Prof. Said.
Pada kesempatan tersebut, Dr. Mumuh Muhsin Zakaria, M.Hum. selaku Wakil Dekan II Fakultas Ilmu Budaya Unpad turut memberi sambutan. Mumuh mengatakan bahwa kuliah umum ini merupakan inisiatif para dosen PAI untuk memberikan jawaban atas kebingungan yang sering kali muncul di kalangan kaum muda, khususnya mahasiswa, mengenai wajah Islam yang sejati. Selain itu, juga untuk membuka wawasan tentang bagaimana Islam seharusnya dipahami dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
“Mudah-mudahan kuliah umum ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi kita semua, terutama dalam memberikan pencerahan tentang wajah Islam seperti apa yang seharusnya kita tampilkan,” ujar Mumuh.*





