[Unpad.ac.id, 18/09/2014] Indonesia saat ini diakui dunia sebagai salah satu negara dengan tingkat ekonomi terbesar di dunia. Hal ini dibuktikan dengan masuknya Indonesia sebagai anggota G 20. Namun, dari segi jumlah profesi peneliti, Indonesia masih menduduki peringkat terendah.

Demikian ditegaskan oleh Presiden Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) yang juga Direktur Eijkman Institute, Prof. Sangkot Marzuki, saat memberikan keynote speech dalam “The 3rd Bandung International Biomolecular Medicine Conference (BIBMC) 2014” di The Trans Luxury Hotel, Bandung, Kamis (18/09).
Prof. Sangkot mengatakan, Indonesia merupakan negara terendah jumlah peneliti dibandingkan negara Brazil, China, India, Singapura, dan Turki. Kurangnya pendaanaan dan penelitian yang unggul menjadi penyebab rendahnya jumlah peneliti di Indonesia. Regulasi pemerintah yang berlebihan juga turut menghambat kemajuan ilmu pengetahuan.
“Indonesia adalah salah satu negara terendah dalam segi pendanaan riset,” kata Prof. Sangkot.
Negara di atas memiliki jumlah peneliti yang tersebar di sektor pemerintahan, bisnis, serta pendidikan tinggi. Saat ini, Indonesia masih terkonsentrasi pada penelitian yang berbasis pada industri. Padahal, ilmu pengetahuan bukan sekadar membangun kemajuan sektor industri saja, tapi juga sebagai bagian dari pembangunan karakter diplomasi bangsa.
Penelitian menjadi bagian dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Untuk itu, ia pun mengajak khususnya para peneliti muda untuk lebih aktif meningkatkan penelitian di Indonesia. Salah satu caranya adalah membangun budaya keilmuan di Indonesia. “Membangun budaya penelitian ilmu pengetahuan sangat penting dilakukan di Indonesia,” tambahnya.
Lebih lanjut lulusan Monash University tersebut mengatakan, kolaborasi juga menjadi aspek penting dalam penelitian. Pihaknya, melalui AIPI telah banyak mendorong peneliti untuk melakukan kolaborasi penelitian hingga tingkat internasional. Selain itu, kolaborasi penelitian antara perguruan tinggi dengan lembaga riset pun penting dilakukan.
Terkait dengan konferensi tersebut, Prof. Sangkot pun mengajak para peserta untuk dapat menghasilkan suatu kolaborasi pemikiran dan penelitian untuk perkembangan biomolekuler di Indonesia.
BIBMC ini merupakan kegiatan ketiga yang digelar setelah tahun 2010 dan 2012. Ketua pelaksana kegiatan, Prof. Ramdan Panigoro, M.Sc., PhD., mengatakan, BIBMC ini merupakan ruang untuk mendiseminasikan perkembangan bidang biomolekuler di Indonesia.
“Ke depan, bidang biomolekuler ini akan menjadi penting karena segala tindakan kesehatan harus berdasarkan dengan detail, sesuai dengan apa yang terjadi di dasar molekulnya,” kata Prof. Ramdan.
Acara ini terdiri dari 3 rangkaian kegiatan, yakni Workshop yang digelar pada Rabu (17/09) di Rumah Pendidikan Unpad Jalan Eijkman No. 38, serta konferensi dan poster presentation BIBMC yang digelar hingga Jumat (19/09) esok. Acara yang menjadi bagian dari Dies Natalis ke-57 FK Unpad ini digelar atas kerja sama FK Unpad dengan para stakeholder di bidang kesehatan di Indonesia.
Workshop sendiri terbagi menjadi 8 kelas. Inti dari workshop tersebut adalah praktik dari kemajuan bidang biomolekuler yang sudah dilakukan oleh FK Unpad. Adapun pembicara yang hadir dalam acara ini berasa dari negara Jepang, Singapura, Jerman, Belanda, Swedia, Thailand, dan Amerika Serikat.
“Beberapa pembicara merupakan supervisor dari para dosen kami yang dulunya belajar di negara tersebut. Sehingga, ini benar-benar sebuah kolaborasi ilmiah,” kata Prof. Ramdan.*
Laporan oleh: Arief Maulana / eh *
