[Kanal Media Unpad] Pusat Digitalisasi dan Pengembangan Budaya Sunda (SundaDigi) Universitas Padjadjaran menyelenggarakan pagelaran seni bertajuk “Wayang Ajén Diversity” sebagai bagian dari Pagelaran Balé Rumawat Padjadjaran Ke-103. Kegiatan ini dilaksanakan di Graha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jl. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Jumat, 17 Januari 2025. Dihadiri oleh kurang lebih 700 orang, kegiatan ini menjadi wujud komitmen Unpad dalam melestarikan dan mengembangkan budaya Sunda melalui medium seni tradisional.
“Saat ini, orang-orang sudah jarang menonton wayang, dan pagelarannya pun semakin jarang. Maka dari itu, penting bagi kita untuk memperkenalkannya agar mereka kembali antusias,” ujar Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA, salah satu penggagas pagelaran seni ini bersama dengan Ki Dalang Wawan Ajen.
Pagelaran Balé Rumawat Padjadjaran kali ini hadir dengan keunikan tersendiri, dengan melibatkan partisipasi anak-anak sekolah dalam acara tersebut. Pertunjukan kolaborasi dari 11 dalang Generasi Alfa pada hari pertama dan 5 dalang Generasi Z pada hari kedua menjadi puncak acara dalam pagelaran seni ini. Kedua generasi dalang Wayang Ajen ini menyuguhkan dua lakon epik, menampilkan perpaduan seni tradisional dengan semangat muda.
Desi Oktoriana, salah satu guru dari SDN 173 Neglasari, menyampaikan antusiasme sekolahnya dalam mengikuti pagelaran Wayang Ajen di Unpad Menurutnya, kegiatan ini menjadi pengalaman yang istimewa karena jarang sekali ada kegiatan dari tingkat universitas yang melibatkan anak-anak dari jenjang SMA, SMP, SD, hingga TK.
“Ada kebanggaan tersendiri bagi orang Sunda melihat keterlibatan sivitas akademika yang menunjukkan kepedulian terhadap anak-anak. Hal seperti ini jarang terjadi, Unpad telah melakukan hal yang tepat. Harus ada jembatan antara dunia perkuliahan dengan pendidikan di tingkat SD, SMP, atau SMA untuk menciptakan hubungan yang lebih erat dan bermakna,” kata Desi.
Rakean, salah satu siswa SD BPI Bandung, mengungkapkan rasa ketertarikannya saat menghadiri pagelaran Wayang Ajen ini. Ia mengaku datang secara sukarela karena penasaran dengan seni wayang tersebut.
“Saya tahu tentang Wayang Ajen dari orang tua dan memutuskan untuk datang ke sini karena ingin melihat langsung,” ujar Rakean. Ia juga menyampaikan harapannya, “Semoga budaya Sunda semakin terkenal di mata dunia.”
Melalui pendekatan yang dilakukan oleh SundaDigi Unpad, Wayang Ajen Diversity tidak hanya berperan dalam melestarikan budaya Sunda, tetapi juga memodernisasikannya agar tetap relevan dan hidup di era globalisasi. Pagelaran ini menjadi upaya nyata untuk tidak sekadar menerima warisan seni tradisional apa adanya, tetapi juga menciptakan warisan baru yang dapat diteruskan kepada generasi mendatang, termasuk anak-anak yang belum lahir.
Pada hari kedua, pagelaran ini dihadiri oleh Prof. Sutrisna Wibawa, Guru Besar Filsafat Jawa yang juga pernah menjabat Rektor Universitas Negeri Yogyakarta. Prof. Sutrisna mengaku sangat mengapresiasi dan menikmati pagelaran ini. Menurutnya, Wayang Ajen bisa masuk ke semua generasi sehingga bisa menjadi upaya regenerasi pelaku budaya.
“Saya tidak mengira jika pagelaran ini merupakan perpaduan budaya Sunda dan Jawa, bahkan ada tarian Nusantara juga. Ini bukan sekadar wayang kulit dan wayang golek bergantian, tetapi ada perpaduan antara budaya Sunda dan budaya Jawa. Inovasi yang ditampilkan juga luar biasa, tadi terlihat ada fungsi multimedianya,” ujar Prof. Sutrisna.
Sementara Toha, seorang penikmat wayang, mengaku kagum dengan pagelaran ini. “Saya baru menonton pagelaran seperti ini seumur hidup. Ini gabungan antara wayang kulit dan wayang golek, ditambah tarian. Yang juga mengagumkan adalah tata sinarnya yang luar biasa. Apalagi ini merupakan kaderisasi pengenalan budaya kepada anak-anak, jadi kita tidak khawatir dengan kelanjutan budaya ini,” ujar Toha.*

















