Dr. Tomy Perdana, SP., MM., Ciptakan Model Manajemen Rantai Pasok yang Bantu Petani Tingkatkan Pendapatannya

[Unpad.ac.id, 27/01/2014] Banyak yang tidak percaya bahwa petani kecil di Indonesia dapat terlibat dalam pasar terstruktur, seperti ekspor, ritel modern, dan jasa pangan. Tidak demikian dengan dosen Fakultas Pertanian Unpad, Dr. Tomy Perdana, SP., MM. Ia membuktikan bahwa petani kecil di Indonesia juga bisa terlibat dalam pasar ekspor dan ritel modern.

Dr. Tomy Perdana, SP., MM (Foto oleh: Dadan T.)*
Dr. Tomy Perdana, SP., MM (Foto oleh: Dadan T.)*

Melalui model manajemen rantai pasok (supply chain management) yang ia buat, Dr.Tomy dapat membantu petani kecil untuk dapat meningkatkan produksi serta pendapatannya. Model tersebut pun dapat menjadi jembatan antara para petani dan pasar, karena menurut Dr.Tomy, selama ini sering terjadi ketidakkeselarasan antara pemahaman produsen dan kebutuhan pasar.

“Banyak yang tidak percaya petani kecil bisa ekspor, karena lahannya kecil, terfragmentasi, dispersal, atau yang lain. Bisa tapi harus spesifik manajemen rantai pasoknya. Tidak bisa pakai rumus-rumus dari negara maju. Berbeda. Karena ini memang dibangun dari dunia nyata yang ada di kita,” ungkap Dr. Tomy saat ditemui di ruang kerjanya, di kampus Fakultas Pertanian Unpad beberapa waktu lalu.

Dr. Tomy mengungkapkan, berdasarkan data, jumlah produksi sayuran buah di Indonesia sangatlah banyak. Walaupun demikian, kita masih melakukan impor, dan jumlahnya pun semakin besar hingga mencapai 10% dari total sayuran dan buah yang ada. Selain itu, jumlah petani kecil yang terlibat ke pasar ekspor pun sangat kecil, kurang dari 2%. Petani yang bisa masuk ke supermarket pun masih terbilang kecil, hanya mencapai 15%. Akhirnya, volume yang masuk ke supermarket pun tidak terlalu berkembang, dan lebih banyak melalui impor.

Menurut dosen di bidang Agribsinis ini, dengan berbasis system thinking, model dibuat untuk memahami kompleksitas di bidang Agribisnis. Ia melihat bahwa saat ini pertanian sudah tidak bisa lagi dipandang sebagai sesuatu yang linier. Dunia pertanian saat ini semakin kompleks, nonlinier, dan dinamis. Salah satu contohnya, saat ini bukan tidak mungkin petani kecil terlibat dalam pasar ekspor dan ritel modern.

“Model dibuat untuk memahami kompleksitas dari dunia pertanian sendiri sehingga kita bisa memformulasikannya secara tepat dan lebih cepat, dan bias mendorong sampai ke level aplikasi,” tutur Dosen Berprestasi Unpad tahun 2010 ini.

Selain “menyambungkan” keinginan produsen dan pasar, salah satu hal yang dapat dilakukan melalui model ini adalah meredam fluktuasi harga di pasar. Dr. Tomy menjelaskan bahwa kestabilan harga dipengaruhi oleh ketersediaan. Masyarakat banyak yang menyalahkan fluktuasi harga terjadi karena pedagang yang memainkan harga. Padahal hal tersebut terjadikarena keputusan dan tindakan produsen (petani) yang tidak berdasarkan konsistensi serta permintaan di pasar.

Untuk mengatasinya, salah satu hal yang diperhatikan melalui model ini adalah pola tanam bagi si petani. “Stok itu dibentuknya oleh produksi. Produksinya dibuat berkesinambungan. Nah sekarang kita bangun itu, petani diubahnya seperti itu,” jelas pria kelahiran Bandung, 13 Desember 1973 yang menggeluti bidang system dynamics ini.

Dr. Tomy menyebut apa yang ia lakukan ini sebagai action research. Dimana dari model yang ia buat, langsung diterapkan, kemudian dilakukan evaluasi, untuk kemudian dilakukan pengembangan lagi. Dr.Tomy memulai penelitiannya ini sejak tahun 2010 dengan sumber dana Hibah Andalan Unpad, dan hingga kini secara bertahap terus melakukan perkembangan seiring dengan aplikasi model yang dilakukan.

“Pengembangan dilakukan bertahap terus. Dari model diaplikasikan ke dunia nyata, kemudian ada interaksi, ada feedback untuk kita masukan ke model,” tutur Dr.Tomy yang kini menjabat sebagai Kepala Departemen Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran ini.

Model ini telah diaplikasikan di beberapa daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, khususnya untuk sayuran dan buah. Untuk Jawa Barat sendiri, model telah diaplikasikan di Pangalengan, Lembang, Garut, dan Ciamis, yang sudah terbukti meningkatkan kesejahteraan petani.

Melalui model ini pula, Dr. Tomy berhasil meraih penghargaan “Rucita Rekayasa Sosial” untuk inovasinya yang berjudul “Rekayasa Sosial Pelibatan Petani Kecil dalam Sistem Rantai Pasok Sayuran untuk Memenuhi Pasar Ekspor dan Ritel Modern”. Penghargaan ia peroleh pada ajangAnugerah Motekar Unpad yang digelar Unpad sebagai salah satu rangkaian Dies Natalis ke-56 Unpad.

Selain itu, pada tahun 2012 karyanya juga berhasil masuk publikasi internasional terindeks Scopus dengan judul “The Triple Helix Model for Fruits and Vegetebles Supply Chain Management Development Involving Small Farmers in Order to Fulfill the Global Market Demand: a Case Study in Value Chain Center (VCC) Universitas Padjadjaran”.

Sebagai akademisi, Dr.Tomy meyakini bahwa setiap akademisi harus memiliki distinctive competence yang kuat dari sisi keilmuannya. Sehingga dari keunikan itu, dapat memberikan sesuatu yang bermakna. Bukan hanya menghasilkan teori dan metodologi, tetapi juga dapat menghasilkan sesuatu yang langsung dapat digunakan oleh masyarakat.

“Juga jangan pisahkan antara penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Harusnya itu harus sudah menjadi satu paket. Makanya kemudian berkembangkan action research. Kalau saya sih platformnya itu,” tutur Dr. Tomy. *

Laporan oleh: Artanti Hendriyana / eh *

Share this: