[Unpad.ac.id, 25/11/2013] Kandungan organik di lahan pertanian Indonesia terus menurun. Apalagi lahan persawahan di Indonesia yang telah berusia tua dan cenderung menjadi ultimate state soil (ultisols). Kondisi miskin bahan organik ini menimbulkan berbagai masalah sehingga produksinya cenderung turun.

“Kondisi tanah seperti ini masih bisa kita manfaatkan, solusinya dengan mengunakan teknologi. Kita masih bisa kembalikan kesuburannya, karena sebenarnya bahan organik yang dibutuhkan sudah ada dari hasil lahan itu sendiri yang biasanya diangap sebagai limbah. Tinggal bagaimana kita mengolah limbah yang merupakan cost center menjadi benefit center, ungkap Prof. Dr. Tualar Simarmata, Ir. MS., dosen Fakultas Pertanian Unpad, saat di temui di Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Unpad Jl. Raya Bandung Sumedang KM 21, Jatinangor, Rabu (20/11) lalu.
Dalam dunia pertanian, biasanya hasil utama yang dipanen itu jauh lebih sedikit daripada limbahnya. Misalnya dalam tanaman padi, hasil jerami itu satu setengah kali lebih banyak dari pada gabahnya. Sayang, selama ini jerami sering kali hanya dibakar karena diangap sebagai limbah, padahal jerami yang dihasilkan dari sisa-sisa panen dapat diolah menjadi kompos dan apabila dikembalikan kesawah akan menambah kandungan organik dalam tanah.
Ahli bioteknologi tanah ini memaparkan, di dalam jerami tersimpan unsur hara tanah dan CO2 sehingga menjadikanya senyawa komplek. Apabila jerami ini diolah menjadi kompos dan dikembalikan ke lahan, akan menjadi sumber organik yang besar. Belum lagi sekam bekas gabahnya, apabila diproses menjadi biocare dan dikembalikan ke lahan akan lebih menambah kesuburan tanah.
”Apabila teknologi ini diterapkan di lahan selama tiga tahun berturut-turut, lahan tersebut bisa remaja kembali antara 80-90%, dan kita bisa mengurangi pengunaan pupuk unorganik, karena teknologi yang kita gunakan adalah Leisa (Low External Input Sustainable Agriculture). Dengan cara seperti ini, kita mengembangkan apa yang disebut dengan cause reduction technology,” lanjut Prof. Tualar.
Pelatihan pembuatan kompos dari jerami ini telah disosialisasikan Prof. Tualar di berbagai Kabupaten di Indonesia. Selain itu ia juga terus menyosialisasikan pelatihan Teknlogi Intensifikasi Padi Aerob Terkendali Berbasis Organik (IPAT-BO) sejak 2006. Dan teknologi ini mendapat respon yang baik dari petani di berbagai daerah di Indonesia serta dukungan langsung dari Kementerian Riset dan Teknologi.
Teknologi IPAT-BO temuannya ini membawa Guru Besar Fakultas Pertanian Unpad ini berkeliling desa di berbagai kabupaten dan kota di Indonesia untuk memenuhi undangan menjadi pembicara dan narasumber. Berbagai media pun telah memberitakan teknologi IPAT-BO tentang keberhasilannya dalam meningkatkan produktivitas hasil panen 2-4 kali lipat diberbagai daerah di Indonesia.
Keunggulan teknologi IPAT-BO ini di antaranya adalah dapat memperbaiki lahan, hemat air 25%, hemat bibit 25%, hemat pupuk kimia 50%, dan panen lebih cepat 7-10 hari. Sehingga teknologi ini dapat menjadi solusi untuk mendukung program ketahanan dan kedaulatan pangan negara Indonesia.
“Teknologi ini menjadi mudah dan murah karena memanfaatkan pontensi yang ada atau lokal, sisanya baru dari luar. Sehingga teknologi ini mendapat respon positif dari petani karena memang menghemat biaya dan terbukti dapat meningkatkan hasil,”ujar Prof. Tualar.
Selain kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat melalui pelatihan dan seminar-seminar diberbagai daerah. Prof. Tualar juga terus mengembangkan berbagai penelitian produktif. Berbagai penelitiannya pun berhasil mendapatkan Hak Paten. Pada tahun 2011 mendapatkan Hak Paten atas Konsorsium Pupuk Bio (Biofertilizers), masih tahun yang sama Konsorsium Inokulan Mikroba Perombak(Dekomposer) Jerami Padi juga mendapatkan Hak Paten. Pada tahun 2012, Larutan Multinutrisi dan Penyubur Ranah serta Larutan Pembenah Kemasaman Tanah atau Pembenah Kemasaman Tanah Berbentuk Cair juga mendapatkan Hak Paten.
Selain bekerja sama dengan berbagai industri, alumni Unversitas Justus Liebig-Jerman ini bersama rekan dan mahasiswanya di Fakultas Pertanian Unpad mengembangkan spin-off industry melalui CV Bintang Asri Artauly. Produk perusahaan ini merupakan hasil pengembangan penelitian dosen Unpad yang sudah terdaftar. Adapun produk yang telah diproduksi antara lain, Bionutrisi Degra (dekomposer), Bionutrisi BIO (biofertilizer), Pupuk NPK tablet (Grandhamlet), Pupuk Organik Olahan (BIOS) dan pupuk cair organik (bionutrisi) serta pupuk anorganik cair.
Selain sebagai tempat produksi, spin-off industry ini menjadi tempat magang dan penelitian bagi mahasiswa jenjang sarjana hingga pascasarjana di bawah bimbingan Prof. Tualar. “Kompentensi lulusan itu kan sangat tergantung pada keterampilan, dan untuk meningkatkan keterampilan itu butuh wadah. Nah tempat ini banyak dimanfaatkan sebagai tempat belajar dan sebagai batu loncatan bagi beberapa lulusan,” lanjut Prof.Tualar.
Pengembangan spin-off industry itu sendiri merupakan “kegalauan” Prof.Tualar dalam menindaklanjuti temuannya pada suatu riset. Ia berharap, Unpad terus memfasilitasi, mengembangkan serta mengawal penelitian yang ada hingga menjadi suatu penelitian yang produktif. Menurutnya masih banyak penelitian di Unpad ini yang masih banyak tersimpan di “laci”. *
Laporan oleh: Purnomo Sidik / eh *
