[unpad.ac.id, 24/7/2019] Pelaksanaan Seleksi Masuk Universitas Padjadjaran program Jalur Mandiri Sarjana terdiri atas beberapa tahapan. Selain Mobile Assisted Test (MAT) dan tes TOEFL-Like, tahapan seleksi selanjutnya berupa wawancara dengan metode Multiple Mini Interview (MMI).

Tim wawancara dan seleksi khusus Panitia Pelaksana Penerimaan Mahasiwa Baru Jalur Mandiri Sarjana Unpad Aulia Iskandarsyah, M.Psi., PhD, mengatakan, metode MMI dilakukan untuk menjaring calon mahasiswa baru berdasarkan kemampuan nonteknis (softskills). Kemampuan ini merupakan elemen penunjang dari kemampuan teknis (hardskill) yang dibutuhkan mahasiswa.
Metode MMI pada seleksi mahasiswa baru di Unpad diadaptasi dari metode serupa yang sudah digunakan untuk menjaring kandidat pelajar/mahasiswa baru pada sejumlah lembaga pendidikan di dunia. Lazimnya, metode ini digunakan untuk menjaring kandidat pada sekolah kedokteran atau ilmu kesehatan.
Aulia menjelaskan, implementasi metode MMI di Unpad digunakan untuk menyeleksi calon mahasiswa baru dari seluruh bidang ilmu. Ini disebabkan, Unpad tidak hanya memiliki program rumpun kesehatan saja, tetapi juga rumpun ilmu sains, agro, dan sosiohumaniora.
Metode ini bertujuan untuk mengeliminasi bias yang terjadi saat melakukan wawancara sendiri/panel. “Kebiasaannya, wawancara itu kita diminta menilai beberapa aspek, misalkan lima aspek. Kalau pewawancara sudah tidak suka pada jawaban pertama, (nilai) kelima aspek tersebut sudah jatuh,” kata Aulia.
Metode MMI ini berusaha melakukan wawancara seobyektif mungkin. Ini diimplementasikan dengan metode wawancara yang tidak bersifat panel, tetapi mengikutsertakan beberapa pewawancara. Jadi, satu pewawancara hanya menilai satu parameter saja.
Lebih lanjut Aulia menjelaskan, untuk MMI di Unpad sendiri ada 7 parameter yang diukur, antara lain: empati, ketahanan, berpikir kritis, kemandirian, kreativitas dan kepemimpinan, etika dan profesionalisme, serta kemampuan komunikasi dan perilaku.
Pada intinya, wawancara ini akan melihat bagaimana karakter peserta ujian di luar kemampuan kognitifnya. “Bagaimana kemampuan dia ketika dihadapkan pada suatu masalah, apa jalan keluarnya, dan bagaimana empatinya dia saat dihadapkan satu situasi tertent,” kata Aulia.
Tujuh parameter ini merupakan hasil perumusan yang dilakukan tim bersama pihak mitra dari Universiti Kebangsaan Malaysia. Setiap perguruan tinggi akan memiliki parameter penilaian berbeda yang disesuaikan dengan kebutuhan.
Walau metode ini sudah banyak dipraktikkan di beberapa negara, baru Unpad yang mengaplikasikan metode MMI untuk multidisiplin ilmu. Aulia mengatakan, berbagai instrumen terkait parameter tersebut dibuat seumum mungkin sehingga bisa aplikatif pada semua bidang ilmu.*
Laporan oleh Arief Maulana
