Narasumber dan moderator ceramah ilmiah bertema “Underwater Treasure of Indonesia” yang diselenggarakan Hima Ilmu Kelautan FPIK Unpad di Bale Santika Unpad Jatinangor, Kamis (24/04) kemarin (Foto oleh: Arief Maulana) *

[Unpad.ac.id, 25/04/2014] Indonesia menyimpan “harta karun” melimpah yang tersembunyi di dalam samudera. Harta karun ini memiliki potensi besar untuk meningkatkan sektor pariwisata di Indonesia.

Narasumber dan moderator ceramah ilmiah bertema “Underwater Treasure of Indonesia” yang diselenggarakan Hima Ilmu Kelautan FPIK Unpad di Bale Santika Unpad Jatinangor, Kamis (24/04) kemarin (Foto oleh: Arief Maulana) *
Narasumber dan moderator ceramah ilmiah bertema “Underwater Treasure of Indonesia” yang diselenggarakan Hima Ilmu Kelautan FPIK Unpad di Bale Santika Unpad Jatinangor, Kamis (24/04) kemarin (Foto oleh: Artanti Hendriyana) *

“Kita harus dapat memanfaatkan sumber daya ini agar tetap terjaga dan memiliki nilai ekonomi,” tutur Mikael Prastowo dari Yayasan Terumbu Karang Indonesia (Terangi) saat menjadi pembicara dalam Ceramah Ilmiah bertema “Underwater Treasure of Indonesia”. Acara yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpad ini diselenggarakan di Bale Santika Unpad Jatinangor, Kamis (24/04). Acara tersebut juga turut menghadirkan pembicara Fahmi Yunizar dari Morotai Shark Diving Indonesia, serta Michael Nicholson dan Rendra Hertiadi dari Jakarta Wreck Dive.

Mikael mengatakan salah satu “harta karun” terbesar yang dimiliki Indonesia adalah terumbu karang. Saat ini tercatat Indonesia memiliki 590 spesies karang, dan itupun diyakini akan terus bertambah seiring dengan banyaknya penlitian yang menemukan jenis karang baru. “Bisa dibilang ini harta karun kita yang jadi modal hidup kita dan anak cucu kita,” ujar Mikael.

Menurut Mikael, pemanfaatan harta karun Indonesia pada sektor pariwisata tentu dapat meningkatkan perekonomian Indonesia. Namun sebagai bagian dari perlindungan, kita bisa memanfaatkannya dengan ekowisata. Prinsipnya yaitu perjalanan wisata yang dilakukan ke tempat alami, dengan tetap bertanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan dan juga dapat meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat.

“Kita masih bisa menjalankan ekonomi tanpa memanfaatkannya secara langsung. Misalnya ketika menyelam, lihat ikan kan tidak harus dipegang langsung,” ujarnya.

Harta lain yang dimiliki Indonesia adalah hiu. Dalam kesempatan tersebut, Fahmi mengatakan bahwa shark diving di Indonesia dapat menjadi kegiatan wisata yang sangat menarik. Namun sangat disayangkan banyak masyarakat Indonesia sendiri yang tidak tahu hal tersebut. “Orang Indonesia banyak yang tidak tahu ada wisata diving hiu di Indonesia. Turis lokal malah lari ke negara luar, otomatis pendapatannya ke negara luar bukan ke Indonesia,” tuturnya.

Fahmi juga menyayangkan adanya perburuan hiu untuk dikonsumsi siripnya. Fahmi mengatakan, nilai hiu hidup dan dimanfaatkan untuk dunia pariwisata dapat bernilai Rp 300 juta – 1,8 miliyar pertahunnya. Sementara sirip hiu untuk dikonsumsi hanya bernilai ratusan ribu per kg.

Selain itu, harta lain yang tidak kalah bernilai adalah wreck, atau bangkai/benda asing yang tenggelam di perairan.  Rendra dan Michael mengatakan bahwa selain berwisata, tujuan wreck diving adalah untuk eksplorasi dan menggali ilmu pengetahuan.  Namun, sebaiknya ketika menemukan wreck ini kita tidak mengambilnya, apalagi menghancurkannya. Biarkanlah wreck berada di dasar laut apa adanya agar dapat juga dinikmati dan diteliti oleh para penyelam lainnya.

Laporan oleh: Artanti Hendriyana / eh *

Share this: