[Unpad.ac.id, 27/11/2015] Dalam rangka memperkuat posisi ASEAN menghadapi persaingan global, perguruan tinggi di Asia Tenggara perlu lebih mempererat kerja sama. Selain itu, kerja sama ini juga diperlukan untuk mengkaji berbagai persoalan yang terjadi dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Hal tersebut diungkapkan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Padjadjaran, Dr. Arry Bainus, MA., dan Guru Besar Unpad, Prof. Oekan S. Abdoellah, MA., PhD., pada pembukaan Simposium Kebudayaan dan Kerja Sama Indonesia-Malaysia (SKIM) XIV di Putrajaya, Malaysia. Hal senada juga diucapkan oleh Menteri Pembangunan Wanita, Keluarga dan Masyarakat Malaysia, Dato Sri Rohani Abdul Karim, saat membuka penyelenggaraan SKIM XIV di Hotel Everly, Putrajaya, Malaysia. SKIM XIV yang bertema “Perguruan tinggi untuk Komunitas ASEAN: Pengetahuan Berbasis Kemakmuran, Harmoni dan Keberlanjutan” ini dilaksanakan oleh Unpad, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dan Institut Sosial Malaysia (ISM) pada 25-27 November 2015.
“Komuniti ASEAN perlu bergerak mengikut cara kita sendiri, berpedoman nilai tradisi dan jati diri yang sekian lama mencerminkan budaya dan adat istiadat kita dan dalam saat bersamaan kita harus lebih aktif dan progresif, jika tidak kita akan ketinggalan jauh di belakang dibanding negara-negara maju,” ujar Dato Sri Rohani Abdul Karim, sebagaimana dikutip website ISM.
Sementara Prof. Oekan S. Abdoellah yang menjadi keynote speaker dengan tema “Peran Perguruan Tinggi Menghadapi Persaingan Global” mengatakan, perguruan tinggi memiliki peran strategis. Selain mendidik dan menghasilkan sumber daya manusia berkualitas, perguruan tinggi juga dituntut menjalankan tanggung jawab sosialnya sebagai lokomotif pembangunan melalui berbagai kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Prof. Oekan juga menekankan pentingnya kerja sama antar perguruan tinggi.
Foto dari: Universitas Kebangsaan Malaysia dan Universitas Padjadjaran
“Bukan hanya kerja sama di dalam negeri, tetapi juga dengan perguruan tinggi negara lain. Kerja sama ini menjadi landasan yang penting untuk dapat memperkuat dukungan perguruan tinggi atas berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah di berbagai negara dalam menghadapi beragam persoalan yang dihadapi,” ujar Prof. Oekan.
Ketua Panitia SKIM XIV dari pihak Unpad, Dra. Mudiyati Rahmatunnisa, MA., PhD., mengatakan, SKIM telah dilaksanakan selama 30 tahun sejak 1985 oleh Universitas Padjadjaran dan Universiti Kebangsaan Malaysia. Tahun ini, Institut Sosial Malaysia turut bergabung sebagai penyelenggara. ISM adalah perguruan tinggi negeri yang dikelola oleh Kementerian Pembangunan Wanita, Keluarga dan Masyarakat Malaysia.
“Makalah yang dipresentasikan pada SKIM XIV berjumlah 138 makalah, yang berasal dari 26 perguruan tinggi Indonesia dan 15 perguruan tinggi Malaysia. Alhamdulillah, seluruh delegasi dari Unpad dapat mengikuti semua kegiatan dengan baik, dan pihak panitia memberikan pelayanan yang cukup baik pula,” ujar Mudiyati PhD. *
Rilis / eh



