[Unpad.ac.id, 1/06/2015] Berdasarkan data Kementerian Perdagangan Indonesia, kesiapan Indonesia dalam menghadapi pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) masih mencapai 83%. Hal tersebut masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara lain seperti Singapura dan Brunei Darussalam. Indonesia harus siap dalam memanfaatkan segala kesempataan dari segala keterbukaan berbagai sektor di ASEAN nantinya

“MEA dapat menjadi peluang sekaligus ancaman bagi Indonesia. Menjadi pelaku atau pangsa pasar tunggal ASEAN,” ujar Gugun Gumilar selaku Executive Director of The Institute of Democracy and Education, saat menjadi pembicara pada Southeast Asia Leaders 2015. Acara digelar oleh Himpunan Mahasiswa Sastra Rusia bekerja sama dengan The Institute of Democracy and Education, di Bale Santika Unpad, Jatinangor, Minggu (31/05).
Selain transformasi di berbagai sektor pemerintahan, lanjut Gugum, pemuda juga memegang peranan utama dalam menyongsong MEA. Indonesia memiliki jumlah pemuda yang cukup besar, 150 juta jiwa pada tahun 2014 dan menjadi yang terbesar diantara negara kawasan ASEAN (17% dari populasi global). “Jumlah pemuda yang sangat signifikan dapat memberikan dinamika perubahan bangsa, baik dari sektor perdagangan, pendidikan, infrastruktur dan sektor pendukung kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia,” papar Gugun.
Acara bernuansa workshop ilmiah ini dihadiri pula oleh sejumlah pembicara dari pemuda dan tokoh inspirasional Indonesia, seperti Prio Budi Santoso, Fachrul Basri, Dedi Mulyadi, Gary Peral, serta berbagai tokoh nasional dan internasional lainya. Southeast Asia Leaders 2015 bertujuan untuk memberikan wawasan kepada pemuda Indonesia mengenai kesiapan Indonesia dalam menyongsong MEA pada 31 Desember 2015 mendatang. Acara dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.*
Rilis oleh: Taufik Nurhidayatulloh / art
