Pentingnya Pengkajian Naskah Mantra dalam Konteks Sosial Budaya

[Unpad.ac.id, 14/11/2012] Sebagai salah dokumen warisan budaya, mantra sebagai bagian dari naskah-naskah kuno termasuk ke dalam salah satu unsur budaya yang erat kaitannya dengan kehidupan sosial budaya masyarakatnya. Namun, tidak banyak peneliti yang mengkaji tentang mantra dan kaitannya dalam konteks sosial budaya yang melatarbelakanginya. Padahal, di wilayah Sunda saja, sedikitnya terdapat 76 buah naskah yang secara khusus berupa mantra dan kumpulan doa. Adapun naskah yang sudah ditemukan atau dideskripsi baru sekitar 16 buah naskah mantra.

Logo Unpad *

Menurut Elis Suryani Nani Sumarlina, M.S., baru sekitar 3 naskah yang telah digarap secara filologis dari data yang didokumentasikan, yakni Mantra Pangbaran, Magis-Ajian-jeung-Pelet, serta Magic. Sehingga, naskah-naskah mantra yang lainnya masih banyak yang belum ditangani dan dilakukan pengkajian. Apabila dibiarkan, naskah-naskah tersebut dikhawatirkan akan rusak bahkan hilang.

“Penelitian mengenai naskah sangat berguna untuk menumbuhkembangkan kesadaran masyarakat mengenai arti pentingnya sebuah naskah buhun, kuno, sehingga menggugah keinginan untuk menjaga dan melestarikannya,” ungkap Elis saat membacakan disertasinya di Sidang Terbuka Promosi Doktor di Ruang Sidang Gedung Pascasarjana Unpad, kampus Unpad Bandung, Rabu (14/11).

Lebih lanjut Elis mengungkapkan, mantra sendiri keberadaannya masih dipertahankan dengan baik oleh masyarakat Sunda khususnya yang tinggal di kampung-kampung adat, seperti Baduy, dan Kampung Naga. Masyarakat Pengamal Mantra, begitu Elis mengistilahkan, menganggap bahwa membaca mantra sama dengan membaca doa. “Dalam konteks Sosiologi Sastra, mantra sering digunakan bagi para tokoh masyarakat adat dalam kegiatan, seperti khitanan, pernikahan, atau pengobatan tradisional,” jelasnya.

Sebagai peneliti yang berkecimpung di dunia Filologi, Elis pun menekankan dengan dikajinya teks naskah mantra, setidaknya telah mampu mengikis apriori masyarakat terhadap keberadaan mantra. Sebagaimana yang tampak dalam kehidupan di masyarakat Baduy, mantra telah menjadi bagian dari adat istiadat, tradisi, dan kepercayaan mereka yang menganut aliran Selam Wiwitan. Hal ini membuktikan bahwa mantra secara representatif menunjukkan kenyataan tentang adanya bayangan nilai-nilai budaya yang secara luhur sebagai hasil pemikiran, sikap hidup, pandangan, dan cita-cita dari para leluhur Sunda.

“Penelitian terhadap mantra memperlihatkan sebagai salah satu usaha untuk mengenali kembali berbagai aspek budaya yang terkandung di dalamnya, sehingga dapat mempercepat pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Nasional,” ungkap Elis yang telah melakukan penelitiannya ke beberapa Kampung Adat di Jawa Barat, Banten, dan Cilacap.

Dalam simpulannya, Elis pun berharap bahwa disertasinya mengenai mantra ini merupakan tolok ukur bagi penelitian tentang mantra maupun naskah kuno lainnya untuk memperkaya khazanah penelitian, baik untuk Filologi, Linguistik, Antropologi, maupun Sastra.

Disertasi yang berjudul “Mantra Sunda dalam Tradisi Naskah Lama: Antara Konvensi dan Inovasi” tersebut, dipresentasikan di hadapan tim Promotor yang terdiri atas Prof. Dr. H. I. Syarief Hidayat, M.S., Prof. Dr. H. Yus Rusyana, dan Dr. Hj. Titin Nurhayati Ma’mun, M.S. Adapun Tim Oponen Ahli dalam sidang ini ialah Prof. Dr. Hj. Nina Herlina Lubis, M.S., Prof. Dr. Iskandarwassid, Prof. Dr. Cece Sobarna, M.Hum., dan Dr. Dedi Koswara, M.Hum., dengan ketua Sidang yaitu Prof. Dadang Suganda, M.Hum., Elis pun berhasil meraih gelar doktor dengan predikat “Sangat Memuaskan”.*

Laporan oleh Arief Maulana/mar

Share this: