[Unpad.ac.id, 4/06/2014] Meningkatkan aksesibilitas pelayanan kesehatan tidak cukup menjadi tanggung jawab satu profesi saja. Kolaborasi para profesi kesehatan dari berbagai disiplin ilmu menjadi kunci peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia.

Dr. Khanchit Limpakarnjanarat, perwakilan World Health Organization (WHO) untuk Indonesia mengungkapkan, interprofessional collaborative practice (ICP) sangat dibutuhkan untuk mempersiapkan para petugas kesehatan menjadi bagian dari peningkatan kualitas kesehatan.
“Di sisi lain, ICP ini meningkatkan keselamatan pasien jauh lebih tinggi,” paparnya saat menjadi keynote speaker dalam seminar internasional “The 4th Padjadjaran International Nursing Conference 2014”, Rabu (04/06) di Hotel Horison, Bandung.
Meningkatkan pelayanan kesehatan yang efisien dan efektif, kolaborasi praktik antar profesi kesehatan juga dapat menurunkan risiko yang ditimbulkan akibat lamanya penanganan kesehatan, seperti menurunkan angka pasien penderita komplikasi, lama tinggal di rumah sakit, konflik antara pasien dan pengasuh, rotasi petugas kesehatan, hingga angka kematian pasien.
Dalam perspektif Departement of Veteran Affairs, Amerika Serikat, Dr. Khanchit menerangkan, komponen dari ICP meliputi dokter, perawat, apoteker, psikiater, hingga tenaga teknis di instansi kesehatan.
Di beberapa negara, penerapan ICP sudah berjalan dengan baik. WHO mencatat, ada 5 negara yang berhasil menerapkan konsep ini dengan baik pada tahun 2013 lalu, seperti Kanada, Amerika Serikat, India, Brazil, dan Afrika Selatan.
“ICP ini harus segera diterapkan di banyak negara. Namun, negara tersebut harus mempertimbangkan dahulu hambatan dan keuntungan agar ICP ini dapat berjalan dengan baik,” tutur Dr. Khanchit.
Di Indonesia penerapan ICP belum diaplikasikan dengan baik. Hal tersebut dibenarkan oleh Suryani, S.Kp., M.HSc., Ph.D., Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Keperawatan Unpad. Menurutnya, petugas kesehatan di Indonesia masih belum dapat berkolaborasi salah satunya karena masih ada ego pada setiap masing-masing profesi.
Untuk itu, konsep ICP menjadi topik utama seminar internasional ini yang digelar dari tanggal 3 – 5 Juni ini. Tujuannya, agar para peserta yang notabene merupakan pekerja kesehatan dapat membuka wawasannya untuk menerapkannya dalam perawatan pasien.
“Perawatan kesehatan memang tidak bisa sendiri-sendiri. Kita harus menciptakan kolaborasi pelayanan kesehatan,” tutur Suryani yang juga sebagai ketua pelaksana seminar internasional.
Seminar internasional ini merupakan seminar ke-4 yang digelar oleh Fakultas Ilmu Keperawatan Unpad setiap tahunnya. Seminar ini menghadirkan 150 peserta baik dari Indonesia maupun internasional.
Dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama Unpad, Dr.med. Setiawan, dr., seminar ini diisi dengan workshop, pameran poster, dan presentasi dari tiap-tiap peserta seminar.*
Laporan oleh: Arief Maulana / eh *
