Asri Peni Wulandari, PhD Teliti Manfaat Tanaman Rami untuk Tekstil dan Biobriket

[Unpad.ac.id, 6/04/2015] Indonesia mempunyai potensi biomassa yang belum terolah secara efektif. Salah satu tanaman yang berpotensi untuk dikembangkan adalah rami. Tanaman rami (Boehmeria nivea) selama ini dikenal sebagai bahan baku tekstil pengganti kapas yang sudah dibudidayakan sejak masa penjajahan Belanda. Seratnya diambil untuk diolah menjadi bahan baku tekstil, dengan kualitas yang baik jika dibandingkan dengan bahan baku serat alam lainnya.

Asri Peni Wulandari, PhD (Foto oleh Dadan T.)*
Asri Peni Wulandari, PhD (Foto oleh Dadan T.)*

Bagi Asri Peni Wulandari, PhD., ahli Mikrobiologi FMIPA Unpad, tanaman rami memiliki karakteristik yang unik. Tanaman ini bisa tumbuh di wilayah manapun dan memiliki masa produktif yang baik. Dalam 3 -4 bulan, tanaman ini sudah bisa dipanen dan berlangsung hingga 8 tahun.

“Daun, batang, dan akar tanaman rami memiliki manfaat. Daunnya memiliki antioksidan yang setara dengan teh hijau. Batangnya bisa dijadikan serat, akarnya juga bisa dimanfaatkan sebagai benih,” ujar Asri.

Meski memiliki kualitas bagus, saat ini tanaman rami sulit berkembang. Padahal, Indonesia sudah berusaha mengembangkan tanaman ini sejak 20 tahun yang lalu. Menurut Asri, penyebabnya adalah gagalnya sistem pengembangan agribisnis yang tidak dirancang secara hulu hilir teknologi.

“Program pengembangan masih diselesaikan kasus per kasus, misalkan petani ingin mengembangkan tanaman untuk serat tekstil, teknologi produksi seratnya saja yang dikembangkan tetapi teknik budidaya tidak dikembangkan. Sehingga pada saat kebutuhan meningkat, sistem budidayanya tidak siap. Diversifikasi produk seratnyapun tidak dikembangkan pula , sehingga segmen pasarnya masih terlalu sempit,” jelas dosen program studi Biologi FMIPA Unpad ini.

Pada pengolahan serat rami menjadi tekstil, teknologi yang digunakan memakan biaya yang cukup tinggi. Pasalnya, pada saat proses degummming (pemanasan) dilakukan, dibutuhkan campuran bahan-bahan kimia. Ketergantungan akan bahan-bahan kimia yang notabene impor dan mahal turut berpengaruh ke harga jual tekstil yang jauh lebih tinggi dari harga tekstil biasa.

Masalah ini menjadi perhatian Asri. Penelitian awalnya terkait rami adalah menemukan teknologi yang murah dan ramah lingkungan untuk proses degumming, yakni mengisolasi mikroorganisme untuk mengganti bahan-bahan kimia dengan menggunakan jamur rhizopus sp.

“Teknologi ini jauh lebih murah dan ramah lingkungan,” ujar dosen kelahiran Bandung.

Dengan menghasilkan teknologi yang jauh lebih murah, tekstil rami bisa kembali bangkit. “Kita negara tekstil tapi 95% kapasnya itu impor, jadi kita hanya mampu sediakan bahan baku 5%. Seharusnya kita tidak usah impor lagi kalau bisa produksi serat rami,” kata Asri.

Biobriket Ramah Lingkungan
Dari situ, Asri melihat begitu banyak potensi serat rami. Salah satu penelitian lanjutan yang dikembangkan adalah pembuatan biobriket dan kompos dari limbah rami. Biobriket yang dihasilkan mampu menjadi bahan bakar alternatif pengganti LPG.

Pada awalnya, Asri melihat banyak limbah hasil pengolahan serat rami di Desa Wanaraja Garut, sentra budidaya tanaman rami di Jawa Barat. Di sana ditemukan banyak masyarakat yang menggunakan kayu bakar karena sulitnya mendapatkan LPG. Kalaupun ada, harganya akan jauh lebih mahal 2 kali lipat.

“Solusi yang paling mudah yaitu membuat biobriket dan paling tepat untuk kebutuhan masyarakat pedesaan. Dibuat dengan teknologi sederhana sehingga mereka bisa menggunakan teknologi itu dan mereka bisa mandiri,” ujarnya.

Biobriket yang dihasilkan memiliki kualitas baik. Setelah dilakukan analisis, jumlah kalori yang dihasilkan lebih besar dari batu bara, yakni 6.200 kal/gram, sedangkan untuk batu bara 5.000 kal/gram. Di sisi lain, harga jualnya pun jauh lebih rendah dari harga LPG. Sedangkan kompos rami yang dihasilkannya dapat berperan mengurangi penggunaan pupuk anorganik sebanyak 50%

Melalui penelitian tersebut, Asri mendapat hibah Dana Riset, Inovatif, Produktif (Rispro) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) tahun 2014 sebesar Rp 1,54 miliar/tahun dalam jangka waktu 2 tahun. Perolehan tersebut didasarkan pada penelitiannya yang mampu mengatasi permasalahan energi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, Asri juga mendapat hibah Penelitian Unggulan Strategis Nasional tahun 2014 selama 3 tahun untuk penelitian mengenai pengolahan serat rami sebagai bahan baku pembuatan propelan.

Dalam dua tahun penelitian yang sedang dilakukan adalah membangun pabrik prototipe biobriket yang akan bersinergis dalam produksi serat rami di Desa Wanaraja. Pabrik ini sekaligus sebagai tempat untuk memproduksi kompor biobriket. Dalam pengembangannya, tim telah melakukan mitra dengan produsen kompor.

“Masyarakat di sana juga sangat antusias dan mereka akan terlibat memproduksi bersama. Beberapa pondok pesantren pun sudah tandatangan untuk menggunakan biobriket ini,” jelasnya.

Dari hasil penelitian mengenai rami, Asri telah meluluskan 1 orang mahasiswa program Magister dan 26 program Sarjana. Hal ini karena banyak potensi yang bisa diteliti dan dikembangkan yang ujungnya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Penelitian yang saya lakukan justru berangkat dari bagaimana pendekatan teknologi tepat guna bisa menjangkau masyarakat, sehingga masyarakat lokal bisa lebih berpartisipasi dan ekonomi daerah pun bisa berkembang,” pungkasnya.*

Laporan oleh: Arief Maulana / eh

Share this: