Universitas Padjadjaran Kukuhkan Tujuh Guru Besar Baru

Pengukuhan Jabatan Guru Besar Universitas Padjadjaran yang diselenggarakan di Graha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Jl. Dipati Ukur 35 Bandung pada Selasa, 8 Juli 2025. (Foto oleh: Jalasenastri Saprala)*

[Kanal Media Unpad] Universitas Padjadjaran mengukuhkan tujuh Guru Besar dalam Pengukuhan Jabatan Guru Besar Unpad yang berlangsung di Graha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Jl. Dipati Ukur No. 35 Bandung pada Selasa, 8 Juli 2025. Pengukuhan yang diisi dengan paparan keilmuan dari masing-masing Guru Besar tersebut dibuka oleh Rektor Unpad, Prof. Arief S. Kartasasmita, dan dipimpin oleh Ketua Dewan Profesor Unpad, Prof. Arief Anshory Yusuf.

Tujuh Guru Besar tersebut adalah Prof. Budi Harsanto, S.E., M.M., Ph.D., PGCert HE., FHEA. dan Prof. Sunu Widianto, S.E., M.Sc., Ph.D. dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Prof. Dr. Caroline Paskarina, S.IP., M.Si., Prof. Dra. Binahayati Rusyidi, M.SW., Ph.D., Prof. Junardi Harahap, S.Sos., M.Si., M.Si., Ph.D. dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, serta Prof. Dr. Uud Wahyudin, S.Sos., M.Si., dan Prof. Dr. Agus Rusmana, Drs. M.A. dari Fakultas Ilmu Komunikasi.

Guru Besar bidang Ilmu Manajemen Inovasi Berkelanjutan, Prof. Budi Harsanto, menyampaikan paparan keilmuan berjudul “Manajemen Inovasi Berkelanjutan di Era Disrupsi Global”. Prof. Budi menjelaskan bahwa manajemen inovasi berkelanjutan menjadi pendekatan krusial bagi perusahaan untuk tetap relevan dan bertahan dalam lanskap global yang terus berubah. Dengan mengintegrasikan berbagai teori strategis dan merumuskan enam dimensi kunci, pendekatan ini tidak hanya mendorong inovasi yang adaptif, tetapi juga memastikan keberlanjutan lingkungan dan sosial.

“Salah satu pendekatan strategis yang relevan untuk menjawab kebutuhan tersebut adalah manajemen inovasi berkelanjutan (sustainability innovation management). Manajemen inovasi berkelanjutan merupakan pengembangan lebih lanjut dari konsep inovasi,” papar Prof. Budi.

Sementara Guru Besar bidang Politik Kontemporer, Prof. Caroline Paskarina, memaparkan paparan keilmuan berjudul “Dari Otoritas ke Otomatisasi: Memaknai Kembali Praksis Kekuasaan di Era Digital dan Implikasinya  bagi Ilmu Politik”. Prof. Caroline mengatakan bahwa disrupsi teknologi informasi telah mengubah lanskap kekuasaan dan tata kelola politik secara fundamental. Teknologi tidak hanya menjadi alat bantu, tetapi juga aktor yang membentuk pola relasi sosial, kontrol, dan pengambilan keputusan. Partisipasi politik digital menawarkan peluang untuk membangun tatanan kuasa yang lebih inklusif dan partisipatif.

“Tantangan kuat bagi Ilmu Politik saat ini adalah memperkuat peran kritisnya dalam memahami dan membingkai ulang kekuasaan digital, bukan sekadar menambahkan isu baru ke dalam kurikulum Ilmu Politik. Dengan menggunakan perspektif politik kontemporer, kita akan menelusuri bagaimana teknologi dan kekuasaan saling mempengaruhi dalam membentuk tatanan pengaturan di berbagai dimensi kehidupan manusia,” jelas Prof. Caroline.

Guru Besar bidang Pendidikan Kesejahteraan Sosial Internasional, Prof. Binahayati Rusyidi, memberikan paparan keilmuan berjudul “Kekerasan Terhadap Perempuan Dan Perubahan Iklim: Implikasi Terhadap Penguatan Orientasi Lingkungan Hidup Dan Keadilan Gender Dalam Pendidikan Kesejahteraan Sosial”. Prof. Binahayati menjelaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan dampak perubahan iklim merupakan dua isu besar yang saling berkaitan. Oleh karena itu, upaya penanggulangan perubahan iklim harus memperhatikan dimensi keadilan gender dengan mendorong partisipasi aktif perempuan serta memastikan akses yang setara terhadap sumber daya dan perlindungan sosial, agar tercipta ketahanan yang inklusif dan berkelanjutan.

“Perubahan iklim bukan hanya merupakan isu lingkungan hidup namun isu sosial yang menimbulkan dampak negatif terhadap tercapainya keadilan sosial. Kolaborasi dengan lintas keilmuan, profesi, atau wilayah geografis dalam pengembangan keilmuan, praktik dan riset menjadi sangat krusial dalam upaya transformasi lembaga pendidikan kesejahteraan sosial,” ujar Prof. Binahayati.

Guru Besar bidang Ilmu Antropologi Kesehatan, Prof. Junardi Harahap, memaparkan keilmuannya yang berujudul “Pengobatan Ethnomedicine dalam Perspektif Holistik”. Prof. Junardi mengatakan bahwa pengobatan tradisional bukan hanya bagian dari sistem pelayanan kesehatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, tetapi juga mencerminkan warisan budaya yang bernilai. Praktik ini terus hidup melalui proses pewarisan budaya, termasuk yang berbasis kepercayaan dan agama seperti Islam, yang menunjukkan efektivitas dan diterima luas oleh masyarakat.

“Pengobatan ethnomedicine mengalami perkembangan yang pesat, karena aspek kemanjuran serta juga keyakinan daripada pasien sehingga hasil yang diperoleh signifikan untuk mendapatkan kesembuhan dengan menggunakan praktik pengobatan berbasis agama Islam,” papar Prof. Junardi.

Guru Besar bidang Ilmu Kepemimpinan Strategik dan Perilaku Organisasi, Prof. Sunu Widianto, memberikan paparan keilmuan berjudul “AI-Enabled Humanized Leadership Decision Making: Individual and Team”. Prof. Sunu menjelaskan bahwa di tengah pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI), tantangan kepemimpinan modern terletak pada kemampuan untuk memanfaatkan AI sebagai alat bantu pengambilan keputusan tanpa mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Kepemimpinan ideal tidak sekadar data-driven, tetapi juga mampu menjaga martabat manusia, mendorong kolaborasi yang adil, serta memperkuat kualitas hubungan antarindividu dalam organisasi.

“Kepemimpinan di abad ini bukan hanya soal efisiensi dan produktivitas, tetapi juga tentang menjaga martabat manusia. Oleh karena itu, terdapat tiga refleksi penting yaitu teknologi akan terus berubah tetapi nilai kemanusiaan harus tetap menjadi kompas, AI adalah alat bukan pengganti tanggung jawab moral seorang pemimpin, dan kepemimpinan masa depan adalah kepemimpinan yang data-driven, tetapi juga soul-driven,” ujar Prof. Sunu.

Guru Besar bidang Ilmu Komunikasi Pemasaran Pariwisata, Prof. Uud Wahyudin, memaparkan keilmuan berjudul “Penerapan Model Pentahelix dalam Pariwisata Berkelanjutan di Indonesia”. Prof. Uud memaparkan bahwa tantangan pengembangan pariwisata adalah menciptakan sistem yang lebih berkelanjutan dan berkualitas serta memperhatikan makna pengalaman wisata, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat lokal. Pendekatan pariwisata berkelanjutan menolak praktik yang terstandarisasi dan terkomodifikasi secara berlebihan, serta mendorong partisipasi aktif semua pemangku kepentingan melalui model pentahelix.

“Keberhasilan pariwisata berkelanjutan di Indonesia sangat bergantung dari penerapan model pentahelix. Model pentahelix akan berhasil optimal diterapkan dalam pariwisata yang adil dan berkelanjutan jika pemerintah mau dan mampu merangkul segenap elemen pentahelix lainnya, untuk secara masif dan progresif bekerjasama dalam meningkatkan pariwisata berkelanjutan,” jelas Prof. Uud.

Guru Besar bidang Ilmu Literasi Media Digital, Prof. Agus Rusmana, menjelaskan orasi ilmiah berjudul “Membangun Literasi Media Digital sebagai Fondasi Kesejahteraan Masyarakat”. Prof. Agus menyampaikan bahwa literasi media digital merupakan kompetensi esensial yang telah menjadi bagian dari kehidupan. Oleh karena itu, diperlukan upaya serius melalui pendidikan dan kebijakan publik untuk mendorong literasi media digital di semua lapisan masyarakat, menjadikannya fondasi penting bagi kehidupan yang lebih cerdas, aman, dan sejahtera di era digital.

“Literasi media digital merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh setiap pengguna media sosial. Diperlukan pendidikan informal dan sosialisasi kepada semua lapisan masyarakat serta penelitian yang hasilnya akan dijadikan dasar pembuatan kebijakan dan peraturan pemerintah untuk pengendalian penggunaan media sosial,” ujar Prof. Agus.

Pengukuhan Guru Besar Unpad tidak hanya menjadi bentuk pengakuan atas kontribusi dalam keilmuan, tetapi juga memperkuat komitmen Unpad dalam mendorong pengembangan ilmu pengetahuan yang relevan dengan tantangan zaman. Melalui orasi-orasi ilmiah yang mencakup isu-isu strategis lintas bidang, Unpad menegaskan perannya sebagai pusat keunggulan akademik yang siap menjawab kebutuhan masyarakat dan dunia.

Buku Paparan Keilmuan:

  1. Prof. Budi Harsanto, S.E., M.M., Ph.D., PGCert HE., FHEA.
  2. Prof. Sunu Widianto, S.E., M.Sc., Ph.D.
  3. Prof. Dr. Caroline Paskarina, S.IP., M.Si.
  4. Prof. Dra. Binahayati Rusyidi, M.SW., Ph.D.
  5. Prof. Junardi Harahap, S.Sos., M.Si., M.Si., Ph.D.
  6. Prof. Dr. Uud Wahyudin, S.Sos., M.Si.
  7. Prof. Dr. Agus Rusmana, Drs. M.A.

(Foto oleh: Jalasenastri Saprala & Dadan Triawan)

Share this: