[Unpad.ac.id, 8/02/2013] Dosen sekaligus peneliti dari Fakultas Teknik Geologi Unpad, Dr. Sc. Yoga A. Sendjaja, ST., M.Sc., mengatakan bahwa potensi kekayaan alam bumi Indonesia sangat melimpah. Hal tersebut terkait dengan apa yang disebut dengan tektonik setting, yakni tidak semua negara memiliki tatanan tektonik yang sama.

“Indonesia sebetulnya beruntung memiliki tanah yang baik,” kata Yoga saat sesi tanya jawab dalam “Vivat Academia Seminar” yang digelar pada Kamis (07/02), di Bale Sawala Gedung Rektorat Kampus Unpad Jatinangor. Dari segi mineralisasi, potensinya sendiri sangat besar. Bahkan cadangan emas dan tembaga di Papua pun merupakan salah satu cadangan terbesar yang ada di dunia.
“Kekayaan itu semuanya terkait dengan kejadian geologi berupa pembentukan lempeng tektonik yang membuat tanahnya sendiri menjadi kaya. Dan kita harapkan, mudah-mudahan kita tetap kaya,” ujar Yoga.
Akibat proses dari fenomena geologi tersebut, banyak sumber daya energi yang tersimpan di beberapa pulau besar di Indonesia, yakni Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Namun, dengan semakin banyaknya aktivitas penambangan, perlahan tapi pasti cadangan sumber daya energi tersebut akan habis.
Oleh karena itu, untuk melakukan ekplorasi sumber daya energi baru, perlu dibantu oleh penerapan ilmu sosial, salah satunya yaitu interaksi secara langsung kepada masyarakat di tempat yang diidentifikasi menyimpan cadangan energi. “Hubungan antara eksplorasi dengan Corporate Social Responsibility (CSR) itu tidak bisa dipisahkan. Dan sekarang ada kebijakan, bahwa studi CSR harus ada,” ujar Yoga.
Dalam seminar tersebut, Yoga membawakan presentasi yang berjudul “Geochemical variation in Tertiary-Quaternary lavas of West Java arc, Indonesia: Steady state subduction over the past 10 million years”.
Selain Yoga, Vivat Academia Seminar ini juga menghadirkan pembicara lainnya, yakni dosen dari Fakultas Psikologi Unpad, Dr. Efi Fitriana, dengan judul presentasi “Do family relation factors protect adolescents for substance abuse? A cross-sectional study against the background of the substance-driven HIV epidemic in Indonesia”. *
Laporan oleh Maulana / eh*
