Calon Anggota Legislatif Ikuti Keurseus Dasar Kabudayaan Sunda di Unpad

Rektor Unpad saat menyampaikan materi di Keurseus Dasar Kabudayaan Sunda kepada para calon anggota legislatif (Foto oleh: Tedi Yusup)*

[Unpad.ac.id, 26/11/2013] Di balik nama besar Sunda tersimpan beragam persoalan yang semakin mengemuka. Hal ini perlu ditangani serius, salah satunya melalui peran para pemimpin Sunda agar eksistensi Sunda tetap terjaga.

Rektor Unpad saat menyampaikan materi di Keurseus Dasar Kabudayaan Sunda kepada para calon anggota legislatif (Foto oleh: Tedi Yusup)*
Rektor Unpad saat menyampaikan materi di Keurseus Dasar Kabudayaan Sunda kepada para calon anggota legislatif (Foto oleh: Tedi Yusup)*

“Arti Sunda dalam Bahasa Kawi yaitu subur, banyak tersedia air, berkualitas dan waspada. Bahkan, kata su dalam Sunda bermakna segala hal yang baik,” ungkap Rektor Unpad di hadapan para Calon Anggota Legislatif Jawa Barat saat membuka Keurseus Dasar Kabudayaan Sunda ke-7, Selasa (28/11) di Bale Rumawat Unpad Kampus Iwakoesoemasoemantri Bandung. Kursus kali ini diikuti oleh 59 calon anggota Legistlatif Jabar dari 8 partai.

Namun, dewasa ini banyak persoalan-persoalan yang muncul di tatar Sunda. Salah satu penyebab persoalan tersebut terus mengemuka adalah banyaknya kebijakan yang dibuat oleh pemimpin Sunda yang tidak pro-Sunda. Kebijakan tersebut seringkali dipolitisasi sehingga malah menimbulkan kerugian bagi Tanah Sunda.

Untuk itulah dibutuhkan pemimpin-pemimpin Sunda yang memperhatikan kondisi Sunda, sehingga diharapkan akan menghasilkan kebijakan yang pro-Sunda. “Minimal, pemimpin-pemimpin tersebut tidak merugikan Sunda,” tambah Rektor.

Untuk menyiapkan pemimpin Sunda yang pro-Sunda, Rektor pun mengajak para calon anggota legislatif untuk meningkatkan kembali kesadaran sebagai orang Sunda. Hal sederhana yang dilakukan untuk meningkatkan kesadaran tersebut adalah dengan menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa komunikasi.

“Di Unpad sendiri kami punya 2 statuta, yaitu sebagai pewaris kebudayaan Sunda serta dapat menjadikan Bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar di dalam kegiatan universitas,” kata Rektor.

Selanjutnya, ada beberapa tanggung jawab yang diemban oleh seorang pemimpin Sunda. Tidak melakukan tindak korupsi, menghasilkan kebijakan yang pro-Sunda, serta tidak menjadikan tanah Sunda sebagai komoditas adalah tanggung jawab yang harus diperhatikan oleh pemimpin Sunda.

“Pemimpin Sunda harus sesuai dengan misi Sunda, yaitu mengangkat harkat, derajat, dan martabat Ki Sunda guna perkembangan Bangsa Indonesia. Sebab, untuk membangun Indonesia harus dimulai dari membangun wilayahnya masing-masing,” ujar Rektor.

Agar tidak hilang, Rektor pun menitipkan masa depan Sunda kepada peserta kursus. Diharapkan melalui kegiatan ini, para calon anggota legislatif dapat memahami segala kondisi yang ada di wilayah Sunda. “Nitip Sunda ka salira,” pungkas Rektor.

Selain Rektor, Keurseus Dasar Kabudayaan Sunda ini juga diisi oleh materi dari Prof. Dede Mariana (Politik Utang Sunda), Prof. Adjat Sudrajat (Geologi/Ekologi Tatar Sunda). Prof. Cece Sobarna (Kajembaran Basa Sunda), Dr. Mumuh Muhsin (Sajarah Sunda), serta Dr. Gugun Gunardi dan Taufik Ampera, M.Hum (Bahasa Sunda Kamari, Kiwari, jeung Bihari).*

Laporan oleh: Arief Maulana / eh *

Share this: