





[Kanal Media Unpad] Di era saat identitas dibentuk lewat algoritma dan makna sering kali ditukar dengan angka impresi, kurban hadir sebagai pengingat yang tajam, bahwa hidup bukan sekadar soal memiliki, tapi soal melepaskan. Bukan tentang tampil, tapi tentang tulus. Di tengah disrupsi digital dan krisis makna yang menyelimuti zaman ini, ibadah kurban semakian menemukan relevansinya.
“Banyak orang sibuk membangun citra -mengatur pencahayaan, memilih kata, menunggu likes-namun sering lupa membangun keheningan dalam jiwa. Kita terseret dalam rutinitas digital, notifikasi yang tiada henti, rapat daring yang saling menabrak, media sosial yang terus menuntut perhatian, hingga lupa bertanya untuk apa semua ini jika kehilangan arah hidup yang sejati?” ujar Prof. Toni Toharudin, saat menjadi khatib pada pelaksanaan salat Iduladha yang diselenggarakan oleh DKM Masjid Al-Jihad Universitas Padjadjaran di Lapangan Parkir Utara Unpad Jl. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Jumat 6 Juni 2025.
Kurban, lanjut Prof. Toni, mengajak kita menyembelih sesuatu yang lebih dalam dari sekadar hewan ternak. Ia mengajak kita menyembelih ego yang haus pengakuan, nafsu yang rakus perhatian, dan ambisi yang tak tahu cukup. Ia mengajarkan bahwa spiritualitas bukan pelarian, tapi kompas yang menunjukkan bahwa hidup paling bermakna bukan saat kita menggenggam segalanya, tapi saat kita rela memberi dengan ikhlas.
Prof Toni mengatakan, dalam dunia sains data, dikenal istilah loss function dalam machine learning. Untuk mencapai akurasi model yang tinggi, sistem harus rela kehilangan sebagian efisiensi. Begitu pula manusia, untuk sampai pada kedewasaan iman, kita harus rela mengorbankan kenyamanan dan ego.
“Kurban juga menjadi bentuk rehumanisasi. Di era digital, manusia mudah dilihat sebagai angka, rating, traffic, atau engagement. Di tengah dunia yang semakin riuh oleh konten dan pencitraan, kita perlu bertanya: Apakah kita masih memiliki ruang sunyi untuk mendengar suara hati dan suara Tuhan? Kita perlu mengambil jeda dari dunia digital untuk menyambung kembali rel spiritual kita,” ujar Prof. Toni yang merupakan Guru Besar FMIPA Unpad.
Prof. Toni mengingatkan, kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tapi tentang menyembelih kegaduhan batin yang dibungkus oleh algoritma. Ia mengajak kita menarik napas, menepi sejenak dari hiruk-pikuk layar, dan menundukkan ego yang kian besar dalam diam-diam. Maka, kurban bisa juga berarti ajakan untuk menyembelih ego, bukan menonjolkan citra. Di dunia yang semakin digital dan kehilangan makna, kurban menjadi oase spiritual yang mengajarkan bahwa yang sejati adalah yang tersembunyi, yang abadi adalah yang ikhlas.
“Kita tidak sedang diminta untuk meninggalkan teknologi. Kita hanya diminta untuk menggunakannya dengan bijak, dengan niat lurus, dan dengan semangat berbagi, bukan menumpuk. Dengan teknologi, kita bisa menyalurkan kurban lebih cepat dan luas. Tapi jiwa ibadah tetap harus hadir: keikhlasan, keberpihakan, dan cinta kasih,” ujarnya.



Jatinangor
Salat Iduladha juga diselenggarakan oleh DKM Masjid Raya Unpad di MRU “Bale Aweuhan” Kampus Jatinangor dengan khatib Dr. Eka Kurnia Firmansyah, dosen Fakultas Ilmu Budaya Unpad. Khotib mengingatkan, setidaknya ada tiga pesan yang bisa diperoleh dari kisah tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail serta ritual penyembelihan hewan kurban.
Pertama, tentang totalitas kepatuhan kepada Allah Swt. Nabi Ibrahim membuktikan bahwa dirinya sanggup mengalahkan egonya untuk tujuan mempertahankan nilai-nilai Ilahi. Sementara Nabi Ismail mampu membuktikan diri sebagai anak berbakti dan patuh kepada perintah Tuhannya.
Pelajaran kedua adalah tentang kemuliaan manusia. Dalam kisah itu di satu sisi kita diingatkan untuk jangan menganggap mahal sesuatu bila itu untuk mempertahankan nilai-nilai ketuhanan, namun di sisi lain kita juga diimbau untuk tidak meremehkan nyawa dan darah manusia. Penggantian Nabi Ismail dengan domba adalah pesan nyata bahwa pengorbanan dalam bentuk tubuh manusia –sebagaimana berlangsung dalam tradisi sejumlah kelompok pada zaman dulu– adalah hal yang diharamkan. Larangan mengorbankan manusia sebetulnya penegasan kembali tentang luhurnya kemanusiaan di mata Islam dan karenanya mesti dijamin hak-haknya.
Pelajaran ketiga adalah tentang hakikat pengorbanan. Sedekah daging hewan kurban hanyalah simbol dari makna korban yang sejatinya sangat luas, meliputi pengorbanan dalam wujud harta benda, tenaga, pikiran, waktu, dan lain sebagainya. Pengorbanan merupakan manifestasi dari kesadaran kita sebagai makhluk sosial. Kita perlu “menyembelih” ego kebinatangan kita, untuk menggapai kedekatan (qurb) kepada Allah karena esensi kurban adalah solidaritas sesama dan ketulusan murni untuk mengharap keridhaan Allah.*



