Prof. Dedi Ruswandi: Budi Daya Jagung Harus Adaptif Perubahan Iklim

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Prof. Ir. Dedi Ruswandi, M.Sc., PhD, saat membacakan orasi ilmiah berjudul “Pengembangan Jagung untuk Antisipasi Perubahan Iklim Global di Indonesia” berkenaan dengan Penerimaan Jabatan Guru Besar bidang Ilmu Pemuliaan pada Fakultas Pertanian Unpad dalam upacara pengukuhan yang digelar di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Bandung, Selasa (29/3/2022). (Foto: Dadan Triawan)*

[Kanal Media Unpad] Menghadapi perubahan iklim global, pengembangan teknologi budi daya jagung perlu dilakukan. Perubahan iklim global yang ekstrem diketahui dapat turut mengganggu produksi jagung.

“Pengembangan teknologi budi daya dan perakitan jagung yang adaptif pada perubahan iklim global merupakan solusi yang strategis,” kata Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Prof. Ir. Dedi Ruswandi, M.Sc., PhD, saat membacakan orasi ilmiah berjudul “Pengembangan Jagung untuk Antisipasi Perubahan Iklim Global di Indonesia”.

Orasi ilmiah tersebut dibacakan berkenaan dengan Penerimaan Jabatan Guru Besar bidang Ilmu Pemuliaan pada Fakultas Pertanian Unpad dalam upacara pengukuhan yang digelar di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Bandung, Selasa (29/3/2022).

Dijelaskan Prof. Dedi, perubahan iklim global yang ekstrem mengakibatkan kekeringan, banjir, serta ko-evolusi patogen dan hama yang pada akhirnya menggangu produktivitas dan produksi di tingkat nasional dan global.

Prof. Dedi mengatakan, teknologi budi daya tanaman yang perlu dikembangkan mencakup sistem budidaya tanaman serta kesehatan dan kesuburan tanah dan tanaman.  Perakitan jagung unggul yang adaptif pada perubahan iklim global juga diperlukan, baik perakitan jagung hibrida maupun jagung bersari bebas. 

Lebih lanjut Prof. Dedi menjelaskan, perubahan iklim global menyebabkan fenomena elnino dan lanina. Fenomena elnino mengakibatkan kemarau dan meluasnya kekeringan pada lahan pertanian, sedangkan fenomena lanina yang mengakibatkan kebanjiran dan gelombang pasang mengakibatkan meluasnya lahan salin di Indonesia. 

Musim penghujan yang ekstrem dan meluas menyebabkan cuaca berawan yang mengakibatkan naungan pada tanaman. Kondisi ini memengaruhi fotosintesis yang pada akhirnya memengaruhi hasil tanaman.  Perubahan iklim global juga dapat menurunkan produktivitas pertanaman (5-20 persen) atau bahkan kegagalan panen.

“Perakitan jagung yang toleran naungan merupakan keharusan dalam menunjang perakitan jagung yang beradaptasi terhadap perubahan iklim global. Perakitan varietas unggul yang toleran terhadap naungan dan fluktuasi perubahan lingkungan merupakan upaya untuk mempertahankan swasembada jagung dan meningkatkan hasil,” kata Prof. Dedi.

Salah satu strategi yang dapat dilakukan dalam pengembangan budi daya jagung di era perubahan iklim global adalah teknologi budi daya tumpangsari. Prof. Dedi menjelaskan, tumpangsari jagung dengan tanaman lain merupakan sistem pertanian terintegrasi yang mendahulukan konsep modifikasi teknik budidaya tanaman ramah lingkungan.  Tumpangsari jagung dengan tanaman lainnya ini telah dilaporkan oleh banyak peneliti.

Selain itu agroforestri berbasis jagung juga dapat menjadi solusi peningkatan produksi jagung nasional yang adaptif perubahan iklim global. Dikatakan Prof. Dedi, perakitan jagung toleran naungan merupakan kunci utama budi daya jagung pada agroforestri dengan tanaman keras tertentu. 

Pada kesempatan tersebut Prof. Dedi juga menjelaskan bahwa varietas unggul jagung dapat dihasilkan melalui program pemuliaan tanaman jagung.  Pemuliaan tanaman jagung unggul terdiri dari tahapan siklus yang meliputi akuisisi plasma nutfah jagung, perakitan galur tetua, perakitan varietas unggul, pengujian varietas unggul, serta perlindungan dan pelepasan varietas tanaman.

“Strategi yang komprehensif dalam pengembangan jagung di era perubahan iklim global ekstrim termasuk di antaranya pengembangan teknologi budi daya jagung adaptif seperti tumpangsari dan agroforestry dan perakitan jagung adaptif iklim global ekstrim dengan menggabungkan karakter kuantitatif resistensi hama dan pathogen utama serta toleransi naungan dan kekeringan dalam satu varietas unggul jagung,” kata Prof. Dedi.(arm)*

Share this: