[Unpad.ac.id, 2/02/2016] Setelah berstatus sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum, ada berbagai pengembangan yang terus dilakukan Universitas Padjadjaran. Sebagai bentuk reposisi Unpad, saat ini Unpad bukan semata menjadi knowledge factory, tetapi menjadi knowledge hub.

Ketua Majelis Wali Amanat Unpad, Rudiantara, MBA., Drs. mengatakan bahwa dengan menjadi knowledge hub, Unpad akan lebih banyak lagi berinteraksi dengan stakeholder. Begitu juga dalam membentuk lulusannya, yang akan didorong untuk dapat lebih banyak berinteraksi dengan masyarakat.
“Jadi bukan hanya agar lulus saja. Tetapi bagaimana setelah lulus. Bagaimana interaksinya dengan dunia setelah perguruan tinggi,” ujar Rudiantara dalam jumpa pers “Pengembangan Unpad Pasca Penetapan PTN Badan Hukum” di Executive Lounge Unpad, Gedung 2 lantai 2, Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung (2/02).
Sementara itu, Rektor Unpad, Prof. Tri Hanggono Achmad mengatakan bahwa peran Unpad sebagai knowledge hub bisa dijalankan jika Unpad memiliki network yang kuat. “Intinya, sebagai knowledge hub ini bukan berbicara ke dalam lagi, kita harus berbicara keluar. Apa yang Unpad bisa lakukan terhadap masyarakat, yang akan kita mulai dari regional Jawa Barat,” ungkap Rektor.
Lebih lanjut Rektor mengatakan, untuk dapat lebih bermanfaat bagi masyarakat, maka kekuatannya ada pada riset, dan grant research kedepannya harus dapat dijalankan ke daerah. Dengan demikian, saat ini Unpad sedang mengembangkan program “Profesor Masuk Desa”, yang didasari dari Program Academic Leaderships Grant.
“Sekarang kebanyakan profesor aktivitasnya berada di perguruan tinggi. Mereka harus didorong karena sebagai acedemic leader, kalau mereka bergeser ke sana, semua kekuatan akademik betul-betul berjalan di berbagai daerah, mudah-mudahan bisa memberikan dampak kepada penguatan pembangunan lebih nyata,” papar Rektor.
Senada dengan Rektor, Ketua Senat Akademik Unpad, Prof. Oekan Soekotjo Abdoellah mengatakan bahwa dalam menjalankan riset, yang penting diperhatikan adalah bagaimana dampak dari riset tersebut. Hal itu untuk meningkatkan kemaslahatan masyarakat. Contohnya, bagaimana mengurangi angka kematian bayi, mengurangi angka kemiskinan, dan sebagainya.
“Risetnya Unpad itu, sesuai dengan knowledge hub yang diangkat, maka kita bekerja sama dengan beberapa stakeholder, dan juga menjalin hubungan satu dengan yang lain dan mentransformasikan riset itu kedalam bentuk yang real,” jelas Prof. Oekan.
Dalam Program Profesor Masuk Desa, riset pun dilakukan dalam multidisiplin dan interdisiplin. Bukan hanya melibatkan profesor, mahasiswa pun diharapkan dapat turut terlibat.
Selain program tersebut, Rektor juga mengungkapkan bahwa saat ini, Unpad juga tengah memiliki perhatian pada proses alih aset, dari pemerintah ke Unpad (kecuali tanah). “Kami akan secepat mungkin, sekarang di tahun 2016 ini membereskan pengalihan aset dari pemerintah ke Unpad,” ungkap Rektor.
Selanjutnya, Unpad juga akan melakukan tata kelola keuangan dengan lebih baik lagi. “Karena kedepan, kami ingin membangun kemandirian, mendorong indepedensi kami terhadap dana yang dikeluarkan oleh pemerintah,” ungkap Rektor.*
Laporan oleh: Artanti Hendriyana / eh
