Pembangunan Pertanian Harus Memperhatikan Faktor Hulu Hingga Hilir

[Unpad.ac.id, 16/12/2012] Pertanian merupakan sektor penting dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, pembangunan pertanian harus diperhatikan secara menyeluruh mulai dari hulu hingga  hilir guna menjaga keberlangsungan kehidupan manusia itu sendiri.

Logo Unpad *

“Kedepan harus ada sebuah cara pandang yang sangat baik terkait dengan mekanisme kehidupan kita, terkait dengan alur hulu sampai hilir di sektor pertanian ini,” tutur Dr. (Hc.) H. Ahmad Heryawan, Lc., Gubernur Jawa Barat ketika menjadi pembicara utama dalam Sarasehan “Refleksi Akhir Tahun: Mendorong Implementasi Green Province dalam Menuju Jawa Barat sebagai Provinsi Agribisnis” yang diselenggarakan oleh Keluarga Alumni Fakultas Pertanian (KAFP) Unpad di Grand Hotel Preanger, Bandung, Minggu (16/12).

Dikatakannya, Jawa Barat memiliki curah hujan tertinggi di Indonesia oleh karena itu daerah ini memiliki tanah tersubur diantara daerah lainnya di Indonesia. Keberadaan tanah yang subur tersebut merupakan potensi yang sangat besar untuk mengembangkan pertanian. Di Jawa Barat sendiri, tak kurang dari 40% penduduknya menyandarkan hidup di sektor pertanian.

Lebih lanjut, ia juga menjelaskan bahwa semestinya ketika Jawa Barat ini telah menjadi daerah pertanian maka di tengah dan hilirnya adalah industri, dimana sektor industri ini harus dapat menyangga pertanian kita dengan cara menggunakan bahan baku yang berasal dari sektor pertanian. “Industri manufaktur kita seharusnya berbasis pertanian,” tegasnya.

Namun, kenyataan berkata lain, ketika hampir seluruh kota besar di Jawa Barat ini telah menjadi kawasan industri maka hanya sedikit saja yang menghargai sektor pertanian sebagai bahan bakunya. Kebanyakan dari industri manufaktur kita menggunakan bahan impor sebagai bahan baku industrinya.

Di bagian hulu, ia juga menjelaskan alangkah baiknya apabila para pemerhati dan pegiat pertanian juga memperhatikan teknologi dalam proses pertaniannya. Teknologi ini dianggap penting karena memiliki fungsi untuk meningkatkan output dari pertanian itu sendiri yang bermuara pada hilirnya nanti.

Ia juga mengakui bahwa tidak mudah menyelesaikan masalah ini karena butuh pemikiran yang tegas dan komitmen bersama hulu-hilir ini dari mulai pengembang kebijakan sampai seluruh masyarakat di Jawa Barat itu sendiri. Tetapi, ia juga memiliki keyakinan bahwa suatu saat konsep hulu-hilir ini akan terbangun dengan baik apabila seluruh stakeholder pertanian dapat bersama berjuang mengatasinya.

“Melalui komitmen semua stakeholder yang ada untuk membangun Jawa Barat dengan alur pikir yang benar hulu-hilir tersebut saya kira tidak mustahil,” imbuhnya.

Sementara itu, Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia dalam kesempatan tersebut juga mengatakan bahwa Unpad sebagai salah satu satu stakeholder penghasil ahli-ahli pertanian juga turut berkomitmen dalam membangun pertanian di Jawa Barat. Terlebih sektor pertanian ini dalam beberapa puluh tahun ke depan dengan bertambahnya jumlah penduduk merupakan lahan garapan yang sangat menjanjikan.

Sarasehan ini juga membahas implementasi green province dalam menuju Jawa Barat sebagai provinsi agribisnis. Selain Prof. Ganjar, hadir juga pembahas dan narasumber lain diantaranya Prof. Dr. Tuhpawana P. Senjaja, Dekan Faperta Unpad periode 1992-1996; Dr. Ir. Ahmad Dimyati, MS., Peneliti Litbang Hortikultura Departemen Pertanian; dan Ir. Suyus Rizal, Pelaku Agribisnis Hortikultura. Di tempat dan waktu yang sama diadakan juga pelantikan pengurus KAFP untuk periode 2012-2015. Pada kesempatan ini, Ir. MQ. Iswara terpilih kembali menjadi Ketua Umum  KAFP.*

Laporan oleh: Indra Nugraha/mar

Share this: