[Unpad.ac.id, 17/05/2014] Menghadapi Asean Economic Community (AEC) dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), maka Indonesia harus mempunyai daya saing yang tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain. Data menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi dan peluang besar untuk menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang berdaya saing. Untuk itu, hal utama yang perlu dilakukan adalah dengan meningkatkan kualitas SDM.
“Jika potensi besar tersebut tidak ditangkap oleh kekuatan domestik, maka dapat dipastikan akan menjadi garapan negara lain yang sudah siap untuk menangkapnya. Sangat beralasan, bahkan menjadi kekhawatiran banyak pihak, karena potensi-potensi yang tumbuh tidak berjalan seiring atau tidak diimbangi dengan upaya-upaya penguatan dan penyiapan sumber daya manusianya,” tutur Prof. Tuhpawana P. Sendjaja saat menyampaikan Orasi Ilmiah Guru Besar Purnabakti dalam rangka Lustrum ke-11 Fakultas Pertanian Unpad. Acara digelar di Graha Sanusi Hardjadinata, Sabtu (17/05).

Pada kesempatan tersebut, Prof. Tuhpawana membacakan orasi ilmiah berjudul “Membangun Budaya Produktif Bangsa: Membangkitkan Ekonomi Kerakyatan, Mengentaskan Pengagguran dan Kemiskinan”. Menurutnya, jika tidak mampu bersaing, maka yang akan terjadi adalah tingginya tingkat pengangguran yang pada akhirnya meningkatkan jumlah penduduk miskin.
Lebih lanjut Prof. Tuhpawana mengatakan, bahwa bangsa Indonesia telah tumbuh menjadi bangsa yang konsumtif, tetapi kurang mencintai produknya sendiri. Akibatnya, produk lokal sudah tersisih duluan oleh produk asing yang lebih menarik dari sisi penampilan.
“Oleh karena itu, menjadi keharusan bagi bangsa ini untuk dikoreksi dan dibenahi dari sisi budaya kompetitifnya. Jika tidak, boleh jadi kita sudah kalah bersaing sebelum perang dimulai, sebelum persaingan sejatinya terjadi,” tutur Prof. Tuhpawana yang pernah menjabat sebagai Dekan Faperta Unpad (1992-1995 dan 1995-1998) ini.
Dalam pengembangan SDM nasional, semestinya paradigma yang dikembangkan adalah membangkitkan budaya produktif bangsa, yaitu dengan menjadikan SDM kita menjadi SDM yang produktif dan inovatif sebagai wujud dari budaya produktif. Menurutnya, budaya produktif diperlukan untuk mengentaskan pengangguran dan kemiskinan.
Untuk menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang produktif, maka diperlu ada kebijakan khusus untuk memberdayakan talenta-talenta sejak dini. “Generasi muda didorong untuk menjadi wirausahawan unggul yang memiliki passion, inisiatif, kreatifitas, dan keinovatifan, terutama dalam menciptakan nilai tambah dan menangkap permintaan baru, sehingga selain mampu mengembangkan usaha dan meningkatkan kesejahteraan hidupnya tetapi, juga mampu membuka peluang kerja bagi kelompok masyarakat lainnya,” ujarnya.
Selain orasi ilmiah dari Prof. Tuhpawana, dalam acara ini juga disampaikan Orasi Ilmiah Guru Besar Purnabakti oleh Prof. Dr. H. Sadeli Natasasmita, Ir. yang berjudul “Pengendalian Nematoda Sista Kuning, Globodera rostochiensis WOLL pada Tanaman Kentang”. Prof. Sadeli mengungkapkan bahwa Nematoda Sista Kuning (NSK) dapat menurunkan produksi kentang hingga 70%. Disamping itu telur nematoda ini dapat bertahan hingga 30 tahun.
Prof. Sadeli yang juga pernah menjabat sebagai Dekan Faperta Unpad (1998-2001 dan 2002-2006) ini menuturkan bahwa penelitian mengenai pengendalian NSK sampai saat ini masih terbatas. Beberapa penelitian yang telah dilakukan di Laboratorium Nematologi Tanaman Fakultas Pertanian Unpad adalah sanitasi bibit detoksifikasi NSK, penjemuran bibit kentang, perendaman bibit kentang di dalam chlorox, perendaman dengan air rendaman kayu, pengendalian nematoda dengan chitin, penanaman tagetes erecta, dan penanaman crotalaria striata. *
Laporan oleh: Artanti Hendriyana *
