Pelajari Sistem Pengelolaan Sampah, Wali Kota Tanjungpinang Kunjungi UPT Pengelolaan Lingkungan Kampus Unpad

Wali Kota Tanjungpinang, H. Lis Darmansyah (kiri) beserta rombongan didampingi Kepala UPT Pengelolaan Lingkungan Kampus Unpad, H. Yayan Sumekar, S.P., M.P., (kanan) saat mengunjungi kampus Unpad, Selasa (9/12) di Gedung Rektorat Unpad Kampus Jatinangor (Foto oleh: Arief Maulana)*

[Unpad.ac.id, 9/12/2014] UPT Pengelolaan Lingkungan Kampus Unpad menerima kunjungan dinas Wali Kota Tanjungpinang Kepulauan Riau, H. Lis Darmansyah, S.H. Kunjungan diterima secara resmi oleh Kepala UPT Pengelolaan Lingkungan Kampus Unpad, H. Yayan Sumekar, S.P., M.P., di Ruang Rapat Bersama Gedung Rektorat Unpad Kampus Jatinangor, Selasa (9/12).

Wali Kota Tanjungpinang, H. Lis Darmansyah (kiri) beserta rombongan didampingi Kepala UPT Pengelolaan Lingkungan Kampus Unpad, H. Yayan Sumekar, S.P., M.P., (kanan) saat mengunjungi kampus Unpad, Selasa (9/12) di Gedung Rektorat Unpad Kampus Jatinangor (Foto oleh: Arief Maulana)*
Wali Kota Tanjungpinang, H. Lis Darmansyah (kiri) beserta rombongan didampingi Kepala UPT Pengelolaan Lingkungan Kampus Unpad, H. Yayan Sumekar, S.P., M.P., (kanan) saat mengunjungi kampus Unpad, Selasa (9/12) di Gedung Rektorat Unpad Kampus Jatinangor (Foto oleh: Arief Maulana)*

Dalam kesempatan tersebut, Lis didampingi perwakilan pejabat Pemkot Tanjungpinang ingin mengetahui lebih jauh mengenai sistem pengelolaan sampah di Unpad. “Kita ingin melihat sistem pengelolaan sampah secara sederhana di Unpad, yang mungkin bisa diterapkan di Kota Tanjungpinang,” ujar Hamalis, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Tanjungpinang.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan yang dilakukan oleh Yayan. Dalam pemaparannya, Unpad menganut zero waste concept untuk pengelolaan sampah. Sampah dipilah berdasarkan sifat hayatinya. Untuk sampah kering dari limbah kantin dan ternak dilakukan pencacahan dan diproses secara aerob mnenjadi pupuk kompos.

Untuk sampah organik basah dan limbah cair dilakukan proses anaerob sehingga menghasilkan pupuk cair dan biogas. Biogas ini dapat digunakan sebagai bahan bakar laboratorium dan penerangan jalan di Unpad.

Smeentara untuk sampah plastik dan botol, proses yang dilakukan adalah memasukannya ke mesin crusher untuk menjadi bijih plastik. Bijih plastik ini akan ditampung dan siap diekspor. Menurut Yayan, saat ini telah ada eksportir yang tertarik dengan bijih plastik yang dihasilkan Unpad.

Meskipun telah menjadi produk siap guna, Yayan mengaku sampah-sampah tersebut masih mengandung residu yang cukup tinggi. Untuk itu, pihaknya bekerja sama dengan Bumiresik melakukan penelitian mengurangi angka residu tersebut melalui alat bernama incinerator.

Alat yang dikembangkan oleh Ir. Djaka Winarso, Direktur Utama Bumiresik, beserta timnya ini diakui dapat membakar sampah sekitar 50 kubik/hari atau setara 15 ton/hari. Untuk itu, Yayan merencanakan alat ini juga akan digunakan untuk membakar sampah organik dari masyarakat sekitar Unpad.

Incinerator ini ternyata kalau mengandalkan sampah di Unpad akan kekurangan bahan baku. Kita rencanakan lakukan kerjasama dengan PD Kebersihan Sumedang dan Jatinangor. Sampah dari masyarakat umum dan supermarket mudah-mudahan bisa kita terima,” jelas Yayan.

Melalui sistem yang diterapkan Unpad, Lis berharap dapat berkontribusi mengatasi permasalahan sampah kota yang berpenduduk 230 ribu jiwa tersebut. “Kita harapkan akan ada kerja sama baik untuk menerapkan teknologi pengolahan sampah yang telah diterapkan Unpad di Kota Tanjungpinang,” ujarnya.*

Laporan oleh: Arief Maulana / eh

Share this: