[Unpad.ac.id, 28/03/2016] Universitas Padjadjaran bekerja sama dengan Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PPSS) melestarikan khazanah kesusastraan Sunda yang diwujudkan melalui penyusunan database Sastra Sunda. Kerja sama ini dilakukan salah satunya untuk menyelamatkan kekayaan kesusatraan Sunda mulai dari periode awal hingga sekarang.

Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unpad, Yuyu Yuhana Risagarniwa, PhD., mengungkapkan, sastra sebagai bagian dari kebudayaan Sunda, yang harus tetap dikenalkan kepada masyarakat, khususnya di Jawa Barat. Dengan demikian, menyelamatkan khazanah kesusatraan Sunda saat ini menjadi suatu prioritas.
“Apa yang menjadi tujuan PPSS saat ini memiliki kesamaan dengan Unpad, yaitu melestarikan kebudayaan Sunda,” ujar Yuyu saat memberikan sambutan pada acara “Milangkala 50 Tahun PPSS”, di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Bandung, Senin (28/03) siang.
Dalam acara tersebut juga dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Unpad dengan PPSS. Penandatangan tersebut dilakukan oleh Yuyu mewakili Rektor Unpad dengan Ketua Umum PPSS, Dadan Sutisna.
Penyusunan database yang dilakukan PPSS pada awalnya yaitu mendokumentasikan sastra Sunda karya berbagai pengarang yang diterbitkan melalui buku, hingga dimuat di berbagai media massa dan majalah. Proses dokumentasi yang dilakukan yaitu mendigitalisasikan bentuk fisik dari karya untuk disimpan dalam pusat data.
Dadan Sutisna, inisiator lahirnya database Sastra Sunda menuturkan, dokumentasi sastra merupakan suatu proses yang acapkali luput dilakukan pegiat sastra dan bahasa Sunda. Padahal, dokumentasi yang lengkap dan sistematis merupakan upaya efektif guna melestarikan khazanah kesusastraan Sunda.
“Sampai saat ini belum ada satu perpustakaan pun yang menyimpan dokumen karya sastra Sunda secara lengkap. Sastra Sunda saat ini tercecer dimana-mana,” kata Dadan.
Tidak adanya arsip lengkap yang memuat perjalanan kesusatraan Sunda menggugah dirinya untuk melakukan pendokumentasian secara lengkap. Proses dokumentasi sendiri dilakukan dengan men-scanning koleksi yang dikumpulkan dari beberapa pihak.

Proses dokumentasi tersebut sebagian besar rampung bertepatan dengan ulang tahun ke-50 PPSS. Program dokumentasi ini dinamakan Pusat Data Sastra Sunda, dan telah memuat ratusan karya pengarang Sunda yang sebelumnya tidak terdokumentasikan dengan baik.
Penyusunan database ini juga didukung penuh oleh Unpad. Rektor Unpad, Prof. Tri Hanggono Achmad, melalui tayangan video mengungkapkan, manfaat proses pendokumentasian ini menurutnya bukan hanya untuk generasi saat ini, tetapi bisa digunakan untuk generasi mendatang. Dengan demikian, khazanah kesusastraan Sunda akan tetap dikenal hingga seterusnya.
“Pusat Data Sastra Sunda ini bukan sekadar membangun fisiknya, tetapi benar-benar mendekatkan sastra melalui Teknologi Informasi yang saat ini sudah melekat di masyarakat,” kata Rektor.
Program ini pun, lanjut Rektor, sejalan dengan rencana Unpad dalam mengembangkan Pusat Studi Budaya Unpad. Dengan demikian, penyusunan pusat data ini juga menjadi bagian dari proses akademik Unpad ke depannya.
“Unpad tetap berkomitmen untuk melestarikan kebudayaan Sunda. Sepanjang Unpad masih berdiri, Sastra Sunda di perguruan tinggi akan tetap ada,” kata Rektor.
Terkait rencana pengembangan Pusat Studi Budaya Sunda, Yuyu menjelaskan pusat studi ini akan menjadi wadah penelitian Kebudayaan Sunda. “Fokusnya lebih ke penelitian kepada hal-hal yang berkait kepada budaya, seni, dan sastra Sunda. Pusat Studi ini juga akan menjadi ruang implementasi Unpad Nyaah ka Jabar,” kata Yuyu.*
Laporan oleh: Arief Maulana / eh
