Inovasi Sasak Apung Padjadjaran Bantu Distribusikan Hasil Tani di Desa Suntenjaya Lebih Efisien

Sasaklayang Padjadjaran karya Unpad membantu petani lebih mudah mengangkut hasil tani di daerah perbukitan Kampung Gandok, Desa Suntenjaya, Lembang (Foto oleh: Tedi Yusup)*

[Unpad.ac.id, 4/04/2014] Unpad melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) dan Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Unpad membuat smart cable car untuk mengangkut hasil sayuran di Kampung Gandok, Desa Suntenjaya, Lembang. Alat ini bertujuan untuk memudahkan para petani Gandok untuk mengangkut hasil tani mereka.

Sasaklayang Padjadjaran karya Unpad membantu petani lebih mudah mengangkut hasil tani di daerah perbukitan Kampung Gandok, Desa Suntenjaya, Lembang (Foto oleh: Tedi Yusup)*
Sasak Apung Padjadjaran karya Unpad membantu petani lebih mudah mengangkut hasil tani di daerah perbukitan Kampung Gandok, Desa Suntenjaya, Lembang (Foto oleh: Tedi Yusup)*

Ketua LPPM Unpad, Prof. Wawan Hermawan, saat meninjau pengoperasionalan alat tersebut mengatakan, pembuatan alat ini merupakan kali pertama yang dilakukan oleh Unpad. Berdasarkan observasi, selama ini petani harus menempuh jarak sekira 500 meter dengan kondisi jalan tanah dan berbukit untuk mengangkut hasil sayurnya dengan cara ditanggung.

“Mudah-mudahan, dengan adanya alat ini dapat menciptakan rekayasa sosial, yakni mengubah kondisi dari kebiasaan nanggung hasil sayuran menjadi diangkut oleh alat ini,” tuturnya saat di Kampung Gandok, Kamis (04/04).

Pembuatan tersebut juga dilatarbelakangi oleh niat awal Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia saat melakukan monitoring ke daerah tersebut setahun yang lalu. Kondisi lahan pertanian yang berada di bukit dengan sudut elevasi sekitar 30 derajat, ditambah dengan akses jalan yang masih tanah dan sempit, mengilhami Rektor untuk membuat alat untuk memudahkan distribusi hasil panen.

suntenjaya1suntenjaya3Ide tersebut kemudian direalisasikan oleh tim dari FTIP Unpad yang digawangi oleh Dekan FTIP, Ir. Mimin Muhaemin, M.Eng., Ph.D. Tim yang terdiri dari beberapa dosen FTIP ini kemudian melakukan riset pembuatan alat, termasuk diantaranya mengukur kapasitas, kondisi tanah, hingga kedalaman pasak tiang penyangga.

Salah satu tim yang ditemui, Dedi Prijatna, Ir., M.S., menjelaskan, butuh waktu hampir satu tahun untuk melakukan riset tentang alat tersebut. Barulah pada bulan November 2013 lalu, tim memulai konstruksi alat.

Alat yang direncanakan akan diberi nama “Sasak Apung Padjadjaran” ini menganut sistem smart cable car dengan menggunakan motor elektrik sebagai penggerak. Alat ini memiliki dua tiang pancang yang dihubungkan oleh 4 kawat baja. Satu tiang pancang dengan mesin penggerak berada di atas sebuah bukit, sementara tiang pancang lain berada di lembah yang berjarak 300 meter.

Menurut Dedi, mesin penggerak menggunakan sebuah mesin mobil  dengan transmisi untuk mengukur kecepatan katrol serta dua pedal rem dan kopling. Mesin dinyalakan dengan menekan switch yang dihubungkan oleh arus listrik lalu selanjutnya dikendalikan dengan memasukkan transmisi ke gigi 1.

“Alat ini memiliki 4 transmisi. Namun untuk operasional sehari-hari cukup menggunakan gigi satu saja,” kata Dedi.

Alat ini dibangun melalui dana penuh dari Unpad. Dengan alat ini, lanjut Dedi, petani dapat mengangkut hasil panen hingga maksimal 500 kilogram dan menghabiskan waktu hanya 3,5 menit untuk jarak tempuh 300 meter. Dengan demikian, waktu tempuh pengangkutan dapat lebih efisien dan petani pun lebih cepat memasarkan sayurannya.

“Untuk saat ini, alat ini hanya bisa digunakan untuk mengangkut sayuran. Orang tidak disarankan untuk naik alat ini. Ke depan kita akan lebih sempurnakan lagi,” tandasnya.

Kehadiran alat ini sangat dirasakan manfaatnya oleh para petani Kampung Gandok. Ulus, salah satu petani mengungkapkan, selama ini petani harus menguras tenaga untuk mengangkut hasil tani dari lembah ke atas bukit. Oleh karena itu, masyarakat pun sangat berterima kasih kepada Unpad.

“Terima kasih Unpad, semoga dengan alat ini dapat lebih menyejahterakan para petani di Kampung Gandok,” kata Ulus.*

Laporan oleh: Arief Maulana / eh*

Share this: