Kajian Menarik Pengembangan Bidang Ilmu ke Wilayah Francophonie

Suasana Seminaire International sur la Francophonie yang diselenggarakan di Bale Sawala, Unpad, Senin (01/10). (Foto: Tedi Yusup)

[Unpad.ac.id, 02/10/2012] Sejak pertengahan abad ke-17, negara Perancis telah menjadi salah satu negara kuat di dunia. Kala itu, hingga tahun 1960-an Perancis telah membuat imperium kolonial terbesar dengan menjajah dan mendirikan banyak koloni di berbagai tempat di dunia.

Suasana Seminaire International sur la Francophonie yang diselenggarakan di Bale Sawala, Unpad, Senin (01/10). (Foto: Tedi Yusup)

Kekuasaan yang begitu besar yang dimiliki Perancis, yang membentang sepanjang Afrika Barat hingga Asia, tak ayal telah mempengaruhi budaya, politik, hingga bahasa di daerah jajahannya. Salah satu bukti kekuatan Perancis di masa lampau dapat dilihat dari munculnya Organisasi Internasional Francophonie yang terdiri dari negara-negara berbahasa Perancis.

“Kolonialisme Perancis telah menyebabkan orang Perancis menyebarkan bahasanya disana (daerah koloni). Inilah yang membuat wilayah Francophonie ada sekarang,” ujar Prof. Dr. M.I. Djoko Marihandono, S.S., M.Si., Guru Besar Program Studi Prancis, Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia ketika menjadi pembicara dalam “Seminaire International sur la Francophonie” di Bale Sawala Gedung Rektorat Unpad Jatinangor, Senin (01/10). Acara ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Sastra Perancis Fakultas Ilmu Budaya Unpad.

Walaupun Indonesia bukan salah satu negara Francophonie, namun di abad ke-18 Perancis sempat pula mendirikan koloni di tanah Jawa. Hasil-hasil kejayaan Perancis di masa lampau bahkan masih tersisa di negeri ini diantaranya berbagai macam ukuran yang digunakan bangsa ini seperti Kilometer untuk mengukur jarak dan Kilogram untuk mengukur berat.

“Pemerintahan Perancis di wilayah koloni di Jawa 1808-1811. Hanya 3 tahun tapi tiga tahun ini seperti di jaman Jepang. Banyak sekali perubahan karena ini didasari oleh ide-ide revolusi Perancis,” imbuhnya.

Bahkan, pemberantasan korupsi yang sedang gencar-gencarnya dilakukan oleh pemerintah kita sekarang juga telah dilakukan 200 tahun yang lalu oleh pemerintah Perancis. Berkat revolusi Perancis yang salah satu intinya menyatakan bahwa hak milik itu adalah suci maka hukuman mati dilaksanakan pada jaman itu terhadap koruptor.

Hal lain yang menjadi salah satu peninggalan Perancis lainnya di Indonesia adalah Jalan Anyer-Panarukan. Jalan yang dibangun oleh Gubernur-Jenderal Hindia-Belanda, Herman Willem Daendels pada masa itu sejatinya merupakan ide asli dari Napoleon Bonaparte.

“Napoleon Bonaparte pada tahun 1805 sudah membangun jalan menghubungkan Paris dengan 32 kota di Eropa dan memfungsikannya sebagai jalan pos. Pada waktu itu, ketika akan melakukan perjalanan ke Jawa, Daendels melewati Jalan Pos itu,” jelas Prof. Djoko.

Pengembangan bidang ilmu ke wilayah Francophonie yang selama ini dianggap sebagai negara kelas dua sesungguhnya sangat menarik untuk ditelusuri. Cukup banyak kajian yang dapat dilakukan di wilayah itu diantaranya kajian linguistik Francophonie baik mikro maupun makro, kajian kesusastraan Francophonie, kajian sejarah dan kebudayaan wilayah Francophonie, kajian film Francophonie, kajian musik Francophonie, serta kajian antropologi dan sosiologi wilayah Francophonie.

Selain Prof. Djoko, dalam kesmpatan tersebut juga hadir sebagai pembicara Nicholas Moreaus, Direktur Pendidikan IFI (Institute Francais-Indonesia) dan Hugues Monis, Premiere Secretary Embassy of Canada. Kedua pembicara tersebut berhasil mengungkap pandangan masing-masing tentang bahasa Perancis di daerahnya.

Ditemui seusai acara, Kantya L.Y., selaku Ketua Pelaksana berharap kegiatan ini mampu membuka wawasan masyarakat khususnya mahasiswa bahwa masih banyak negara-negara jajahan Perancis dahulu yang menarik untuk dikaji lebih jauh.

“Selama ini kita lihat cuma Perancis yang kelihatan wah, padahal ada negara-negara seperti Kanada, Swiss, Belgia, dan sebagainya yang ternyata menarik juga untuk kita pelajari bahasa Perancisnya. Kan dialeknya juga berbeda,” tuturnya.*

Laporan oleh: Indra Nugraha/mar

 

Share this: