Seminar Dharma Wanita Persatuan Unpad Perkenalkan Tapping di Emotional Freedom Technique Plus

Drs. Yuli Suliswidawati, M.Psi., dari Biro Konsultasi Psikologi “Westaria” saat memaparkan teknik tapping dalam Emotional Freedom Technique (EFT) Plus di Ruang Serba Guna Kampus Unpad, Jln. Dipati Ukur Bandung, Selasa (22/01) pagi. (Foto: Tedi Yusup)*

[Unpad.ac.id, 22/01/2013] Emosi negatif dalam tubuh manusia dapat menyebabkan keluhan fisik, tidak optimalnya prestasi belajar dan prestasi kerja, serta memperberat keluhan perilaku manusia. Oleh karena itu energi positif tersebut harus dikeluarkan melalui beberapa teknik terapi, salah satunya ialah teknik Emotional Freedom Techique (EFT) Plus.

Drs. Yuli Suliswidawati, M.Psi., dari Biro Konsultasi Psikologi “Westaria” saat memaparkan teknik tapping dalam Emotional Freedom Technique (EFT) Plus di Ruang Serba Guna Kampus Unpad, Jln. Dipati Ukur Bandung, Selasa (22/01) pagi. (Foto: Tedi Yusup)*

Menurut psikolog yang juga pemilik Biro Konsultasi Psikologi “Westaria”, Drs. Yuli Suliswidawati, M.Psi., EFT Plus adalah salah satu teknik psikoterapi tercepat, dan termudah dalam menyelesaikan masalah fisik, emosi, dan perilaku dalam diri manusia. Teknik ini dapat membantu mengeluarkan energi negatif dengan cara tapping (mengetuk) pada 18 titik akupuntur, untuk mengubahnya menjadi energi positif.

“Akar dari penyakit dalam tubuh sebenarnya adalah emosi negatif yang ditahan. Dengan tapping energi tersebut diubah menjadi energi positif,” ujarnya saat memberikan presentasi dalam Seminar Tapping, Selasa (22/01) di Ruang Serba Guna Kampus Unpad, Bandung. Seminar ini digelar oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) Unpad.

Lebih lanjut Yuli mengungkapkan, EFT Plus ini merupakan teknik terapi yang baik untuk mengeluarkan emosi negatif melalui proses penyelarasan energi tubuh dengan penyadaran dan penerimaan emosi. Emosi negatif tersebut adakalanya disebabkan oleh ketidakmampuan diri dalam mengatasi masalah yang terjadi. Hal tersebut bisa juga disebabkan oleh adanya trauma masa lalu yang terus menghantui dan setiap saat terus membebani.

Penelitian yang dikembangkan oleh Gary Craig dari Emoticonal Freedom Technique (EFT) Amerika Serikat ini terbukti menjadi solusi populer dan tercepat yang digunakan oleh beberapa orang di Amerika Serikat dan Eropa. Yuli sendiri telah banyak membantu beberapa kliennya yang memiliki penyakit-penyakit berat untuk disembuhkan melalui teknik EFT. Kebanyakan dari mereka memiliki trauma akan masa lalu, konflik, stres, depresi, ataupun memiliki emosi yang tertekan. Hasilnya, pasien pun merasakan kondisi tubuh yang berangsur pulih setelah emosi negatifnya dikeluarkan dengan cara tapping.

“Sebenarnya, teknik EFT ini tidak harus dilakukan oleh seorang psikolog, orang biasa pun bisa melakukannya karena teknik ini sangat efisien dan cepat,” tambahnya.

Adapun titik-titik tapping dalam tenik ini ialah ubun-ubun kepala, pangkal alis (ujung alis dekat batang hidung), kantong mata, area bawah hidung, dagu, tulang bawah leher, bawah puting payudara, samping dada, ujung pergelangan tangan atas dan bawah, karate chop, ceruk di punggung tangan antara kelingking dan jari manis,serta ujung dari keseluruhan jari.

Yuli sendiri menyarankan, kunci keberhasilan dari teknik EFT ini terletak pada sejauh mana penderita khusyuk dan pasrah menerima keadaan yang sedang dirasakannya tersebut kepada Tuhan. Pasrah dalam artian segala hal yang dirasakannya tersebut merupakan bagian dari proses kehidupan. Oleh karena itu, setiap kali melakukan tapping, tentukan dahulu apa keluhan fisik/emosi yang sedang dirasakan. “Setiap kali tapping, katakan saya sadar saya merasa ...(katakan keluhan fisik atau emosi tersebut) dan saya terima perasaan ini dengan tetap khusyuk mengingat Tuhan,” terangnya.

Teknik EFT ini dapat dilakukan oleh siapa saja. Dengan teknik EFT, seseorang akan terbebas dari emosi negatif yang selama ini mengendap dan menjadi akar penyakit di tubuhnya. Yuli sendiri menganjurkan untuk terus melakukan pemeliharaan untuk menjaga emosi negatif tersebut. “Perlu pemeliharaan yang terus agar dapat mencapai kualitas peak performance,” paparnya.*

Laporan oleh Arief Maulana / eh *

Share this: