[Unpad.ac.id, 13/05/2014] Insidensi karies gigi di Indonesia masih cukup tinggi. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, Indeks DMF-T secara nasional sebesar 4,6, dengan Provinsi Jawa Barat mencapai 4,1. Hal ini berarti terdapat 4 atau 5 gigi yang mengalami kelainan berupa gigi berlubang, gigi hilang, dan gigi yang sudah ditambal pada setiap orang di Jawa Barat. Dengan demikian, perlu dilakukan upaya untuk menurunkan insidensi karies, diantaranya adalah dengan membuat alat sebagai sarana untuk membantu para praktisi kedokteran gigi dalam melakukan manajemen karies.

Hal itulah yang melatarbelakangi salah seorang dosen Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Unpad Dr. Dudi Aripin, drg., Sp.KG mengembangkan software parameter karies gigi yang bernama D’Cariogram. D’Cariogram merupakan salah satu sarana penunjang bagi praktisi kedokteran gigi dalam melakukan manajemen karies di lapangan. Melalui software ini, dapat diprediksikan mengenai risiko karies gigi seseorang, apakah termasuk golongan karies rendah, sedang, atau tinggi, sehingga dapat segera diketahui treatment apa yang harus dilakukan kepada pasien.
“Kondisi real sekarang memang tingkat karies itu cukup tinggi sehingga ini merupakan sumbangsih agar bisa memprediksi lebih awal dan melakukan tindakan preventif,” tutur drg. Dudi yang saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan I FKG Unpad saat ditemui di ruang kerjanya, di kampus FKG Unpad, Jatinangor, Jumat (2/05).
Menurutnya, ketika risiko karies sudah diprediksi lebih awal, maka dapat lebih cepat dilakukan penanganan untuk pasien. Penanganan yang dilakukan mulai dari pendidikan kesehatan gigi dan mulut, tindakan pencegahan, hingga tindakan perawatan yang harus dilakukan.
“Fungsi Cariogram ini untuk pencegahan dan penanganan dini. Supaya tidak meluas kerusakan yang ada di dalam mulut,” ungkapnya. Lebih lanjut drg. Dudi menjelaskan, bahwa software ini merupakan alat bantu untuk memformulasikan hasil uji klinis yang telah dilakukan. Software ini kemudian “meramu” hasil uji klinis tersebut untuk memprediksi risiko karies gigi seseorang.
Aplikasi ini secara garis besar terdiri dari data entri pasien yang diteliti, Diagram Cariogram, dan reporting hasil penelitian. Untuk dapat mengetahui risiko karies gigi melalui aplikasi ini, terlebih dahulu harus mengisi data, yakni hasil pemeriksaan klinis dan secara laboratoris, seperti kondisi saliva, protein, bakteri di mulut, jumlah karies, protein sCD14 dan sebagainya. Resume kemudian akan muncul yang menunjukkan hasil apakah pasien masuk kategori risiko rendah, sedang, atau tinggi karies gigi. Setelah itu, akan muncul menu reporting dan rekomendasi penanganan.
Pria kelahiran Tasikmalaya, 22 November 1972 ini mengungkapkan bahwa D’Cariogram ini merupakan produk dari disertasi yang ia buat. D’Cariogram merupakan hasil pengembangan dari software Mamo Cariogram dari Swedia. Salah satu kelebihan dari D’Cariogram yaitu diperhitungkannya faktor sCD14, sementara pada Mamo Cariogram tidak.
“Indikator seseorang risiko karies itu salah satunya dari protein ini, sCD14. Keakuratannya jauh lebih besar,” ungkap drg. Dudi yang mendalami bidang ilmu Konservasi Gigi.
Selain itu, berbeda dengan Mamo Cariogram yang hanya memasukan data berupa index, pada D’Cariogram data yang dimasukkan adalah berupa data hasil penelitian, dimana klasifikasi index sudah diatur di program aplikasi. Pada D’Cariogram, reporting juga lebih lengkap, yakni laporan dilakukan dari masing-masing pasien per kelompok karies. Aplikasi komputer juga lebih fleksibel, bisa diubah sesuai dengan kasus yang ditangani.
Software yang dibuat sejak tahun 2010 ini telah mulai diaplikasikan di lingkungan FKG Unpad sejak tahun 2011, terutama untuk kegiatan pengabdian pada masyarakat. Selain itu, diaplikasikan juga di sejumlah Taman Kanak-Kanak yang dibina oleh drg. Dudi.
Kedepannya, drg. Dudi menginginkan aplikasi ini dapat memperoleh paten, untuk kemudian dipublikasikan lebih luas lagi. “Kalau yang lain bisa menerima, saya kira bisa diaplikasikan. Tergantung dari masyarakat, pengguna jasa kesehatan,” ujarnya.
Dengan adanya aplikasi ini, drg. Dudi mengharapkan dapat membantu para petugas kesehatan gigi, baik itu dokter gigi maupun perawat gigi di lapangan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. “Harapannya software ini bisa dipakai secara menyeluruh, tidak hanya di FKG, tapi di masyarakat, sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan gigi dan mulut masyarakat,” harapnya.
Menurutnya, kesehatan gigi dan mulut itu sangat penting, karena mulut merupakan bagian integral dari tubuh manusia. Jika kondisi gigi dan mulutnya bermasalah, maka akan turut mempengaruhi kualitas hidupnya. “Orang kan makan dari mulut. Kalau mulutnya bermasalah, tidak bisa makan, tidak bisa beraktivitas, kualitas hidupnya menurun pasti,” tutur drg. Dudi
Ia mengungkapkan bahwa D’Cariogram bukanlah satu-satunya software yang ia buat. Ia juga membuat Sistem Informasi Pelayanan Kesehatan Gigi yang diaplikasikan setiap pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) di Unpad yang diselenggarakan bekerja sama dengan Unilever. Kedepannya, drg. Dudi ingin juga membuat software untuk dental klinik, selain juga masih ingin mengembangkan D’Cariogram dan Sistem Informasi Pelayanan Kesehatan Gigi.
“Kebetulan saya senang juga di bidang IT (Information Technology), dan keluarga ada yang ahli di bidang IT, dalam hal ini pembuatan software. Jadi sering bertukar pikiran. Ide dari saya, kemudian diterjemahkan oleh orang IT,” ungkapnya. *
Laporan oleh: Artanti Hendriyana / eh *
