Negara Perlu Lakukan Upaya Strategis untuk Mereposisi Buruh Perempuan

Dr. Suwandi Sumartias, M.Si., ketika memberikan Orasi Ilmiah berkenaan dengan Dies Natalis ke-52, Selasa (18/09).* (Foto: Tedi Yusup)

[Unpad.ac.id, 18/09/2012] Buruh perempuan Indonesia merupakan sumber daya manusia yang potensial dan memiliki peran serta kedudukan yang strategis baik di dalam keluarga dan masyarakat. Dengan perannya yang sangat signifikan tersebut, buruh perempuan dapat menjadi pelopor, penggerak serta pendukung keberhasilan pembangunan nasional.

Dr. Suwandi Sumartias, M.Si., ketika memberikan Orasi Ilmiah berkenaan dengan Dies Natalis ke-52, Selasa (18/09).* (Foto: Tedi Yusup)

“Populasi pekerja perempuan terdapat sebesar 39,8 juta jiwa, 37,9% dari seluruh jumlah pekerja 104,87 juta jiwa, dan partisipasi pekerja perempuan akan terus meningkat,” ujar Dr. Suwandi Sumartias, M.Si., ketika memberikan Orasi Ilmiah berkenaan dengan Dies Natalis ke-52 Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unpad dengan judul “Eksistensi Buruh Perempuan  di Era Globalisasi” di Aula Moestopo Gedung  4 Lantai 3 Kampus Fikom Unpad Jatinangor, Selasa (18/09).

Menurutnya, dengan semakin banyaknya pekerja perempuan dalam sektor industri, maka industri dalam hal ini pihak perusahaan memiliki potensi yang besar pula dalam mendukung pencapaian Millenium Development Goals (MDGs), khususnya dalam meningkatkan derajat kesehatan ibu (pekerja). Lebih lanjut, hal tersebut juga akan berdampak pula pada penurunan angka kematian Balita.

Namun menurut Dr. Suwandi, diantara berbagai macam potensi yang dimiliki para buruh perempuan tersebut, hingga saat ini kaum tersebut masih saja dihadapkan pada pergulatan sosial, perdebatan dan perjuangannya. Buruh perempuan itu masih harus menghadapi berbagai macam persoalan umum, seperti minimnya hak normatif yang justru dimiliki oleh seorang kaum hawa, seperti cuti haid dan cuti melahirkan.

“Di pabrik itu problemnya, tidak ada cuti haid, cuti hamil, melahirkan juga tidak ada. Biasanya kalau hamil itu di-PHK, dirumahkan, diputus kontrak,” terang Suwandi.

Ia juga menjelaskan bahwa keberadaan buruh perempuan pun kembali terusik manakala liberalisasi dan pasar bebas muncul di Indonesia. Ketidaksiapan negara dalam mengantisipasi perubahan global telah menampilkan sosok para buruh yang rendah keterampilan dan pendidikannya, khususnya perempuan ketika masuk pada wilayah kompetisi industri yang sangat massif dan signifikan.

Para buruh perempuan juga dijadikan modal sosial perusahaan dalam meraih keuntungan perusahaan. Dalam hal ini, buruh perempuan mengalami komodifikasi. Situasi ini juga telah masuk dan diatur secara formal melalui UU Ketenagakerjaan No. 13/2003. Hal tersebut juga berdampak luar biasa dimana berbagai penyimpangan, eksploitasi, diskriminasi terhadap buruh perempuan seakan menjadi pemandangan yang lumrah terjadi.

Fenomena lainnya yang terjadi adalah permintaan pasar internasional terhadap tenaga kerja perempuan yang meningkat tajam dalam beberapa dekade terakhir. Peningkatan tersebut juga berbanding lurus dengan jumlah Tenaga Kerja Wanita yang mendominasi total Tenaga Kerja Indonesia yang tersebar di seluruh penjuru dunia.

Namun, dominasi perempuan tersebut tidak sebanding dengan apa yang dihasilkan oleh perempuan. Secara rata-rata, setiap satu dolar yang dihasilkan laki-laki, perempuan hanya menghasilkan 80 sen. “Ketimpangan pendapatan antara perempuan dan laki-laki ini sangat tidak sebanding dengan tingginya risiko perempuan menjadi korban human trafficking dibandingkan laki-laki,” ujarnya.

Melihat berbagai macam fenomena tersebut, ia menyampaikan bahwa sudah semestinya negara dengan segala kapasitas dan kapabilitas yang dimilikinya dapat mengambil berbagai strategi dan taktik untuk melakukan reposisi buruh perempuan dalam relasi industri, ekonomi, budaya, dan sosial politik. Negara dapat berperan antara lain dengan bersungguh-sungguh mengelola dan mengentaskan persoalan-persoalan normatif yang dihadapi buruh-buruh perempuan dan mengkaji ulang tentang undang-undang ketenagakerjaan khususnya yang berkaitan dengan hak-hak perempuan.

Selain Orasi Ilmiah, Peringatan Dies Natalis ke-52 Fikom Unpad yang mengambil tema “Tantangan Ilmu Komunikasi dalam Mengatasi Human Trafficking melalui Pemberdayaan Perempuan” ini juga diisi dengan penyerahan 6 buah buku karya dosen Fikom Unpad kepada Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia.

Beberapa mahasiswa dan dosen yang telah mengharumkan nama Fikom Unpad juga turut mendapatkan penghargaan atas prestasinya. Selain itu, penghargaan khusus juga diberikan Fikom Unpad kepada salah satu putra terbaik mereka yang beberapa waktu lalu dipanggil oleh yang Maha Kuasa, Dr. Elvinaro Ardianto, Msi.*

Laporan oleh: Indra Nugraha/mar*

Share this: