Prof. Dr. I. Syarief Hidayat, MS., “Naskah Kuno Bisa Jadi Inspirasi Pembinaan Karakter Masa Kini”

Prof. Dr. I. Syarief Hidayat, MS. (Foto oleh: Dadan T.)*

[Unpad.ac.id, 29/05/2015] Warisan kebudayaan leluhur bukan hanya terlihat dari peninggalan artefak belaka. Naskah kuno mampu mengungkap pola pikir dan aktivitas kehidupan masyarakat Nusantara lama. Pola pikir masyarakat dalam naskah ini menggambarkan bagaimana membentuk pembinaan masyarakat sebagai bangsa yang beradab.

Prof. Dr. I. Syarief Hidayat, MS. (Foto oleh: Dadan T.)*
Prof. Dr. I. Syarief Hidayat, MS. (Foto oleh: Dadan T.)*

Hal tersebut menjadi fokus keilmuan Prof. Dr. I. Syarief Hidayat, M.S., Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Unpad. Dari segi moral, naskah kuno dapat mengembalikan kondisi kemerosotan moral melalui nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. “Dengan pengungkapan nilai-nilai budaya lama akan bisa memberikan inspirasi kepada masyarakat kini dalam pembinaan karakter bangsa,” ujar Prof. Syarief.

Guru Besar Program Studi Sastra Arab ini mendalami manuskrip kuno Nusantara yang ditulis dengan aksara Arab dan Pegon. Naskah ini lahir sejalan dengan perkembangan Islam di Nusantara. Diperkirakan, Agama Islam telah masuk ke bumi Nusantara pada abad ke-7 dan 8 Masehi, langsung dari Tanah Arab.

Mengutip tulisan Prof. Syarief yang berjudul “Budaya Menulis Aksara Jawi di Bumi Nusantara”, berkembangnya Islam di Nusantara melahirkan berbagai tempat peribadatannya, yaitu mesjid, surau atau langgar di berbagai tempat. Tempat peribadatan ini juga berkembang menjadi pusat pendidikan Islam atau dikenal istilah “pesantren”. Proses pengajaran berlangsung dengan sistem dan metode tertentu dengan orientasi pada pengkajian kitab-kitab keagamaan.

Dengan demikian, sebagian besar naskah lahir di lingkungan masyarakat umum dan pesantren. Prof. Syarief menjelaskan, kala itu pesantren juga berfungsi sebagai skriptorium, atau tempat penyalinan manuskrip naskah-naskah. Para santrilah yang melakukan penyalinan kitab-kitab agama. Para santrilah yang melakukan penyalinan naskah tersebut.

“Pada awalnya, naskah ini menjadi buku pelajaran bagi para santri. Buku-buku agama yang dibawa ulama disalin oleh para santri karena pada zaman itu belum ada mesin cetak dan kegiatan ini yang banyak melahirkan naskah-naskah pesantren,” jelasnya.

Huruf Pegon (Huruf Jawi di Tanah Jawa) sendiri merupakan huruf Arab yang dimodifikasi sehingga huruf ini dapat digunakan untuk menuliskan Bahasa Sunda ataupun Jawa. Huruf ini banyak berkembang di lingkungan pesantren. Dengan demikian, naskah-naskah kuno berbahasa Arab Pegon banyak tersebar di pesantren di Indonesia.

Huruf Jawi di Tanah Melayu disebut huruf Arab Melayu dan digunakan untuk menulis surat menyurat dan administrasi pemerintahan. Sebelum huruf Jawi muncul, huruf yang digunakan khususnya di Jawa Barat masih menggunakan huruf Sunda Kuna (cacarakan) atau huruf Jawa Kuna (hanacaraka).

“Bahkan surat terbuka Raffles untuk raja-raja di Pulau Jawa (1811) untuk meminta dukungan pengusiran sekutu Perancis-Belanda di Pulau Jawa, surat Proklamasi Inggris mengenai penguasan Batavia, surat Gubernur Jenderal Reynier de Klerk kepada Sultan Muhammad Bahauddin di Palembang (1782), semua ini menggunakan Arab Melayu,” tambah Prof. Syarief.

Guru Besar yang lahir di Bandung, 13 April 1946, mengungkapkan, aksara Arab tidak digunakan lagi pascakemerdekaan Indonesia. Pendidikan Indonesia yang berinduk ke Barat menggeser penggunaan aksara Arab menjadi aksara Latin.

Naskah berisi cerita yang beragam. Prof. Syarief yang pernah menjabat Atase Pendidikan dan Kebudayaan di KBRI Riyadh Kerajaan Arab Saudi 1995 – 2000 menyebut, kebanyakan cerita naskah yang bernafaskan Islam, seperti hikayat Abu Samah, hikayat Nabi Medal, Nabi Bercukur, Serat Anbiya, hingga Babad Cerbon dan Babad Galuh yang diadaptasi dari cerita Sunda.

Di setiap isi naskah, Prof. Syarief yang sudah meneliti banyak naskah kuno ini mengatakan, terkandung pesan moral. Pesan moral tersebut diantaranya meliputi pembinaan akhlak hingga ajaran Islam yang berkaitan dengan  ekonomi, hukum, maupun kehidupan lainnya.

“Contohnya naskah Hikayat Abu Samah (dalam naskah Sunda disebut Abdussomad), itu tentang penerapan hukum. Bagaimana Khalifah Umar bin Khattab menerapkan hukum cambuk sampai mati terhadap anaknya sendiri yang melanggar. Inilah gambaran pemimpin yang adil dalam menegakkan hukum,” paparnya.

Karena itu, untuk bisa membaca masa depan berarti harus juga menggali sejarah. Masyarakat Indonesia menurut Prof. Syarief harus mampu menggali akar sejarahnya, salah satunya menggali berbagai pesan yang dituangkan dalam naskah. Hal ini juga turut melestarikan naskah-naskah kuno yang masih ada hingga kini.

Mantan Ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Jabar 2003 – 2008 ini mengungkapkan, sangat sedikit naskah kuno yang terdokumentasikan dengan baik. Sebanyak 22 negara di dunia menyimpan Naskah-naskah kuno Nusantara, sebagian lainnya ada yang disimpan di beberapa pesantren, semisal di Pesantren Tanoh Abee di Banda Aceh, banyak pesantren di Tanah Jawa, hingga di Kesultanan/Keraton.

“Naskah yang ada harus dirawat dengan baik, disimpan di suhu 18 derajat untuk mengurangi cepatnya kerusakan. Sekarang juga dah ada upaya bentuk digitalisasi, tinggal kemudian dipelajari, dikaji, dan diterapkan pada zaman sekarang,” kata Prof. Syarief.

Di bidang kepakarannya, Prof. Syarief telah menghasilkan Mushaf Sundawi pada tahun 1995. Mushaf ini merupakan Mushaf Al Quran yang ditulis kaligrafer Jawa Barat dengan corak iluminasi diambil dari Budaya Sunda. Sementara pada tahun 2007, Prof. Syarief juga menjabat Sekretaris Penulisan Al-Quran terjemahan Bahasa Sunda.

“Saya sedang merencanakan menyusun Kamus Arab- Sunda. Melalui kamus ini saya ingin Unpad lebih berguna bagi masyarakat,” pungkasnya.*

Laporan oleh: Arief Maulana / eh

 

Share this: