[Unpad.ac.id, 14/04/2016] Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lingkung Seni Sunda (Lises) Unpad kembali melaksanakan penelitian dan pengembangan budaya Sunda. Pada kesempatan kali ini, Lises Unpad melakukan dokumentasi budaya Angklung Landung di daerah Tasikmalaya. Dokumentasi dilakukan bertepatan dengan acara Festival Pesona Galunggung, Sabtu (10/04) lalu.

Daerah Tasikmalaya menyimpan kekayaan budaya alat musik Angklung Landung, yang bisa dimainkan dalam acara pembukaan, khitanan, pernikahan, maupun upacara panen raya. Angklung Landung merupakan alat musik modifikasi dari Angklung Buncis dan Angklung Badud yang pertama kali diciptakan pada tahun 2000an oleh Apep Suherlan.
Yang menarik dari Angklung Landung ini adalah memiliki ukuran yang lebih besar dari angklung biasa, yaitu memiliki panjang 2,75 meter. Selain itu, angklung ini menggunakan laras pentatonik dengan jumlah bingkai 3, sedangkan pada angklung biasa jumlah bingkainya hanya dua.
“Membuat angklung yang berbeda tujuannya supaya bisa membedakan antara angklung ciptaannya dengan angklung yang lainnya terutama dalam acara festival di beberapa kegiatan yang ditandai dengan modifikasi angklung yang tinggi dihias dengan dengan rumbe-rumbe warna warni yang terdiri dari warna merah yang berani menciptakan angklung landung, warna biru yang berarti air sebagai sumber kehidupan, warna kuning berarti kasugihan atau kemakmuran seperti panen raya, warna hijau yang berarti alam,” ujar Apep kepada Lises Unpad.
Angklung ini biasanya selalu ada yang mengiringi, yaitu tarian helaran yang dibawakan oleh para pemain angklung dengan cara berputa. Tarian ini mengandung makna bahwa jika seseroang pergi merantau, maka harus ingat akan asal muasalnya.
Angklung Landung diharapkan menjadi salah satu nilai jual dan mendapat perhatian lebih dari masyarakat, terutama generasi muda.*
Rilis: Lises Unpad/am
